Berita » Sikapi Rancangan PERKA LIPI secara Positif, Jangan Diratapi

lipi

“Rancangan PERKA LIPI yang merupakan turunan dari PP 11 tahun 2017 dapat diibaratkan bak bola panas, yang cepat atau lambat akan segera diberlakukan dan akan mengikat peneliti”, ungkap Prof. Dr. Ir. I Nyoman Widiarta pada acara Rapat Kerja Puslitbang Tanaman Pangan di Batu, 18−20 November 2018 yang diikuti oleh peserta dari satker lingkup Puslitbangtan, yaitu BB Padi, Balitkabi, Balitsereal, dan Lolit Tungro.

Dalam PERKA LIPI tersebut, setiap peneliti harus menjadi anggota HIMPENINDO (Himpunan Peneliti Indonesia).  Setiap jenjang peneliti memiliki standar kompetensi dan hasil kerja minimal yang harus dicapai setiap tahunnya. Untuk peneliti ahli pertama harus memiliki ijazah minimal S1/DIV dan memenuhi angka kredit 10 poin/tahun, sedangkan peneliti ahli muda harus memiliki ijazah minimal S2 dengan angka kredit minimal 15 poin/tahun, peneliti ahli madya harus memiliki ijazah minimal S3 dan mencapai angka kredit 20 poin/tahun, dan peneliti ahli utama harus berijazah minimal S3 dan memenuhi angka kredit 25 poin/tahun. Maintenance hanya diperbolehkan maksimal selama 10 tahun.

Beratnya standar kompetensi dan hasil kerja minimal yang harus dicapai di setiap jenjang fungsional peneliti tak urung membuat beberapa peneliti menjadi khawatir dan pesimis. Prof. Nyoman menegaskan bahwa PERKA LIPI saat ini bentuknya masih berupa draft. PERKA LIPI baru akan disahkan setelah ada kongres luar biasa HIMPENINDO, sehingga sangat dibutuhkan kepedulian dari peneliti sendiri di setiap jenjangnya untuk mencermati kembali rancangan peraturan tersebut. “Kita masih dapat memberikan masukan apa yang tidak terpikirkan oleh LIPI, sebelum peraturan tersebut benar-benar diberlakukan”, ujar Prof. Dr. Ir. Hasil Sembiring yang bertindak sebagai moderator.

Pada acara diskusi, Prof. Dr. I Made Oka Adnyana memberikan semangat kepada seluruh peneliti yang hadir. “Can do spirit? Yes, I can” ujar beliau. Rancangan PERKA LIPI jangan diratapi tetapi harus segera disikapi. Selama masih ada semangat, ada kemauan, pasti ada jalan. Yang perlu segera dilakukan saat ini adalah setiap peneliti harus sadar akan syarat kompetensi dan hasil kerja minimal yang harus dicapai setiap tahunnya dan segera beradaptasi dengan baik.

Di akhir acara, Prof. Nyoman mengingatkan bahwa ke depan, kompetensi dan hasil kerja minimal yang harus dicapai semakin berat. Dari segi penelitian, peneliti dituntut untuk merencanakan penelitian dengan sebaik-baiknya, agar angka kredit dapat tercapai tanpa mengurangi tanggung jawabnya secara keilmuan dan terhadap masyarakat. Dari segi manajemen, pihak manajemen termasuk KTU, Ketua Kelti, dan Kasi Yantek memegang peranan penting dalam menyusun peta jabatan serta mengalokasikan anggaran, agar dapat merencanakan dan mengimplementasikan hasil kerja minimal yang harus dicapai.

Mari kita hadapi PERKA LIPI dengan gagah berani, demi peningkatan kompetensi dan daya saing kita.

RTH