Berita » SLMBK dan Pendampingan Kawasan GP-PTT Kedelai di NTB

slmbk

Berdasarkan pengamatan dan pertimbangan keberhasilan untuk memproduksi benih kedelai maka dalam kegiatan Sekolah Lapang Mandiri Benih Kedelai (SLMBK) telah ditetapkan: Lokasi Mandiri Benih Kedelai di Desa Monggo, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima. Ketua Tim adalah Dr. Awalludin, dengan pemandu Tantawizal, S.P. dan Ir. Santi. Kelompok Tani yang terlibat adalah Kelompok Tani Monggo dan calon produsen Abdul Haris. Luas LL sekitar 4,5 ha dengan menanam varietas Anjasmoro dan Burangrang. Atas kesepakatan, Bimbingan Teknis SLMBK akan di selenggarakan pada tanggal 28 April 2016 di Desa Monggo, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima.

Kebutuhan benih kedelai untuk program swadaya dipenuhi oleh petani sendiri dengan menyimpan benih sendiri atau dari pertanamannya sendiri atau membeli dari tetangga/kawan petani lain di kelompoknya. Prediksi kebutuhan benih bersertifikat yang harus disiapkan berdasarkan program pengembangan kedelai oleh pemerintah adalah 4.380.000 kg atau 4.380 ton. Sedang untuk swadaya kedelai seluas 13.494 ha, benih (good seed) yang dibutuhkan adalah 809.640 kg atau 809,640 ton. Jadi total benih yang dibutuhkan untuk pengembangan kedelai di NTB yaitu benih kedelai bersertifikasi dan good seed untuk petani swadaya sebanyak 5.189,64 ton. Untuk memenuhi kebutuhan benih sebanyak 5.189,64 ton diprediksi memerlukan lahan seluas 4.152 ha, dengan asumsi produksi benih per hektar 1,25 ton.

Produsen benih kedelai di NTB yang cukup besar ada di Bima yaitu di Kelompok Tani Usaha Baru di Desa Nggembe, Kecamatan Bolo, dengan ketua Bapak Ali. Kapasitas produksi dapat mencapai 200 ton benih kedelai kelas Benih Sebar. Produsen benih kedelai yang lain adalah PB Muncul Baru yang dipimpin bapak Abdul Haris di Desa Monggo, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, dengan kapasitas produksi 20 ton. Sedang di Pulau Lombok, produsen benih ada di Lombok Tengah yaitu di UD Humpik Tani, Desa Mujur, Kecamatan Praya Barat, dengan kapasitas produksi 300 ton benih sebar. UD Patra Tani di desa Ubung, Kecamatan Jonggat dengan kapasitas produksi 150 ton Benih Sebar. Di Lombok Barat, Kelompok Tani Pangkal Bahagia yang dipimpin Bapak Badrun dengan kapasitas produksi 20 ton. Jika kita lihat kondisi perbenihan kedelai di NTB belum dapat memenuhi kebutuhan kedelai dengan benih yang bersertifikat dalam program pengembangan kedelai melalui intensifikasi, PIP, PAT yang dicanangkan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Untuk NTB, program intensifikasi seluas 28.000 ha dan PAT + PIP seluas 45.000 ha. Oleh karena itu perlu dipacu dan ditingkatkan kapasitas produksi benih bersertifikat di tingkat produsen benih kedelai.

Rencana produksi benih kedelai di lingkup UPBS BPTP NTB pada tahun 2016 akan memproduksi benih kedelai FS sebanyak 8.000 kg di Bima dan kedelai SS 17.000 kg di Lombok Tengah.

Kawasan GP-PTT kedelai

Luas lahan kedelai di NTB selama 6 tahun terakhir (2008‒2014) relatif stabil yaitu antara 70.000 ha sampai 85.000 ha dengan produksi berkisar 90.000 ton. Varietas yang banyak digunakan di NTB yaitu Anjasmoro, Burangrang, dan Wilis. Rencana Pengembangan Kedelai Nasional adalah di NTB. Luas tanam, luas panen, produktivitas, dan produksi kedelai di NTB direncanakan pada tahun 2016 dengan luas tanam 86.494 ha, luas panen 82.375 dengan tingkat produktivitas 19,19 kw/ha dan produksi 158.043 ton.

Demfarm/pembinaan kawasan GP-PTT dengan jumlah total 13 ha yang tersebar di Kota Bima, Lombok Tengah, dan Lombok Barat, di tengah-tengah kawasan daerah pengembangan kedelai. Di areal DEMFARM BPTP direncanakan akan disertifikasikan dalam rangka membantu penyediaan benih sumber bersertifikat. Dalam rangka pendampingan kawasan GP-PTT kedelai, Peneliti Balitikabi yaitu Prof. Dr. Marwoto, Dr. Novita Nugrahaeni dan Ir. Suhartina mengadakan sarasehan dengan para peneliti dan penyuluh BPTP yang bertugas di beberapa Kabupaten di NTB dengan tujuan untuk perencanaan kegiatan pendampingan BPTP di Kawasan Pengembangan kedelai melalui program GP-PTT. Di akhir diskusi Prof. Dr. Marwoto menyerahkan publikasi berupa: (1) Teknologi Budidaya Kedelai spesifik lokasi, (2) Identifikasi hama dan penyakit kedelai dan cara pengendaliannya, dan (3) Prinsip-prinsip produksi benih kedelai, masing-masing 25 buku untuk pegangan para LO dan penyuluh setempat. Selanjutnya tim berkunjung ke lapang ke Kelompok tani calon kooperator.


Gambar 1. Diskusi perencanaan SLMBK bersama Ka BPTP NTB (kiri), Ka Program BPTP NTB dan peneliti pendamping dari Balitkabi (tengah),
dan penyerahan publikasi kedelai kepada Ketua Program BPTP NTB (kanan).


Gambar 2. Peneliti Pendamping Balitkabi, Penanggung Jawab SLMBK BPTP NTB, dan kelompok tani diskusi tentang kedelai (kiri dan tengah).
Pak Badrun dengan bangga menunjukkan VUB Dega 1, yang banyak diminati anggota kelompok (kanan).

MWT