Berita ยป Talas Bentul Mulai Dikembangkan

Keragaan talas di Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar

Keragaan talas di Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar

Talas bentul (Colocasia esculenta), terbayang kota Bogor, dimana talas dipasarkan di berbagai sudut pasar dan tempat wisata, beserta produk turunannya, yang telah dibranding, dan berada diberbagai pusat oleh-oleh. Talas ini, dulunya hanya dibudidayakan pada lahan kering di daerah yang relatif kering, namun saat ini juga telah merambah pada lahan sawah. Tentu karena nilai jual umbinya yang cukup mahal.

Konon, talas ini berasal dari Asia Tenggara dan menyebar ke berbagai negara, dan daya adaptasinya memang sangat luas. Berbagai pengelompokannya misalnya, talas Bogor (Colocasia esculenta L. Schoott), talas Belitung/Kimpul (Xanthosoma sagitifolium), bahkan talas Padang (Colocasia gigantea Hook,. F).

Pantauan perjalanan di sekitar Blitar pada Februari 2021, tepatnya di Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, talas bentul dibudidayakan dalam hamparan yang cukup luas pada lahan sawah. Di beberapa wilayah di Blitar, juga ditanam di pematang sawah. Harga jual yang tinggi menjadi daya tarik tersendiri untuk pengembangan talas bentul. Sedangkan di Pulau Madura, talas ditanam di lahan kering, dan beragam jenis talasnya. Selain dikonsumsi segar (biasanya dikukus atau direbus), talas juga dapat diolah menjadi kripik bentul yang memiliki harga jual cukup mahal. Namun, industri olahan kripik bentul ini masih bersifat musiman, karena belum dibudidayakan pada skala luas dan umur talas yang agak dalam yaitu sekitar 8-10 bulan.

Sukses Pemerintah Banten dalam melepas talas beneng, tentu bersama BPTP Balitbangtan Banten, menjadi pemacu untuk memberikan legalitas terhadap ragam talas bentul yang ada di Indonesia, untuk dilepas menjadi varietas unggul.

MMA/Arifin

Hamparan talas di Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar

Hamparan talas di Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar