Berita » Rombongan Kelompok Tani Tuban Berlatih Pangan Olahan di Balitkabi

Salah satu pilar sukses diversifikasi/penganekaragaman pangan adalah pemanfaatan bahan pangan lokal yang tersedia cukup melimpah seperti umbi-umbian, sukun, dan juga sagu. Bahan pangan lokal sementara ini harganya seringkali jatuh akibat panen raya. Pengolahan bahan lokal menjadi pangan olahan selain mendukung diversifikasi juga merupakan salah satu solusi. Diversifikasi juga harus mampu meningkatkan nilai gizi, ekonomi, dan daya tarik konsumen. Dan itu memerlukan sentuhan inovasi. Untuk itulah rombongan dari Kab Tuban yang berjumlah 50 orang berlatih di Balitkabi pada Kamis (23/01). Mereka terdiri dari Kelompok Wanita Tani (KWT), PKK, dan Pengrajin Jajanan dengan pendamping Penyuluh Pertanian (PPL) dan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kab Tuban.
Para peserta diberi penjelasan oleh Ir. Erliana Ginting, MSc, Peneliti Pangan Balitkabi, tentang varietas unggul ubijalar, ubikayu dan umbi-umbi potensial lainnya serta aneka produk olahannya. Di antara varietas ubijalar, Sari paling genjah umurnya, 3,5 bulan, warna daging kuning dan hasil 32 ton/ha. Dalam paparan, Bu Erli menekankan prinsip diversifikasi pangan, yaitu: (1) Aneka olahan dari umbi-umbian harus tampil cantik/menarik seperti aneka olahan yang terbuat 100% terigu, (2) Rasa harus enak, dan (3) Menggunakan teknologi dan alat yang sederhana. Selepas penjelasan di kelas, peserta yang sebagian besar ibu-ibu, langsung menikmati aneka produk olahan: bola-bola cassava, stick mocaf, tiwul instan, singkong keju, cake tape, dan wingko yang semuanya terbuat dari ubikayu; lidah kucing, sweetpotato chochochip, sweetpotato stick, es krim, selai, onde-onde, kue mangkok, mie yang berbahanbaku ubijalar. Di samping itu juga disuguhkan kue semprit dari garut dan DC kres serta bitterbalen yang berasal dari mbote. Lalu peserta diajak langsung praktik membuat aneka olahan berbahan umbi-umbian. Produk yang dibuat adalah es krim ubijalar, onde-onde ubijalar, martabak manis ubijalar, brownies ubikayu, cassava blanca, mie mbote, dawet ganyong. Mereka juga diajari membuat sawut dan tepung sebagai salah satu bahan untuk mengawetkan umbi-umbian sebelum diproses menjadi pangan bergizi. Praktik ini dipandu oleh Staf Lab Pangan Balitkabi yaitu Rahmi Yulifianti STP, Suprapto SP, Ismiyati SP, Lina Kusumawati S.Si, yang dibantu oleh Ibu Ninik Sriwahyuni. Pascapraktik mereka bersama-sama menyantap aneka kue lezat yang sudah matang, karyanya sendiri. Celetukan pun muncul. “Ternyata kue dari umbi-umbian enak rasanya, apalagi mie goreng dari mbote, rasanya mak nyus”, kesan bapak-bapak. Di awal penerimaan, Achmad Winarto yang mewakili Kepala Balitkabi memberikan penjelasan ringkas tentang Balitkabi. Setiap akhir kunjungan, menurut Pak Win, peserta mendapat lembaran angket untuk diisi. Peserta diminta mengisi kuisioner sesuai dengan kenyataan, tidak perlu sungkan. Biasanya, karena kesungkanan, jawaban angket bagus semuanya. “Itu tidak bagus, bahkan justru tidak membangun, karena kami tidak tahu apa yang harus diperbaiki”, pesan Pak Win. Badan Ketahanan Pangan Tuban sudah beberapa kali berkunjung dan memberi pelatihan untuk kelompok tani di Balitkabi. “Ini rombongan ketiga” tutur Ir. Ahmad Sofan Jamil, ketua rombongan dari Badan Ketahanan Pangan Tuban. Beliau berharap pelatihan ini banyak membawa berkah, dapat mendorong lahirnya pioner-pioner diversifikasi pangan sehingga ketahanan pangan di Indonesia akan semakin kuat.Nur/AW