Berita » Semangat Cinta Pangan Lokal dalam Patung Ubi Kayu

Patung Ubi Kayu di Balitkabi

Patung Ubi Kayu di Balitkabi

Menapaki area Kantor Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) di Malang disambut teduh dan rindangnya pepohonan langka bahkan ada yang berumur lebih dari 20 tahun. Gedung berbentuk khas memanjang bercat hijau segar dengan banyak pintu ini telah beberapa kali mengalami renovasi, bangunan pertama kali dibangun pada tahun 1968 dengan nama Lembaga Pusat Penelitian Pertanian (LP3) perwakilan Jawa Timur. Tahun 1980 menjadi Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balittan), dan tahun 1994 mendapat mandat untuk menangani penelitian komoditas tanaman kacang dan umbi dengan nama Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), yang kemudian pada tahun 2013 melalui Peraturan Menteri Pertanian No. 23/Permentan/OT.140/3/2013, berubah nama menjadi Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi yang disingkat tetap Balitkabi. Balitkabi mempunyai mandat komoditas kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar, serta kacang dan ubi potensial.

Ada satu bentuk patung ubi kayu berukuran raksasa di bawah rindangnya pohon bisbul dan sawo kecik yang akan memaksa mata kita untuk tidak cepat-cepat mengalihkan perhatian ke arah yang lain, begitu memasuki halaman kantor. Patung ubi kayu berdiameter umbi 3 meter X 3 meter dengan tinggi 3,5 meter, berwarna coklat mirip satu batang ubikayu beserta umbinya. Proses pembangunan patung ubi berlangsung selama selama satu bulan pada awal Maret hingga April 2020. Replika ini berdiri di atas fondasi berbentuk bulat dengan lukisan daun ubi kayu menghiasi dinding fondasi. Satu batang ubi kayu disertai tujuh umbi yang terbentuk, nampak kokoh mewakili semangat seluruh keluarga besar Balitkabi untuk menghasilkan inotek akabi mendukung Diversifikasi Pangan yaitu Indah, Bahagia dengan Makanan Lokal, apalagi dalam situasi pandemi COVID-19 seperti saat ini.

Kasie Jaslit (B.S. Koentjoro S,P., M.Kom) selaku penanggung jawab pembuatan patung ubi kayu menjelaskan jika patung ubi kayu semula dibangun untuk ajang swa foto pengunjung di acara Pekan Aneka Kacang dan Umbi (PKN) yang semula direncanakan pada pertengahan April 2020. Ikon berbentuk patung ubi kayu ini merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan produk pangan lokal ubi kayu kepada masyarakat kota terutama. “Masyarakat lebih mudah mengingat sesuatu secara visual, dibandingkan membaca atau hafalan” ujar Kasie Jaslit. “Pangan sehat tidak harus nasi, trend gaya hidup sehat masa kini, mulai mengarah pada pemanfaatan pangan fungsional lain seperti aneka kacang dan umbi. Ubi kayu selain memiliki pati yang tinggi juga memiliki kandungan nilai gizi lainnya seperti kalsium, fosfor dan beberapa vitamin esensial, jadi selain kita kenyang kita juga mendapat nutrisi yang baik untuk tubuh”, tambah Koentjoro.

Disampaikan Kasie Jaslit jika menanam ubi kayu tidak sulit, ubi kayu merupakan tanaman yang mudah tumbuh meskipun pada lahan yang kurang subur. Begitu pula pengolahan ubinya sangat mudah, bisa direbus, dibakar, di goreng sudah dapat langsung dikonsumsi. Ubi kayu telah banyak diolah menjadi berbagai produk baik secara tradisional seperti tiwul, gatot, tape, kripik, krupuk, lebih modern menjadi tepung tapioca, mocaf dengan puluhan jenis makanan olahan dari tepung singkong hingga skala pabrikan industri etanol/ bioetanol dan lain sebagainya. Pendek kata, pemanfaatan ubi kayu mencakup food, feed, fuel, maka tidak salah kiranya komoditas ini terpilih diantara komoditas pangan lainnya untuk memperkuat kedaulatan pangan bagi bangsa Indonesia. Tidak hanya patung ubi kayu, komoditas lain seperti ubi jalar, kacang tanah, kedelai dan kacang hijau juga direncanakan akan dibuat menjadi patung, ikon Balitkabi sebagai pengingat para pengunjung yang bertandang ke Balitkabi.

Ubi kayu raksasa di sisi selatan halaman depan Kantor Balitkabi

Ubi kayu raksasa di sisi selatan halaman depan Kantor Balitkabi

ubikayu1 ubikayu2
 Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi bersama ikon ubi kayu di halaman kantor Balitkabi

EU