Berita » Sosialisasi Pengembangan Kedelai Melalui Perluasan Areal Tanam

Upaya peningkatan produksi kedelai di Indonesia saat ini ditempuh melalui dua langkah, yaitu peningkatan produktivitas dan pengembangan areal tanam kedelai. 1) Peningkatan produktivitas, penting ditempuh karena senjang hasil antara produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1,3 t/ha) dengan potensi genetik dari tanaman kedelai masih cukup tinggi (potensi genetik >2 t/ha). Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian besar petani belum menggunakan benih unggul dan teknik pengelolaan tanaman masih belum optimal. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu, pembuatan saluran drainase, pemberian air yang cukup, pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT, panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. 2) Pengembangan areal tanam kedelai harus dilakukan perluasan areal lahan kering (tegalan), perkebunan/hutan lahan bukaan baru dan lahan pasang surut yang telah direklamasi. Target luas areal tanam pada tahun 2014 untuk areal baru seluas 600.000 ha, perluasan area baru 340.000 ha, lahan Perhutani 10.000 ha, dan perluasan areal swadaya sebesar 250.000 ha. Oleh karena itu dalam rangka program peningkatan produksi kedelai menuju swasembada tahun 2014, Direktorat Budidaya Tanaman Aneka Kacang dan Umbi mengadakan koordinasi dan sosialisasi pengembangan kedelai melalui perluasan areal tanam (PAT) yang diselenggarakan di Bandung pada 25–27 November 2013. Hadir dalam sosialisasi PAT adalah wakil dari 18 provinsi sentra produksi kedelai, peneliti, dosen, Direktur Jenderal Areal. Tujuan dari sosialisasi ini adalah untuk persiapan dan penetapan di areal tanam baru kedelai di masing-masing sentra produksi kedelai.Materi pokok yang dibahas adalah: 1) Program pengembangan kedelai melalui perluasan areal tanam (Direktur Buakabi), 2) Rencana pelaksanaan pengembangan di lahan transmigrasi (Staf ahli Menteri Kependudukan dan Otonomi Daerah, Kemenakertrans), 3) Dukungan Perluasan Areal Tanam Kedelai (Direktur Perluasan dan Pengelolaan Lahan, Direkturat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, 4) Dukungan Perbenihan dalam Pengembangan kedelai (Direktur Perbenihan), 5) Teknologi Budidaya Pengembangan Kedelai di Lahan Pasang Surut (Prof. Dr. Munif Gulamadi, IPB) dan 6) Teknologi Budidaya Pengembangan Kedelai di Berbagai Tipologi Lahan (Prof. Dr. Marwoto Koordinator Penelitian Kedelai, Balitkabi). Prof. Dr. Marwoto dalam pesentasinya menjelaskan inovasi teknologi budidaya kedelai di berbagai ekosistem lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, lahan kering, lahan kering masam, lahan pasang surut, lahan hutan dan perkebunan. Produktivitas kedelai di berbagai tipe lahan dengan menerapkan teknologi spesifik lokasi, mampu menghasilkan 2 ton/ha.

Prof. Dr. Marwoto memberikan materi teknologi produksi kedelai di berbagai ekosistem dan peserta Sosialisasi dan Workshop Perluasan Areal Tanam di Topaz Galeri Bandung.

Prof. Marwoto/AW