Berita » Riset dan Inovasi Pengembangan Kawasan Akabi Berbasis Korporasi Menyongsong Era Industri 4.0

drnSalah satu tugas DRN (Dewan Riset Nasional) adalah merumuskan kebutuhan Riset dan Iptek sekaligus melakukan pemantauan perkembangannya guna mendorong kemajuan bangsa. Komtek Pangan dan Pertanian, yang merupakan bagian dari DRN, berkunjung ke Malang dalam rangka “FGD Program Riset dan Inovasi Pengembangan Kawasan Aneka Kacang dan Umbi Berbasis Korporasi”. FGD dilaksanakan di Balitkabi-Balitbangtan pada tanggal 8 November 2018, diikuti perwakilan Perguruan Tinggi Negeri se Jawa Timur, Dinas Pertanian Provinsi Jatim dan Kabupaten/Kota se Jatim, UPT Balitbangtan se Malang Raya (Balitkabi, Balitjestro, Balittas, BPTP Jatim, dan Lolit Sapi Potong), stakeholder, dan peneliti, dengan jumlah peserta sekitar 150 orang.

Empat topik yang dipresentasikan pada FGD kali ini yakni : (1) Program Riset dan Inovasi Teknologi Akabi Berbasis Kawasan dan Korporasi Petani oleh Kepala Balitkabi oleh Kepala Balitkabi, Dr. Yuliantoro Baliadi, (2) Pertanian di Era Industri 4.0: Memahami dan Menyusun Strategi Adaptasi dan Transformasi oleh Ketua Komtek Pangan dan Pertanian DRN, Dr. Haryono, (3) Prioritas Riset Nasional (PRN) Bidang Pangan dan Pertanian 2020−2024 oleh Sekretaris DRN, Dr. Iding Chaidir, dan (4) Inovasi Biodiversitas oleh Ketua DRN, Dr. Bambang Setiadi. Acara FGD dipandu oleh pemulia handal komoditas kedelai Balitkabi yang juga merupakan motor penggerak PUI Akabi, Dr. M. Muchlish Adie.

Dalam melaksanakan tugasnya, Balitkabi telah bekerja dengan basis korporasi dan kawasan. Hal tersebut yang disyaratkan dalam Era Revolusi Industri 4.0 bahwa saat ini sudah bukan jamannya lagi hidup sendiri. “Sudah waktunya kita melakukan sinergitas, karena sulit untuk bekerja sendiri, sehingga korporasi menjadi tuntutan.”, kata Muchlish, di sela-sela memandu acara. Dan dipertegas lagi, “Sudah bukan jamannya lagi kita hidup sendiri”, kata Yuliantoro. Beberapa mitra yang telah bekerjasama dengan Balitkabi diantaranya adalah Perguruan Tinggi, lembaga penelitian (Batan, LIPI), dan pihak swasta (Monsanto, Syngenta, Prisma, PT AIM, CV SEMI, Penangkar Benih, Pengrajin tempe-tahu, Roti Boss, Bakpao Telo). Kegiatan penelitian dan pengembangan dilaksanakan secara terpadu dalam kerangka litkajibangdiklatluhrap dengan berorientasi scientific dan impact recognition melalui penguatan SIN (Science Innovation Networks). Memasuki era Revolusi Industri dan juga Pertanian 4.0, Balitkabi telah melakukan rintisan antara lain membuat aplikasi Sytector (Soybean Nutrient Detector) dan SIWAKA (Model Simulasi Swasembada Kedelai Berbasis Web).

drn1

Mengawali paparannya, Haryono mengatakan Balitkabi telah mengalami kemajuan luar biasa. “Saya tidak menduga bahwa Balitkabi telah bergerak demikian maju dalam menghadapi Era Revolusi Industri 4.0,” kata Haryono. Revolusi Industri pada dasarnya bermakna perubahan yang terjadi pada manusia dalam melakukan proses produksi. Revolusi Industri 1.0 dimulai tahun 1784, ditandai dengan ditemukannya mesin uap (steam engine). Saat ini kita sudah memasuki Era Industri 4.0 yang dicirikan dengan penyesuaian produksi barang dan jasa secara massal dan efisien melalui cyber-physical systems, Teknologi kunci pada Era Industri 4.0 antara lain : Internet of Thinks (IoT), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta Wearable, Advanced Robotics, Cloud Computing, Big Data Analytic, dan Digital Printing, termasuk open science dan open innovation.

