Berita » Rusman Heriawan Wakil Menteri Pertanian Pacu Petani Jember untuk Menanam Kedelai

wamen_1

Wakil Menteri Pertanian Dr. Rusman Heriawan beserta rombongan melakukan safari kunjungan kerja (KUNKER) ke PTPN 11, temu lapang dengan kelompok tani di Desa Sukorejo, Kecamtan Bangsalsari Kabupaten Jember dan diakhiri dengan kuliah umum Bapak Wakil Menteri  Pertanian dalam rangka pengukuhan tiga Guru Besar yaitu Prof. Dr. Bambang Sugiharto, Prof. Dr. Joko Waluyo, MSi dan Prod. Dr. Achmad Subagio di Univeristas Jember (UNEJ).   Sebelum Bapak Wamentan memberikan kuliah umum dengan topik “Peran Perguruan Tinggi dalam Pembangunan Pangan dan Pertanian Indonesia”, beliau berkesempatan mengunjungi kelompok tani yang sedang melakukan pembelajaran di Laboratorium Lapang SLPTT kedelai yang  dipandu oleh THL setempat.  Bapak Wamentan di tengah-tengah petani SLPTT kedelai mengemukakan bahwa produksi kedelai nasional  untuk semester dua 2012 ini baru mencapai sekitar 750 t, sementara itu kebutuhan target yang dicanangkan pada tahun 2012 adalah 1,9 juta ton. Oleh karena itu, kekurangan kedelai dalam negeri hingga kini mencapai 66% yang harus dipenuhi dari impor terutama dari Amerika. Musibah kekeringan yang terjadi Amerika menyebabkan pasokan kedelai di Indonesia menjadi berkurang dan harga kedelai pada bulan lalu mencapai Rp8.000 per kg.  Kejadian ini merupakan moment terbaik bagi petani untuk menanam kedelai, untuk dapat meningkatkan produksi kedelai. Namun pada saat panen raya sekarang harga kedelai anjlok lagi hanya Rp.6.000 sela ketua Gapoktan Desa Sukorejo. Kekawatiran timbul dari para petani bahwa pada masa panen yang terjadi sebulan mendatang harga kedelai  akan mengalami kepurukan seperti tahun lalu, yaitu hanya Rp4.500, di Jember dan sekitarnya. Pernyataan ini timbul saat diskusi tanya jawab antara kelompok tani dengan Bapak Wamentan yang dipandu oleh Bapak Kepala dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur Bapak Ir Wibowo Eko Putro MM.  Bapak Rusman mengatakan bahwa untuk memperbaiki stabilitas harga kedelai pada tahun mendatang, pemerintah akan menentukan harga dasar (HPP) seperti  yang terjadi pada komoditas padi, merevitalisasi kelembagaan sistem perbenihan di negeri ini,  dan memberikan bantuan benih kedelai dalam bentuk PSO (Public Supplier Obligation) dan menghapus BLBU.   Wamentan, menegaskan bahwa sistem BLBU masih menemui banyak kelemahan sehingga harus dibenahi karena kualitas benih yang diberikan kepada petani mengalami kemerosotan. Hal ini disebabkan benih yang disalurkan sering mangalami keterlambatan waktunya. Kelambatan distribusi benih kacang-kacangan terutama kedelai akan menyebabkan penurunan vaibilitas (daya kecambah) benih hingga 80%, karena biji kedelai tidak tahan lama dalam penyimpanan (hanya 3 bulan) terutama kondisi alat simpan yang kurang baik. Bangsalsari, merupakan salah satu kecamatan yang memiliki pertanaman kedelai cukup luas di antara Kecamatan yang lain di Kabupaten Jember. Beliau sangat mengharapkan kepada para petani untuk lebih giat lagi menanam kedelai untuk memenuhi kekurangan kebutuhan kedelai. Hal ini disebabkan Kabupaten Jember merupakan salah satu sentra produksi kedelai terbesar di Jawa Timur selain, Banyuwangi, Madiun, dan  Malang.  Di akhir pertemuan harapan dari para kelompok tani di Kabupaten Jember adalah bantuan benih dari pemerintah mohon dilanjutkan terus.

Proses pembelajaran kelompok tani kedelai yang dipandu THL

Diskusi Wamentan di damping Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur, Rektor Universitas  Jember, Peneliti dan Penyuluh dengan para Kontak Tani