Berita » Si KEPAS, Teknologi Unggul Budidaya Kedelai Lahan Pasang Surut

Indonesia memiliki lahan pasang surut sekitar 20,1 juta ha dan 5,3 juta ha diantaranya dapat dimanfaatkan untuk komoditas pangan, salah satunya kedelai. Tantangan yang dihadapi dalam produksi kedelai di Indonesia meliputi dua hal, yaitu areal tanam/panen tidak luas (0,6 juta ha) dan produktivitas rendah (rata-rata nasional 1,6 t/ha).

Kondisi saat ini, petani kurang berminat menanam kedelai karena kurang menguntungkan dibandingkan komoditas pesaingnya, antara lain padi, jagung, kacang tanah, kacang hijau, tembakau, karet, dan kelapa sawit. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dari sisi usahatani, upaya memperluas areal tanam kedelai harus dibarengi dengan penerapan teknologi produksi atau budidaya yang semakin produktif dan/atau efisien.

kepas

Balitbangtan melalui Balitkabi telah merakit dan mengembangkan teknologi KEPAS (Teknologi Unggul Budidaya Kedelai pada Lahan Pasang Surut). Kegiatan percontohan KEPAS dilakukan di lahan pasang surut wilayah Kecamatan Rantau Rasau dan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Teknologi KEPAS mampu meningkatkan produktivitas pertanaman kedelai di wilayah ini dari rata-rata 1,6 t/ha menjadi 2,1–2,8 t/ha, dengan menggunakan varietas unggul Anjasmoro.

Varietas Anjasmoro sangat diminati petani karena hasilnya tinggi, bijinya berukuran besar, dan polongnya tidak mudah pecah.

Tanggal 26 Agustus 2017, Balitbangtan menggelar kegiatan temu lapang teknologi KEPAS yang dihadiri oleh Dirjen Tanaman Pangan Dr. S. Gatot Irianto, Kepala Balitbangtan yang diwakili oleh Kepala Puslitbang Tanaman Pangan Dr. Andriko Noto Susanto, Kepala Balitkabi Dr. Joko Susilo Utomo, PT Pertani, Bulog, Kadis Provinsi Jambi, Kadis Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Staf ahli Bupati Tanjung Jabung Timur, Kapolsek, Danramil, dan para petani.

Pengembangan Teknologi KEPAS merupakan kegiatan berorientasi output nyata di lapangan, guna mendukung program swasembada kedelai yang dicanangkan tercapai tahun 2018/2019.

Kegiatan pendaratan inovasi unggul ini tidak hanya terbatas pada menyuguhkan teknologi unggul budidaya kedelai lahan pasang surut, agar dapat diketahui, dikenal, dipahami, dan diterapkan oleh pelaku pembangunan pertanian, melainkan sekaligus juga sebagai sumber benih kedelai varietas unggul untuk pengembangan lebih lanjut, yakni dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan benih bagi program perluasan areal tanam sebesar sekitar 2,0 juta hektar pada tahun 2018.

“Semoga si KEPAS tidak hanya berhenti di persimpangan cahaya Berbak, namun menyebar ke seluruh pelosok Nusantara agar tercipta nugraha bagi petani Indonesia”, harap Prof. Subandi, Sang Begawan teknologi KEPAS dari Balitkabi.

kepas1

KN/GWAS