Berita » Rindu Petani Ubi Kayu Pronojiwo pada VUB yang Menguntungkan

Temu lapang Pengembangan Ubi kayu Kelompok Tani Sumberurang, Sidomulyo, Kec. Pronojiwo

Temu lapang Pengembangan Ubi kayu Kelompok Tani Sumberurang, Sidomulyo, Kec. Pronojiwo

Kecamatan Pronojiwo sempat menjadi penghasil utama ubi kayu di Kabupaten Lumajang. Di daerah tersebut terdapat dua pabrik tepung tapioka (pati ubi kayu), yaitu PT Insakas Surya Intan dan Intaf II. Turun harga sering terjadi pada saat panen raya, karena pasokan melimpah, sehingga harga anjlok dan petani merugi. Tidak heran jika ubi kayu Pronojiwo terpinggirkan oleh salak pondoh yang lebih menjanjikan keuntungan tinggi serta dapat dipanen secara bertahap.

Pada saat ini harga ubi kayu relatif tinggi, lebih dari Rp. 120.000 bahkan sampai Rp. 200.000,- per kuintal. Harga yang bagus menggiurkan petani untuk menanamnya kembali. Hal ini terlihat dari pertanaman ubi kayu yang cukup luas dibandingkan tahun kemarin dan beragam umurnya di sepanjang jalan daerah Dampit menuju Lumajang.

Memfasilitasi minat petani untuk berusahatani ubi kayu maka Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Kasi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi dalam programnya memberikan bantuan biaya dan sarana produksi. Kelompok Tani Sumberurang, Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo adalah salah satu kelompok yang mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan program tersebut. Tahun 2019 adalah tahun kedua pelaksanaan program.

Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui temu lapang yang diselenggarakan pada area lahan kelompok tani pelaksana. Istimewanya temu lapang yang berlangsung pada tanggal 22 November 2019 adalah kehadiran Direktur PT Insakas Surya Intan (Sutanto Gunawan). Dalam pengantarnya, Kusworo, S.P., M.Agr (Kasi Akabi Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur), menyatakan bahwa komoditas umbi-umbian seperti ubi kayu dan ubi jalar akan diberdayakan kembali dan diangkat citranya menjadi bahan pangan fungsional untuk mengurangi konsumsi beras.

Topik diskusi antara petani dan narasumber meliputi varietas unggul baru dan kepastian harga jual. Diinformasikan oleh petani bahwa varietas ubi kayu yang sudah lama dibudidayakan petani Pronojiwo adalah Kaspro dan Faroka, rasa umbi kedua varietas tersebut pahit sehingga tidak enak untuk konsumsi langsung. Petani menginginkan varietas baru yang lebih menguntungkan. Dipaparkan oleh narasumber dari Balitkabi, Tinuk Sri Wahyuni, S.P., M.P. bahwa saat ini sudah tersedia 14 varietas unggul ubi kayu yang beragam karakteristiknya. Varietas unggul yang bibitnya tersedia di Balitkabi dengan karakteristik warna daging umbi putih, kadar pati tinggi tetapi rasa umbinya pahit berturut-turut dimulai dari yang terbaru, adalah Vati 1, Vati 2, Litbang UK2, Malang 6, Malang 4, UJ 3, UJ 5 dan Adira 4. Sedangkan yang berumbi kuning dan enak tetapi berserat jika dipanen pada umur lebih dari 10 bulan adalah Adira 1. Varietas ini pada umumnya dijadikan tape. Adapun varietas Malang 1 (umbi putih kekuningan) dan UK 1 Agritan (umbi putih) selain kadar pati tinggi rasa umbinya juga enak (tidak pahit). Varietas yang sudah tersedia dapat diuji coba daya hasilnya, dan dipilih yang cocok (adaptif) untuk dikembangkan.

Masalah seputar teknis budidaya seperti, hama dan pemupukan juga muncul dalam ajang diskusi. Hama yang sering menyerang adalah ‘embug’, yaitu larva kumbang tanduk (hama utama tanaman kelapa). Efisiensi penggunaan pupuk organik juga menjadi topik menarik dalam diskusi. Permasalahan tersebut sebenarnya sudah sering dibahas dalam kelompok dengan panduan teknis dari petugas (PPL).

Berkurangnya luas panen menyebabkan pasokan ubi kayu ke pabrik pati berkurang. Oleh karena itu pabrik mendatangkan bahan baku dari luar daerah, bahkan impor dari Thailand. Hal ini mengakibatkan biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan menjadi lebih tinggi. Menurut Direktur PT Insakas Surya Intan (Sutanto Gunawan), ubi kayu Pronojiwo memiliki kualitas bagus karena berkadar pati tinggi. Dikatakan Sutanto, jika perusahaannya menyukai pasokan ubi kayu dari petani sekitar. Agar tidak terjadi kasus panen raya dan turun harga, diperlukan perencanaan dan penjadwalan waktu tanam (panen). Pihak perusahaan sudah membuka pintu komunikasi dengan petani sekitar. Dengan komunikasi yang baik akan terjalin kerjasama yang saling menguntungkan.

Foto bersama usai temu lapang dengan kelompok tani Sumberurang,  Desa Sidomulyo, Kec. Pronojiwo, Kab. Lumajang

Foto bersama usai temu lapang dengan kelompok tani Sumberurang, Desa Sidomulyo, Kec. Pronojiwo, Kab. Lumajang

TSW