Berita » Sosialisasi dan PRA Awali Kegiatan Budenopi di Banyuwangi

Dr. Yusmani Prayogo menyampaikan materi tentang teknologi Budenopi.

Dr. Yusmani Prayogo menyampaikan materi tentang teknologi Budenopi.

Budenopi atau budi daya kedelai no pestisida kimia, adalah melakukan kegiatan diseminasi teknologi pengembangan budi daya kedelai tanpa menggunakan pestisida kimia 100%. Kegiatan dilaksanakan di Desa Kedung Asri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi.

Tujuan dari kegiatan ini adalah: (1) Diseminasi teknologi budi daya kedelai no pestisida kimia, (2) Menghasilkan benih sebar kedelai kelas SS sebanyak 15 ton, (3) Meningkatkan pengetahuan petani/calon penangkar benih kedelai tentang budi daya tanaman sehat tanpa menggunakan pestisida kimia, (4) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani untuk memproduksi masal biopestisida secara sederhana.

Jumlah petani yang tergabung dalam kegiatan Budenopi sebanyak 53 orang yang tergabung dalam Kelompok Tani Sri Rejeki dengan total lahan seluas 15 ha. Dari 15 ha lahan yang digunakan, sembilan hektar merupakan lahan untuk pengembangan teknologi Budenopi, lima hektar lahan untuk teknologi eksisting (cara petani), dan satu hektar lahan untuk kegiatan superimpose. Untuk mendukung suksesnya kegiatan Budenopi, maka pada tanggal 18 Maret 2018 dilakukan sosialisasi program Budenopi di Balai Dusun Kedung Asri. Narasumber pada kegiatan sosialisasi adalah peneliti hama dan penyakit dari Balitkabi yaitu Dr. Yusmani Prayogo dan Marida Santi YIB, M.Agr. Pada waktu sosialisasi juga dilakukan kegiatan Participatory Rural Appraisal (PRA) oleh peneliti sosial ekonomi yaitu Ir. Nila Prasetiaswati untuk menjajaki tentang teknologi yang dikembangkan petani saat ini.

Dr. Yusmani Prayogo menyampaikan materi tentang “Jenis hama dan penyakit utama yang menyerang tanaman kedelai, jenis biopestisida yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan, serta manfaat penggunaan biopestisida dalam budi daya kedelai”. Dalam paparannya, Dr. Yusmani menjelaskan bahwa benih yang berkualitas harus memiliki kriteria diantaranya yaitu bebas kontaminasi dari hama atau infeksi patogen yang berperan sebagai sumber inokulum potensial di lapangan, memiliki viabilitas serta vigor yang tinggi.

Salah satu penyebab terjadinya infestasi hama dan infeksi patogen pada benih kedelai adalah karena hama dan penyakit sudah resisten pada sebagian besar pestisida kimia. Oleh karena itu, untuk menekan terjadinya peledakan hama dan penyakit maka penggunaan pestisida kimia harus dibatasi dan digantikan dengan berbagai jenis biopestisida secara terintegrasi.

Para petani di desa Kedung Asri menyambut baik adanya program Budenopi dari Balitbangtan, karena dapat digunakan sebagai media pembelajaran dan diharapkan melalui program ini akan dapat menekan input produksi serta menghasilkan benih yang berkualitas dengan produktivitas yang tinggi. Selain itu, tentunya turut melestarikan kesehatan lingkungan dan menekan paparan residu pestisida kimia pada produk yang dihasilkan.

Kegiatan tanam serempak Budenopi dimulai pada tanggal 28 Maret 2018, mengingat tanaman padi di lokasi pengembangan sudah dalam tahap panen dan pola tanam yang dilakukan di wilayah tersebut adalah padi-palawija-palawija. Dengan terlaksananya kegiatan ini diharapkan teknologi budi daya kedelai bebas pestisida kimia dengan target produksi 3,0 t/ha dapat tercapai, tidak terjadi resistensi maupun resurjensi hama, serta teknologi Budenopi dapat diadopsi oleh petani, sehingga dapat mendukung peningkatan produksi kedelai nasional dalam program swasembada kedelai.

Sosialisasi GLIP Budenopi (kiri) dan pemetaan lahan calon GLIP Budenopi (kanan).

Sosialisasi GLIP Budenopi (kiri) dan pemetaan lahan calon GLIP Budenopi (kanan).

MSYIB/YP