Sejalan dengan revolusi industri, dunia pertanian juga mengalami revolusi dari Pertanian 1.0, yang dicirikan dengan semi mekanisasi pertanian (menggunakan tenaga ternak), ke Pertanian 4.0 yang dicirikan antara lain dengan penggunaan alsintan modern dan pertanian terkoneksi (connected farming). Di beberapa negara maju yang telah memiliki teknologi canggih dan pendanaan kuat, serta alasan keterbatasan tenaga kerja, maka Pertanian 4.0 sukses diterapkan karena sudah merupakan kebutuhan. Di Indonesia, implementasi Pertanian 4.0 baru terealisir pada subsektor perkebunan kelapa sawit yang besar, sedangkan pada subsektor tanaman pangan, untuk menuju implementasi Pertanian 4.0 masih memerlukan dukungan infrastruktur produksi secara lebih masif dan jaringan komunikasi yang lebih memadai.

Dr. Iding Chaidir selaku Sekretaris DRN menjelaskan bahwa DRN beranggotakan 63 orang terdiri dari akademisi, pebisnis, dan pihak pemerintah. “Fungsi DRN adalah membantu Ristekdikti dan Litbang untuk maju bersama-sama,” kata Iding. “Problem kita saat ini adalah bagaimana menghilirkan hasil inovasi yang dihasilkan bermanfaat dan dapat menumbuhkan ekonomi,” lanjutnya.

Paparan terakhir disampaikan oleh Ketua DRN, Dr. Bambang Setiadi, sosok humoris dengan gaya bicara yang ceplas ceplos. “Mengapa inovasi (maha) penting?” tanya Bambang. Karena inovasi merupakan hasil invensi dan komersialisasi. “Mengapa ada negara yang melesat inovasinya?” tanya Bambang lebih lanjut. Hal tersebut karena negara tersebut memiliki dana yang sangat cukup untuk melakukan inovasi, membuat roadmap, dan memiliki indikator.

Pemerintah melalui DRN menetapkan sembilan bidang Prioritas Riset Nasional (PRN) yaitu: (1) Pangan, (2) Energi, (3) Kesehatan, (4) Transportasi, (5) Produk rekayasa keteknikan, (6) Pertahanan dan keamanan, (7) Kemaritiman, (8) Sosial Humaniora, dan (9) Bidang riset lainnya. Tahun 2020-2024, pemerintah telah menyusun rencana PRN bidang Pangan dan Pertanian yaitu: (1) Pengembangan teknologi produksi, pascapanen, pengolahan, dan distribusi pangan dan hortikultur strategis termasuk kedelai dan pangan lokal strategis, (2) Pengembangan teknologi produksi, pascapanen, pengolahan, dan distribusi produk perkebunan dan kehutanan berorientasi ekspor, (3) Pengembangan teknologi produksi, pascapanen, pengolahan, dan distribusi peternakan dan perikanan berorientasi ekspor, (4) Perekayasaan alsintan dan teknologi digital untuk peningkatan produktivitas pangan dan pertanian menuju Industri 4.0, dan (5) Penguatan kebijakan, kelembagaan, tata kelola sumberdaya dan dampak perubahan iklim terhadap produksi pertanian. Dalam perencanaan yang disusun tersebut, pemerintah telah mempersiapkan diri menghadapi pertanian di Era Industri 4.0.

Bahan tayang 1: Program riset dan Inovasi Akabi

Bahan tayang 2: Pertanian di Era Industri 4.0

Bahan tayang 3: Prioritas Riset nasional bidang Pangan.

KN