Berita » SLMBK di Kabupaten Bima

Percepatan produksi dan distribusi benih sumber varietas unggul kedelai diupayakan melalui sosialisasi dan pengenalan varietas, serta pembekalan teknik produksi benih bagi penangkar di sentra produksi dengan melibatkan pihak terkait.

Cara ini diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi produksi benih bermutu dan berkembangnya usaha produksi benih kedelai berbasis komunitas. Agar teknologi produksi benih kedelai yang dihasilkan segera sampai di produsen benih di lahan petani, pendekatan sekolah lapang (SL) dengan sistem belajar praktek langsung di lahan petani yang dikemas dalam bentuk Sekolah Lapang Mandiri Benih Kedelai (SLMBK).

SLMBK memudahkan adopsi teknologi produksi benih kedelai oleh petani. Sasaran akhir dari usahatani produsen benih kedelai adalah meningkatnya produksi dan efisiensi usaha tani kedelai, sedangkan pengelolaan iklim (pola tanam) dan pengendalian hama penyakit adalah bagian dari pengelolaan tanaman terpadu sebagai sasaran antara.

Sehingga sekolah lapang dilaksanakan secara terpadu dalam satu jenis sekolah lapang yaitu Sekolah Lapang Mandiri Benih Kedelai (SLMBK) agar waktu efektif petani tidak tersita. Model SLMBK masih terbatas hanya di delapan provinsi sentra kedelai yakni: (1) Jambi, (2) Lampung, (3) Jawa Barat, (4) Jawa Tengah, (5) Jawa Timur, (6) Nusa Tenggara Barat, (7) Sulawesi Selatan, dan (8) Sulawesi Tenggara. Salah satu program SLMBK yang sudah dilaksanakan di Desa Monggo, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Peserta BIMTEK SLMBK pada pertemuan keempat ini diikuti oleh 54 peserta petani, calon produsen benih kedelai, para penyuluh, dan pemandu lapangan dari BPTP NTB. Bimtek diawali dengan diskusi interaktif tentang budidaya kedelai yang dipandu oleh peneliti Balitkabi yaitu Ir. Abdullah Taufiq, M.P., Prof. Dr. Marwoto, Dr. Novita Nugrahaeni, Dr. Titik Sundari dan Dr. Awaludin dari BPTP NTB.

Acara SLMBK dilaksanakan di ruang Balai Desa Monggo, membahas masalah budidaya kedelai tentang: (1) Kebutuhan hara dan pemupukan kedelai, (2) Hama penyakit dan cara pengendaliannya, (3) Panen dan pascapanen.

Dari diskusi di Balai Desa, dilanjutkan pengamatan masalah dan pemecahan di Laboratorium Lapangan (LL) SLMBK. Pertanaman kedelai di LL seluas 4,5 ha di tengah-tengah hamparan 10–15 ha, menggunakan varietas Anjasmoro. Pada saat pertemuan keempat, tanaman sedang pengisian polong dengan kondisi tanaman cukup bagus.

Pengantar diskusi interaktif SLMBK di Balai Desa Monggo, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Pengantar diskusi interaktif SLMBK di Balai Desa Monggo, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Sekolah Lapang Mandiri Benih Kedelai (SLMBK) di Desa Monggo, Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Sekolah Lapang Mandiri Benih Kedelai (SLMBK) di Desa Monggo, Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Hasil diskusi interaktif antara petani, penyuluh, petugas BPSB dan Peneliti antara lain: (1) Hasil pertanaman kedelai di areal SLMBK akan dipakai sebagai sumber benih kedelai di program PIP dan PAT di Kecamatan Madapangga pada MK II (Juli‒Agustus), (2) Pemurnian varietas dari mulai pengisian polong hingga panen nanti harus dilaksanakan sesuai dengan juknis produksi benih kedelai oleh petani dan pengawas benih BPSB, (3) Untuk mencegah kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit harus dilakukan pemantauan dan tindakan pengendalian apabila populasi/serangan hama mencapai ambang kendali, dan (4) Saat panen dilakukan sesuai dengan kaidah panen dan kemurnian varietas.

MWT