Berita » Semarak Kedelai di Bawah Tegakan Jati

Potensi pengembangan kedelai di bawah tanaman tahunan, termasuk tanaman jati, cukup besar, karena memang areal tanaman jati di Pulau Jawa sangat luas. Balitbangtan telah menyiapkan teknologi budidaya kedelai di bawah tegakan jati, dan telah pula dikembangkan diberbagai KPH, seperti di Ngawi, Boyolali dsbnya. Manfaatnya tidak saja memberikan peningkatan pendapatan kepada pesanggem, yang lebih penting adalah mencegah erosi, meningkatkan kesuburan lahan serta kesuburan pertumbuhan tanaman jatinya itu sendiri.
Di areal RPH Karetan yang berada di bawah KPH Banyuwangi Selatan, hamparan tanaman kedelai di bawah tegakan jati muda, sangat luas. Tanaman kedelai terpelihara dengan baik dan pertumbuhan tanaman juga sangat optimal (7 Januari 2014). Kedelai ditumpangsarikan dengan lombok, sebagian dengan jagung, dan di bagian tepi ditanami ubikayu. Menurut petani, tanaman kedelai memang menjadi andalan pendapatan petani, sehingga petani selalu memelihara kedelai dengan serius. Varietas yang ditanam petani adalah varietas asalan, Jepang Putih, Jepang Gedek, Martoloyo, Anjasmoro dbnya. Jepang putih karena memiliki bulu putih dan umurnya lebih genjah dibandingkan Anjasmoro. Jepang gedek, konon karena tahan rebah, dan varietas ini kemungkinan adalah varietas Wilis. Jepang Putih terlihat paling luas ditanam petani karena umurnya yang lebih genjah. Dari sisi produksi, penuturan petani, varietas Anjasmoro di bawah tegakan jati bisa berproduksi hingga 2 t/ha dan Jepang Putih hanya sekitar 1.6–1.8 t/ha. Preferensi petani nampaknya tertuju pada varietas kedelai berumur genjah. Balitbangtan sebetulnya telah melepas varietas kedelai Gema, yang berumur 73 hari, demikian juga hasil pengembangan kedelai dilahan jati Ngawi, Argomulyo cukup adaptif dan mampu berproduksi tinggi. Saatnya memperderas pengenalan produk varietas Balitbangtan.MMA/AW