Berita » Sawah Tadah Hujan dan Lebak Dangkal sebagai Sasaran bagi Peningkatan Luas Tanam Kedelai di Kalsel

Provinsi Kalimantan Selatan, sesuai data produksi kedelai tahun 2014 merupakan provinsi penghasil kedelai urutan ke-11 di Indonesia, sehingga diharapkan ada konstribusi yang semakin besar guna mendukung Pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan produksi kedelai nasional menuju target berswasembada kedelai tercapai pada tahun 2017.

Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah melakukan Upaya Khusus (Upsus) pengembangan tanaman kedelai, yang sebagian upayanya adalah “Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT)” serta “Perluasan Areal Tanam (PAT)” dan Peningkatan Indeks Pertanaman (PIP)” kedelai.

Khusus untuk PIP kedelai, peluang provinsi Kalimantan Selatan cukup besar, karena di provinsi ini terdapat potensi lahan sawah tadah hujan dan sawah lebak dangkal yang luas, yang pada umumnya hanya dimanfaatkan untuk mengusahakan padi sekali tanam dalam setahunnya, dan setelah panen padi, dalam jumlah terbatas lahan sawah ditanami sayuran dan jagung manis (dipanen muda).

Guna menunjang dan sekaligus sebagai bagian kegiatan untuk menyukseskan Upsus kedelai provinsi Kalimantan Selatan, di kabupaten Hulu Sungai Selatan diadakan “Laboratorium Lapang Inovasi Pertanian (LLIP)”, yang kegiatannya ditujukan utuk mendiseminasikan inovasi teknologi pertanian yang lebih baik dari pertimbangan produktivitas, efisiensi produksi, kualitas produk, dan atau kelestarian sumberdaya pertanian.

Kegiatan LLIP tersebut merupakan kerjasama antara Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Berkenaan dengan kegiatan LLIP tersebut, Prof. Dr. Subandi oleh Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) ditugaskan untuk memenuhi undangan Bapak Kepala Balitbangtan pada acara Tanam Perdana Padi, Jagung, dan Kedelai pada lokasi LLIP di Desa Pakuan Timur Kecamatan Tegal Langsat (Gambar) dan di Desa Kayu Abang Kecamatan Angkinang pada tanggal 15 Juni 2015.

Setelah menghadiri acara tanam perdana, serta mengamati kondisi lapangan di lokasi Desa Pakuan Timur Kecamatan Tegal Langsat, ada beberapa hal penting yang perlu disampaikan dan atau ditindaklanjuti, yaitu:

  • Petani di lokasi kegiatan belum pernah menanam kedelai, oleh karena itu dalam pelaksanaan budidaya kedelai, petani harus dibina serta didampingi secara cukup dan sungguh-sungguh pada setiap tahap kegitan, mulai dari persiapan lahan, tanam, pemeliharaan, panen, hingga prosesing hasil panen.
  • Sistem panen tanaman padi yang panennya dengan cara memotong sekitar sepertiga (1/3) ujung bagian tanaman (malai+sebagian ujung batangnya), dan meninggalkan sekitar 2/3 jeraminya tetap tinggal/berdiri di lapangan, merupakan hal positif bagi pengusahaan kedelai yang ditanam setelah panen padi, sebab jerami padi tersebut setelah dipotong dapat berfungsi sebagai mulsa yang bermanfaat untuk mengurangi serangan hama lalat bibit, menekan pertumbuhan gulma, dan menjaga kelembaban tanah karena mengurangi kecepatan penguapan lengas tanah, serta sumber hara tanaman khususnya Kalium (K) sebab sekitar 89% K yang diserap tanaman padi berada di dalam jerami.
  • Kekurangan tenaga kerja merupakan permasalahan yang dihadapi, sehingga untuk mempercepat penyiapan lahan diperlukan mesin pemotong jerami.
  • Topografi lahan sangat datar, karena itu untuk mengantisipasi genangan atau kelebihan air apabila terjadi hujan susulan, dan sebaliknya apabila diperlukan pengairan karena kelembaban tanah kurang, pada petakan lahan disarankan dibuat saluran berjarak 2,0 – 2,5 m antar saluran, dengan lebar sekitar 25 − 30 cm dan kedalaman saluran 15 − 20 cm, agar kelebihan air cepat teralirkan ke luar, atau air irigasi cepat terdistribusi ke seluruh areal petakan sawah. Dalam pembuatan saluran, untuk menghemat tenaga, dapat dilakukan dengan dibajak menggunakan traktor tangan, bukannya dengan “cangkul” atau “lempak”. Untuk mencapai kedalaman saluran sekitar 15 − 20 cm, pembuatan saluran dilakukan dua kali pembajakan. Apabila karena alasan kekurangan tenaga kerja/biaya, sehingga tidak dapat membuat saluran seperti yang disarankan tersebut, dari rencana areal tanam kedelai di LLIP seluas 9 ha, sebagian kecil areal (0,5 − 1,0 ha) salurannya disiapkan seperti yang disarankan, sedangkan selebihnya disiapkan sesuai kemampuan, agar petani dapat membandingkan dan akhirnya mengerti sehingga akan memilih yang lebih baik.
  • Pertanaman kedelai di areal LLIP yang direncanakan seluas 9 ha potensial akan menghadapi cekaman organisme pengganggu tanaman, khususnya hama pemakan daun, serta pengisap dan penggerek polong, sebab pertanaman berlangsung pada musim kemarau yang panas (suhu udara tinggi), sehingga harus dipantau secara baik dan disiapkan pestisida untuk pengendaliannya.
19-6-15

Tanam kedelai pada acara tanam perdana Padi, Jagung, dan Kedelai di “Laboratorium Lapang Inovasi Pertanian (LLIP)” di Desa Pakuan Timur, Kecamatan Tegal Langsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan pada lahan sawah Tadah Hujan.

Prof. Subandi