Berita » Saya Mantap Memilih Anjasmoro

1-mantapked-3

 

Saya mantap dengan varietas kedelai Anjasmoro”, merupakan pernyataan petani kedelai di Grajagan, Purwoharjo, Banyuwangi yang disampaikan kepada rombongan peneliti Balitkabi, Humas Badan Litbang Pertanian, dan beberapa Media Massa saat mengunjungi pertanaman kedelai yang terhampar di Desa Grajagan, 8 September 2012.

Dulunya petani selalu menggunakan varietas Wilis dan Baluran. Setelah diperkenalkan oleh Balitkabi dua tahun lalu dengan varietas Grobogan, Anjasmoro, Wilis, Kaba, dan Burangrang; petani nampaknya jatuh hati pada varietas Anjasmoro.  Varietas Kaba yang mirip dengan Wilis hasilnya di bawah Anjasmoro. Petani sekarang memang lebih rasional dan kriris, orientasi pertimbangan sangat kompleks, membandingkan dengan komoditas lain, membaca lingkungannya dan terakhir mempertimbangkan nilai keuntungan yang akan diraih.

Memang kenyataannya hamparan varietas Anjasmoro cukup luas di kawasan tersebut.  Cara tanamnya beragam, ditumpangsarikan dengan jagung, dengan lombok, jeruk, juga sebagian ditanam monokultur.  Banyuwangi sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Timur tidak diragukan. Banyuwangi berkonstribusi sebesar 16% terhadap produksi kedelai Jawa Timur, yang pusat arealnya berada di Kecamatan Purwoharjo dan Tegal Dlimo.  Yang menarik luas tanam kedelai di Banyuwangi sebesar 35.875 ha, berkecenderungan meningkat dua tahun terakhir. Penyebabnya serangan hama wereng pada padi, petani beralih ke kedelai, harga kedelai yang mahal terakhir ini, besar kemungkinan akan meningkatkan gairah petani memperluas tanaman kedelai.

Di Grajagan, sebagaian besar petani menerapkan pola tanam padi – kedelai – kedelai.  Disampaikan oleh petani, hasil biji kedelai Anjasmoro pada musim yang lalu mencapai 520 kg untuk seperempat bau (1 bau = 7000 m2).  Indikasi ini menunjukkan bahwa petani telah mampu berbudidaya kedelai untuk meraih hasil di atas 2.50 t/ha.  Harga kedelai yang sering turun saat panen raya memang menjadi kendala.  Namun sebagian besar petani akan tetap memilih tanaman kedelai, alasan praktisnya perawatan kedelai jauh lebih mudah dibandingkan tanaman jagung dan biaya usahatani kedelai hanya setengah daripada jagung.  Diuraikan lebih jauh, kalau jagung setelah panen, mencabut batang jagungnya sulit, memakan biaya mahal, kalau kedelai tinggal dibabat dibiarkan atau di bakar di sawah, atau dibuat pakan, sangat mudah.

Betul juga….


Hamparan kedelai varietas Anjasmoro di Grajagan menunggu saat panen (kiri) dan Peneliti Balitkabi berdiskusi dan menyampaikan
teknologi kepada petani (kanan).


Anjasmoro pilihan saya, karena hasilnya lebih tinggi (kiri) dan melihat pertumbuhan seperti ini, diperkirakan hasilnya 2.70 t/ha (kanan).