Berita » “Revolusi Singkong” Dideklarasikan di Malang

“Revolusi Singkong” di Indonesia disepakati di Malang pada acara International Workshop on Cassava (IWoC) pada tanggal 10 Maret 2015, tepatnya di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Tema workshop kali ini adalah An Effort of Increasing Cassava Production and the Food Processing Industry Development.

Gagasan tentang “Revolusi Singkong” ini disampaikan oleh Dr. Bayu Krisnamurti, yang pada acara ini sebagai keynote speaker. Gagasan tersebut disampaikan atas dasar kebutuhan nasional ubikayu (Jawa: “Singkong”) terutama untuk bahan baku industri, sangat besar untuk berbagai produk turunan dari tapioka.

Beberapa contoh kegunaan dari tapioka antara lain untuk: industri kertas, industri tekstil, industri lem, industri pasta gigi, industri kosmetik, industri makanan dan minuman. Dicontohkan, kebutuhan bahan baku untuk pemanis (sweetener) saja mencapai 600‒700 ton/tahun, dan kebutuhan tapioka akan terus bertumbuh di masa-masa mendatang.

Fakta tersebut membuktikan bahwa singkong merupakan komoditas penting (selain padi, jagung, kedelai, tebu, dll.) yang perlu diprioritaskan oleh pemerintah. Indonesia menduduki urutan ke 3 setelah Nigeria dan Thailand dalam hal produksi ubikayu, yakni Nigeria 54,0 juta ton, Thailand 30 juta ton, dan Indonesia 23,9 juta ton.

Produktivitas ubikayu di Indonesia saat ini masih di bawah Thailand, yakni 20 t/ha berbanding 22 t/ha. Workshop diikuti sekitar 125 orang peserta dari berbagai Dinas/Instansi Pemerintah, pelaku industri berbahan baku ubikayu, dan beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia (IPB Bogor, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Widyagama Malang, Universitas Trunojoyo Sampang, dan Universitas Sebelas Maret Solo).

Pada sesi pertama disampaikan tiga makalah yakni oleh:

  1. Dr. Sholihin, dari Balitkabi-Malang
  2. Dr. Erwin, dari PT. Sungai Budi Group, dan
  3. Prof. Dr. Bambang Guritno, dari Universitas Brawijaya. Pada sesi kedua dipresentasikan lima makalah (semuanya oleh narasumber dari Thailand).

Dari presentasi para narasumber, beberapa hal dapat dicatat di sini, antara lain :

  1. Pendapat bahwa tanaman ubikayu rakus unsur hara ternyata tidak sepenuhnya benar
  2. Usahatani ubikayu cukup menguntungkan dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani karena ubikayu mudah dibudidayakan, usahatani ubikayu membutuhkan tenaga kerja sedikit, dan tanaman ubikayu hampir tidak pernah mengalami gangguan hama/penyakit
  3. Diperlukan aksi nyata berupa gerakan menanam ubikayu secara terprogram dan dikelola secara baik dalam rangka menjaga stabilitas harga ubikayu di tingkat petani dan pasokan bahan baku (ubikayu) kepada pabrik/industri secara stabil dan berkelanjutan
  4. Menghasilkan/melepas varietas ubikayu berkadar pati tinggi dan menghasilkan teknologi budidaya untuk meningkatkan produktivitas ubikayu merupakan kegiatan riset yang sangat penting dan perlu terus dilakukan
  5. Penyediaan bibit bermutu tinggi (vigor tinggi dan bebas penyakit) merupakan bagian yang sangat penting bagi suksesnya pengembangan ubikayu, dan
  6. Peluang pasar ubikayu masih sangat besar, berdasarkan fakta bahwa permintaan lebih besar dari penyediaan; ditambah lagi adanya Kepres RI No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumberdaya energi alternatif.

13-3-15(2)a

Lima narasumber dari Thailand sedang menjawab pertanyaan dari peserta Workshop. Prof. Dr. Nuhfil Hanani, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, pada acara ini menyatakan akan berkoordinasi dengan berbagai pihak, terutama yang terkait dengan komoditas ubikayu, untuk memulai menggerakkan program aksi penanaman 20.000 ha pada tahun ini di Jawa Timur.

Dekan Faperta Univ. Brawijaya Malang, Prof. Dr. Nuhfil Hanani (nomor tiga dari kiri), berfoto bersama dengan peserta Workshop dari Balitkabi (dari kiri ke kanan): Prof. Dr. Nasir Saleh, Ir. Fachrur Rozi MS., Dr. Didik Harnowo (Kepala Balitkabi), Dr. Heriyanto, Ir. Ruly Krisdiana MS., dan Dr. Solihin.

Dekan Faperta Univ. Brawijaya Malang, Prof. Dr. Nuhfil Hanani (nomor tiga dari kiri), berfoto bersama dengan peserta Workshop dari Balitkabi (dari kiri ke kanan): Prof. Dr. Nasir Saleh, Ir. Fachrur Rozi MS., Dr. Didik Harnowo (Kepala Balitkabi), Dr. Heriyanto, Ir. Ruly Krisdiana MS., dan Dr. Solihin.

Prepared by: Didik Harnowo/March 10, 2015