Berita » Seminar Nasional Hasil Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian 2013

a.sem_2013_ka_badan

Swasembada atau kemandirian, dan ketahanan pangan tercakup dalam makna luas kedaulatan pangan. Komoditas kacang-kacangan dan umbi-umbian berperan sebagai motor penggerak penting dalam pencapaian Empat Target Sukses Kementerian Pertanian, sekaligus mendu­kung pencapaian kedaulatan pangan. Oleh karena itu revi­talisasi komoditas kacang-kacangan dan umbi-umbian memiliki arti penting dan strategis bagi pembangunan eko­nomi masyarakat pertanian. Inovasi teknologi komoditas kacang-kacangan dan umbi-umbian terus diupayakan secara optimal, namun selalu berhadapan dengan dinamika tuntutan dan tantangan yang tidak ringan sehingga dibutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat pertanian Indo­nesia dalam mendukung kinerja yang lebih baik. Demikian arahan tertulis Kepala Badan Litbang Pertanian, yang dibacakan oleh Dr Handewi Putri Saliem, pada pembukaan Seminar Nasional Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, di Aula Balitkabi di Malang, 22 Mei 2013.

Selanjutnya menurut kepala Badan Litbang Pertanian, dalam upaya menanggulangi krisis energi sebagai akibat meningkatnya harga internasional bahan bakar minyak akhir-akhir ini, pemerintah telah mengeluarkan kebi­jakan untuk meningkatkan penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (bio-fuel). Salah satu implementasinya berupa penyediaan bahan baku industri bio-etanol dari ubi kayu. Kebutuhan bio-etanol dari ubi kayu sebagai cam­puran premium 10% memerlukan peningkatan produksi ubi kayu sekitas 27% dari produksi nasional saat ini. Pening­katan produksi ubi kayu dapat ditempuh dengan intensifikasi oleh petani dan ekstensifikasi oleh pihak industri. Saya mem­be­rikan apresiasi kepada peneliti Balitkabi yang telah berhasil merakit varietas unggul ubi kayu sesuai untuk bahan baku etanol dengan nama Litbang UK 2.

Peningkatan pro­duksi aneka kacang dan umbi untuk meningkatkan penda­patan petani terus diupayakan dan telah banyak inovasi teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian diadopsi oleh pengguna. Dalam upaya peningkatan produksi aneka kacang dan umbi di hadapkan berbagai permasa­lahan: menyusutnya lahan-lahan subur, adanya perubahan iklim global yang berdampak pada tanaman secara lang­sung maupun tidak langsung. Dampak perubahan iklim secara langsung maupun tidak langsung nampaknya telah mempengaruhi produksi aneka tanaman kacang dan umbi. Untuk menyikapi hal tersebut, Kepala Badan Litbang mengharapkan program penelitian harus memasukan empat hal penting berikut.

(1) Agar dilakukan penelitian penanggulangan dampak peru­bahan iklim, kekeringan, kebanjiran dan serangan hama penyakit untuk mengamankan sasaran produksi, pro­duktivitas dan luas areal panen.

(2) Penyediaan sarana produksi utamanya benih sumber memenuhi kriteria 6 tepat (jenis, jumlah, mutu, dosis, harga, dan waktu) agar komponen teknologi PTT dapat diterapkan dengan baik dan effektif.

(3) Pengembangan kemitraan dengan swasta dalam produksi dan pemasaran benih kacang dan umbi, agar benih varietas unggul baru segera tersedia untuk dikembangkan oleh petani, dan kemitraan pada pema­saran hasil-hasil pertanian lainnya.

(4) Koordinasi dan sinkronisasi program maupun kegiatan dengan Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota; serta pihak-pihak terkait antara lain dengan Badan Litbang Pertanian, agar target menuju swasembada kedelai dapat tercapai, terutama melalui program Se­kolah Lapang-Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT).

Seminar nasional yang diikuti sekitar 200 peneliti, terdiri dari staf pengajar perguruan tinggi, penyuluh pertanian, mahasiswa, dan peneliti dari seluruh Indonesia ini membahas 121 makalah, dengan tiga makalah kunci/utama yaitu: (1) Dukungan Pusat Pelatihan Pertanian Dalam Pencapaian Target Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan dari Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, (2) Pengembangan Pupuk Hayati dari Ketua Komite Inovasi Bidang Pengembangan Pupuk Hayati, dan (3) Kiat Membangun Kemitraan dan Agribisnis Berbasis Umbi-Umbian yang disampaikan oleh Bapak Ir. Unggul Abinowo MMA pemilik Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu dengan produk populernya Bakpao TelO – Indonesia.

Pada kesempatan tersebut Kepala Balitkabi menyerahkan secara simbolik Prosiding Seminar Tahun 2012, kepada Dr Handewi P Saliem. Prosiding tersebut merupakan salah satu media penyebaran informasi hasil penelitian tanaman kacang-kacangan dan umbian kepada khalayak yang lebih luas.

AW