Berita » Semnas Balitkabi 2015 sebagai Ajang Transfer Ilmu dan Teknologi antar Peneliti, Distan, Mahasiswa dan Praktisi Tanaman Akabi

semnas

Sudah menjadi agenda tahunan di Balitkabi bahwa hasil-hasil penelitian tanaman aneka kacang dan umbi harus disebarluaskan kepada masyarakat. Salah satu media yang digunakan adalah dengan menyelenggarakan seminar. Tahun ini, seminar nasional diselenggarakan pada tanggal 19 Mei 2015 bertempat di aula Balitkabi, dengan mengambil tema “Peran Inovasi Teknologi Aneka Kacang dan Umbi dalam Mendukung Program Kedaulatan Pangan”. Penyelenggaraan seminar diawali dengan laporan oleh Ketua seminar Eriyanto Yusnawan, Ph.D dilanjutkan dengan pembukaan seminar oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, yang diwakili oleh Kepala Balitkabi, Dr. Didik Harnowo, MS. Seminar diikuti oleh sekitar 168 peserta dari berbagai kalangan yaitu Dinas Pertanian, Perguruan Tinggi, Peneliti, dan Praktisi tanaman aneka kacang dan umbi. Dua makalah utama dan 101 makalah penunjang dalam bentuk presentasi oral dan poster disampaikan pada kesempatan ini. Dua makalah utama yang dipresentasikan adalah “Kendala dan langkah strategis sistem pertanian dalam perspektif kedaulatan pangan disampaikan olah Ir. Rita Mezu, MM, Kasubdit Kedelai dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan dan “Lesson learn agro techno park dan agro science park mendukung program kedaulatan pangan” disampaikan oleh Dr. Sam Herodian, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Di penghujung acara seminar, disampaikan rumusan seminar oleh Dr. Muchlish Adie. Adapun hasil rumusan sementara Seminar Nasional Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi 2015 adalah sebagai berikut:

  • Salah satu Visi Misi Presiden RI periode tahun 2015-2019 adalah mencapai kedaulatan pangan berbasis agribisnis kerakyatan. Negara secara mandiri diharapkan dapat menentukan kebijakan untuk dapat menjamin penyediaan pangan yang cukup bagi rakyatnya sesuai dengan sumberdaya lokal yang ada.
  • Tanaman aneka kacang dan umbi mempunyai potensi besar untuk mendukung tercapainya kedaulatan pangan nasional, karena dari komoditas ini dapat dikembangkan berbagai produk pangan, diantaranya berfungsi sebagai suplemen beras, penganekaragaman dan perbaikan mutu pangan.
  • Produksi tanaman aneka kacang dan umbi di Indonesia, terutama kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan ubikayu hingga kini masih belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga masih diperlukan peningkatan produksi secara berkelanjutan.
  • Untuk peningkatan produksi tanaman aneka kacang dan umbi hingga mencapai swasembada yang dilakukan melalui ektensifikasi dan intensifikasi, tersedia beragam jenis lahan yang cukup luas, varietas unggul, dan paket teknologi budidaya spesifik lokasi. Perakitan varietas dan paket teknologi spesifik lokasi tersebut senantiasa perlu terus diperbaiki dan dikembangkan.
  • Upaya peningkatan produksi aneka kacang dan umbi, ke depan akan menghadapi berbagai masalah, diantaranya (1) perubahan iklim yang berdampak pada perubahan ekosistem pertanian, (2) kendala abiotik dan biotik, dan (3) masalah sosial ekonomi petani terutama dalam hal penyediaan modal, serta masih adanya stigma bahwa makan umbi identik dengan kemiskinan.
  • Terkait dengan permasalahan pada tanaman aneka kacang dan umbi, kebijakan penelitian Balitbangtan pada komoditas tersebut diarahkan untuk:
  1. Penguatan inovasi tanaman aneka kacang dan umbi melalui teknik budidaya dan perakitan varietas unggul dengan potensi hasil 10-20% lebih tinggi, umur sangat genjah, mampu beradaptasi pada lahan-lahan terkena dampak perubahan iklim seperti kekeringan, genangan, dan salinitas tinggi dengan memanfaatkan biosains dan bio-enjinering.
  2. Mengembangkan jejaring dan kerja sama kemitraan dengan dunia usaha, Pemerintah Daerah, Lembaga Penelitian dalam dan luar negeri, yang dapat memacu peningkatan potensi hasil dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
  3. Mempercepat alih teknologi, peningkatan produktivitas, dan distribusi benih sumber tanaman aneka kacang dan umbi kepada pengguna.
  4. Optimalisasi kapasitas unit kerja, profesionalisme SDM, dan peningkatan efektifitas rekomendasi kebijakan untuk memecahkan berbagai masalah dan isu-isu pembangunan pertanian tanaman aneka kacang dan umbi yang sedang berkembang.
  • Untuk mempercepat transfer inovasi teknologi agar segera sampai pada pengguna, Badan Litbang Pertanian mulai tahun 2015 akan membangun Agro Science Park (ASP) di tingkat Provinsi, dan Agro Techno Park (ATP) di tingkat Kabupaten, ke depan ASP akan dibangun di tiap provinsi, dan ATP di 100 Kabupaten/kota.
  • Pembangunan ASP diarahkan berfungsi sebagai: (1) penyedia pengetahuan terkini oleh dosen universitas setempat, peneliti dari lembaga litbang pemerintah, dan pakar teknologi yang siap diterapkan untuk kegiatan ekonomi; (2) penyedia solusi-solusi teknologi yang tidak terselesaikan di ATP; dan (3) sebagai pusat pengembangan aplikasi teknologi lanjut bagi perekonomian lokal.
  • Pembangunan Techno Park diarahkan berfungsi sebagai: (1) pusat penerapan teknologi di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan pengolahan hasil (pasca panen) yang telah dikaji oleh lembaga penelitian, swasta, perguruan tinggi untuk diterapkan dalam skala ekonomi; dan (2) tempat pelatihan, pemagangan, pusat diseminasi teknologi, dan pusat advokasi bisnis ke masyarakat luas.
  • Makalah utama dan penunjang yang dipresentasikan dalam seminar ini merupakan kekayaan intelektual di bidang inovasi teknologi aneka kacang dan umbi yang dapat dipakai sebagai dasar penyusunan program dan implementasi sistem pertanian untuk mencapai kedaulatan pangan nasional.


Laporan penyelenggaraan seminar oleh ketua pelaksana harian seminar Eriyanto Yusnawan, Ph.D (kiri)
dan pembukaan seminar oleh Kepala Balitkabi Dr. Didik Harnowo (kanan).


Penyampaian salah satu makalah utama oleh Dr. Sam Herodian (kiri) dan suasana seminar di aula Balitkabi (kanan).

KN/EY/AI/WR