Berita » Respons Positif Petani Deli Serdang terhadap Varietas Unggul Baru

Tim Balitbangtan telah mengadakan PRA di Deli Serdang sebagai dasar penyusunan Laboratorium Lapang Inovasi Teknologi Pertanian yang akan di bangun di Desa Sumber Rejo, Kecamatan Pager Marbau, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Tim terdiri dari lintas disiplin dan komoditas yang dipimpin oleh Ibu Ir. Sulusi MS dari Pusat Penelitian Hortikultura, dengan anggota Dr. Bambang dari PSE, Dr. Rudi Suhendi dari Balithi, Dr. Liverdi dari Balitsa, Prof. Dr. Marwoto dari Balitkabi, serta peneliti dan penyuluh BPTP Sumatera Utara. PRA dilaksanakan dari tanggal 28 April 2015 sampai dengan tanggal 2 Mei 2015. Hasil PRA yang paling menonjol adalah respon petani terhadap varietas unggul yang di keluarkan oleh Balitbangtan baik varietas padi maupun kedelai sangat baik. Namun sosialisasi varietas unggul masih belum banyak di ketahui oleh petani. Sejarah pola tanam juga mengalami perubahan yang dulunya padi – padi (padi lokal, umur panjang sekitar 5–6 bulan), dengan ditemukan varietas unggul padi berumur genjah (3–4 bulan) seperti PB 5, PB 8, IR 26, IR 36, IR 42, IR 64 dan varietas baru sekarang maka pola tanam berubah menjadi pola padi–padi–padi. Dengan pola tanam padi terus-menerus selama beberapa waktu akhirnya menimbulkan masalah baru yaitu terjadinya ekplosif hama padi (wereng, tungro, ganjur) dan menyebabkan puso. Dengan kesadaran petani akan musibah hama dan penyakit, maka petani mengambil keputusan untuk memutus siklus hama dengan merubah pola tanam menjadi kedelai–padi–padi. Masyarakat petani setempat memiliki kemauan untuk merubah tradisi menjadi lebih baik dengan usaha untuk meningkatkan penghasilan melalui inovasi teknologi baru. Oleh karena itu adanya peningkatan teknologi melalui penyuluhan, demonstrasi, pelatihan yang di kemas dalam Laboratorium Lapang Inovasi Teknologi Pertanian di lahan sawah yang di integrasikan dengan ternak sangat diharapkan. Hingga kini petani hanya mengenal varietas kedelai Anjasmoro dan Grobogan, dimana yang paling diminati adalah varietas Anjasmoro. Varietas padi masih didominasi varietas Ciherang, dan belum banyak yang mengenal Inpari. Hasil observasi lapang tentang teknologi yang diterapkan, memang masih diperlukan sentuhan teknologi melalui pengenalan varietas baru tanaman kedelai dan padi, teknik bercocok tanam, pengendalian hama dan penyakit, sistem produksi benih untuk mendorong program mandiri benih, dan pasca panen. Berdasarkan hasil diskusi terungkap beberapa masalah diantaranya adalah harga kedelai di tingkat petani, pada saat panen awal harga bisa mencapai Rp7.000,-/kg, selang satu minggu menjadi Rp. 6.000,- dan kondisi saat pendampingan Rp 5.000,-/kg. Harga kedelai belum pernah mencapai harga HPP yang di tetapkan saat ini yaitu Rp 7.600,-/kg. Demikian juga harga padi pada saat panen harganya jatuh. Posisi petani lemah dalam menentukan harga, khususnya harga kedelai. Jika tidak ada jaminan pasar dan harga maka kemungkinan besar petani akan meninggalkan kedelai dan akan pindah ke komoditas jagung. Pedagang pengepul sangat menentukan penyaluran hasil panen. Petani memproses pembijian dan pengepakan dalam karung dan di antar ke pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul yang menentukan harga dan petani tidak mempunyai harga tawar.


Gambar 1. Diskusi budidaya kedelai dan padi di Kelompok Tani Dirgantara, Desa Sumber Rejo, Kecamatan Marbau, Deli Serdang (29 April 2015).


Gambar 2. Kondisi pertanaman kedelai di lapangan, perlu sentuhan teknologi

Prof. Marwoto