Berita » Tantangan Teknologi Produksi Tanaman Pangan di Lahan Salin Lamongan dan Tuban

Lahan salin di Indonesia relatif luas terutama di pantai utara. Di Kab Lamongan dan Tuban saja diperkirakan mencapai 192 hektar. Sembari mencari lokasi untuk penelitian, dua peneliti Balitkabi menyusur lahan salin di Lamongan dan Tuban. Keduanya mendapati bahwa meski lahannya bermasalah, petani tetap berjuang menanam padi dan palawija. Hasilnya pun minim. Namun karena itu lahan yang mereka punya maka perjuangan mereka pun memerlukan bantuan teknologi untuk meningkatkan produktivitas lahannya. Nah, tantangannya adalah teknologi produksi untuk lahan salin. Laporan lengkap disampaikan Ir Abdullah Taufiq, MP, dan Ir Affandi Kristiono berikut.
Pada tanggal 3 Februari 2015 kami mencari lahan salin untuk lokasi kegiatan penelitian tahun 2015. Dari informasi awal, lahan pertanian yang salin di Jawa Timur diperkirakan banyak terdapat di sekitar Pantai Utara Jawa, yaitu di wilayah Kabupaten Gresik, Lamongan, dan Tuban. Berdasar Google Map, ada indikasi bahwa lahan pertanian yang salin banyak terdapat di wilayah Kecamatan Brondong, Lamongan. Dari penelusuran yang kami lakukan, kami menemukan hamparan lahan sawah yang cukup luas di Desa Sidomukti, Kecamatan Brondong.

Estimasi luas lahan sawah salin (berdasar google map) di desa tersebut sekitar 192 ha (Gambar 1) dengan pola tanam padi (pada musim hujan) dan kemudian bero (pada musim kemarau). Sebagian lahan (sekitar 10%) di kawasan tersebut pada musim kemarau digunakan untuk produksi garam. Pengukuran DHL (daya hantar listrik) secara langsung menggunakan portable EC meter tipe HI993310 merk Hanna di beberapa titik pengamatan menunjukkan nilai DHL 4,7-6,8 dS/m (Tabel 1). Pada saat pengukuran, lahan ditanami padi berumur 1 minggu hingga 1,5 bulan. Penyebab salinitas lahan adalah masuknya air laut ke sungai di sekitar lahan, di mana sungai ini pada musim hujan berfungsi untuk saluran drainase. Pertanaman padi varietas Ciherang (petani menyebut varietas Gajah) yang berumur 1,5 bulan mengalami cekaman salinitas sedang hingga berat, tanaman menunjukkan gejala daun pucuk menguning, pertumbuhan kerdil, dan banyak tanaman yang mati (Gambar 2).

Gambar 1. Saluran drainase di sekitar lahan salin dimana air laut pada musim kemarau dapat masuk hingga sejauh 1 km (kiri), dan
kawasan lahan salin di Desa Sidomukti, Brondong, Lamongan seluas 192 ha (kanan) yang ditanami padi pada musim hujan.

Gambar 2. Pertumbuhan tanaman padi berumur 1,5 bulan yang terpengaruh salinitas (kiri), dan petani di Desa Sidomukti,
Brondong, Lamongan yang tak pernah putus asa menanam dan menyulam tanaman padi pada lahan salin.

Menurut salah seorang petani Desa Sidomukti (Pak Supri), padi yang ditanamnya perawatannya sulit dan hasilnya kurang baik (Gambar 3). Dengan luas lahan 0,27 ha yang dikelolanya, dia memperoleh hasil gabah kering panen sekitar 1 ton (sekitar 4 t/ha).

Gambar 3. Pak Supri salah seorang petani Desa Sidomukti yang sedang menyulam padi miliknya agar bisa menghasilkan 4 t/ha.

Gambar 4. Kawasan lahan sawah salin di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Tuban seluas sekitar 32 ha dengan pola tanam padi-bero.Perjalanan kami lanjutkan ke arah barat menuju Tuban. Kami melakukan penelusuran di wilayah Tuban yang berbatasan dengan Kabupaten Lamongan, yaitu di Desa Pucangan dan Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Luas lahan sawah salin di desa tersebut sekitar 32 ha, estimasi berdasar google map (Gambar 4), mempunyai pola tanam yang sama dengan di Desa Sidomukti, Brondong (padi-bero), tetapi tidak ada yang digunakan untuk produksi garam. Di antara Desa Sidomukti, Brondong dengan Desa Pucangan, Palang terdapat kawasan lahan sawah salin sekitar 500 ha (estimasi berdasar google map). Pengukuran DHL (daya hantar listrik) secara langsung menggunakan portable EC meter tipe HI993310 merk Hanna di beberapa titik pengamatan menunjukkan nilai DHL 4,4-8,0 dS/m (Tabel 2). Pada saat pengukuran, lahan ditanami padi berumur 3 minggu hingga 1,5 bulan. Penyebab salinitas lahan sama dengan yang ada di Desa Sidomukti. Pertanaman padi (varietas Ciherang) yang berumur 1,5 bulan mengalami cekaman salinitas dari sedang hingga berat, tanaman menunjukkan gejala daun pucuk menguning, pertumbuhan kerdil, dan banyak tanaman yang mati (Gambar 5).

