Berita » Setitik Harapan Petani Ubi Kayu di Sumut

Dua tahun sudah petani ubi kayu banyak yang merugi karena harga yang sangat tidak bersahabat. Pendapatan bersih yang diterima petani hanya berkisar antara Rp200−Rp400. Sangat tidak sebanding dengan kerja keras yang telah dilakukan.

Namun demikian, dalam kondisi terpuruknya harga ubi kayu, ternyata masih banyak petani yang tetap bersemangat menanam ubi kayu. Di Sumatera Utara terutama daerah Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Simalungun, dan Toba Samosir masih banyak dijumpai petani yang menanam ubi kayu. Sebagian besar digunakan sebagai bahan baku pabrik Tapioka. Varietas Adira 4, ubi Malaysia, dan Cikaret adalah jenis ubi kayu yang banyak ditemui di daerah tersebut.

Pertanaman ubi kayu dengan jarak tanam sekitar 0,7 m × 0,3 di Kec. Bandar Haluan, Kab. Simalungun.

Pertanaman ubi kayu dengan jarak tanam sekitar 0,7 m × 0,3 di Kec. Bandar Haluan, Kab. Simalungun.

Bagi sebagian besar petani, bertanam ubi kayu telah menjadi bagian hidupnya. “Meski harga ubi kayu terus turun, saya akan tetap menanam ubi kayu,” kata pak Eko, salah satu petani ubi kayu di Pematang Siantar. Yang menarik adalah berkat ubi kayu, banyak petani yang berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang sarjana.

Bahkan ada salah satu daerah, yaitu di Kecamatan Bandar Haluan, Kabupaten Simalungun, ubi kayu ditanam di lahan sawah. Sejak sekitar tahun 2006, lahan padi di daerah Bandar Haluan dan sekitarnya berubah menjadi lahan ubi kayu. Penyebabnya adalah gagal panen padi yang sering dialami karena hama dan penyakit. Hingga kini petani disana masih menanam ubi kayu. Produktivitas ubi kayu di daerah ini cukup tinggi yaitu sekitar 40−60 t/ha. Mereka menggunakan jarak tanam cukup rapat, rata-rata sekitar 0,7 m x 0, 3 m, bahkan ada yang menggunakan jarak tanam 0,3 m x 0,3 m. Dengan jarak tanam rapat tersebut, tunas yang dipelihara hanya satu saja. Para petani juga memanfaatkan abu hasil pembakaran batang ubi kayu untuk menambah kesuburan tanah.

Hasil panen ubi kayu petani di Kec. Bandar Haluan, Kab. Simalungun (kiri), batang ubi kayu yang dibakar untuk pupuk (kanan).

Hasil panen ubi kayu petani di Kec. Bandar Haluan, Kab. Simalungun (kiri), batang ubi kayu yang dibakar untuk pupuk (kanan).

“Kami akan berhenti menanam ubi kayu, jika harga bersih yang kami terima hanya Rp100,” ujar Bu Sukini, petani yang harus berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya. Para petani ubi kayu di Sumatera Utara dan juga daerah lain sangat berharap ke depan ada peningkatan harga ubi kayu. Gairah bertanam ubi kayu harus segera dibangkitkan lagi.

Ibu Sukini, petani ubi kayu tangguh di Kec. Bandar Haluan, Kab. Simalungun.

Ibu Sukini, petani ubi kayu tangguh di Kec. Bandar Haluan, Kab. Simalungun.

KN/RK