Gambar 5. Pertumbuhan tanaman padi berumur 1,5 bulan yang terpengaruh salinitas di Dusun Karang, Desa Gesikharjo, Palang, Tuban.Menurut salah seorang petani Dusun Karang, Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang (Pak Kasemu), padi yang ditanamnya sulit tumbuh, banyak menyulam dan hasilnya kurang baik (Gambar 6). Lahan yang dikelolanya memperoleh hasil gabah kering panen sekitar 4 t/ha. Dia pernah mencoba menanam kedelai pada musim kemarau, tatapi tidak bisa baik dan tinggi tanaman sekitar 20 cm.

Gambar 6. Pak Kasemu salah seorang petani
Dusun Karang, Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang yang menaruh harapan besar dapat hasil
dari tanaman padi miliknya.

Salinitas tanah dikelompokkan menjadi lima, yaitu non salin (0-2 dS/m), salinitas rendah (2-4 dS/m), salinitas sedang (4-8 dS/m), salinitas tinggi (8-16 dS/m), dan salinitas sangat tinggi (>16 dS/m). Berdasarkan klasifikasi tersebut, salinitas lahan sawah di kedua desa tersebut tergolong sedang. Petani yang kami temui di kedua desa tersebut berharap bisa menanam padi pada musim hujan dengan hasil yang lebih tinggi, dan juga bisa menanam palawija pada musim kemarau agar lahan sawahnya tidak bero.

Dari kedua contoh desa tersebut mengindikasikan bahwa lahan sawah salin sesungguhnya cukup luas, dan sangat potensial untuk menopang produksi pangan apabila produktitivitasnya bisa ditingkatkan. Beberapa peluang peningkatan produktivitas lahan salin tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Berdasar penyabab salinitas, yaitu masuknya air laut melalui sungai yang dibuat sebagai saluran pembuangan pada musim hujan. Pada musim kemarau, air laut masuk ke jaringan tersebut hingga lebih dari 1 km. Jika bangunan dam pengendali masuknya air laut dapat berfungsi dengan baik, maka akan dapat mencegah masuknya air laut tersebut sehingga pengaruh air laut pada lahan pertanian dapat dikurangi.
  2. Pada kawasan tersebut tidak tersedia saluran irigasi dan sumber air irigasi yang bebas garam. Bila fasilitas tersebut tersedia, maka lahan sawah tersebut pada musim kemarau dapat dimanfaatkan untuk tanaman palawija dengan dukungan air irigasi yang bebas garam. Dengan pengelolaan tersebut, lambat laun akan menurunkan kandungan garam dalam tanah melalui pencucian, sehingga akan meningkatkan produktivitasnya.
  3. Menanam varietas yang lebih toleran salinitas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa varietas Ciherang sangat toleran terhadap salinitas, dan pilihan petani menanam varietas tersebut sudah tepat. Bila telah dirakit varietas baru yang lebih toleran dari Ciherang, maka terbuka peluang peningkatan produktivitas.
  4. Pada musim kemarau tingkat salinitas akan meningkat, dan penaman palawija pada saat tersebut terkendala tingginya salinitas. Hasil penelitian awal menunjukkan bahwa kacang hijau varietas Vima 1, dan galur kedelai IAC100/Argopuro dapat bertahan dan berproduksi pada lingkungan tersebut, meskipun hasilnya sangat rendah. Bila didukung teknik budidaya pada lahan salin yang dapat mengurangi pengaruh buruk salinitas, maka produktivitas kedua komoditas tersebut dapat ditingkatkan (Gambar 7).

Gambar 7. Pengujian varietas kedelai pada lahan salin di Sidomukti, Brondong, Lamongan tahun 2014 (kiri),
dan keragaan kacang hijau Vima 1 pada lahan salin di lokasi yang sama (kanan)Mudah-mudahan di masa mendatang ditemukan inovasi baru yang mampu meningkatkan produktivitas lahan salin. Lahan-lahan pertanian salin diperkirakan akan semakin luas akibat dampak perubahan iklim global. Meskipun secara nasional persentase lahan salin sangat kecil, tetapi d situ nasib sebagian petani bergantung padanya. Semoga inovasi baru untuk mengatasi salinitas segera terlahir, dan memberi secercah harapan kehidupan yang lebih baik.
Abdullah Taufiq dan Afandi Kristiono