Berita » Temu Lapang Gelar Varietas Unggul dan Budidaya Kedelai pada Lahan Sawah Tadah Hujan di NTB

Nusa Tenggara Barat (NTB), merupakan salah satu sentra penghasil kedelai di Indonesia. Sekitar 54.000 ha lahan diidentifikasi potensial untuk pengembangan kedelai di NTB, namun yang telah dimanfaatkan hanya sekitar 28.133 ha.

Kabupaten Lombok Tengah merupakan salah satu daerah yang mempunyai kontribusi besar pada produksi kedelai NTB dan mempunyai daerah pengembangan terluas bersama dengan kabupaten Bima. Namun demikian, rata-rata produksi kedelai di Lombok Tengah masih rendah, hanya berkisar antara 1,2–1,4 ton/ha.

Dengan potensi dan kesenjangan hasil yang sedemikian besar maka penentuan Lombok Tengah sebagai salah satu lokasi untuk memperkenalkan varietas unggul kedelai hasil penelitian Balitbangtan merupakan langkah tepat. Balitkabi, pada hari Senin 15 Juni 2015, bertempat di desa Setanggor, kecamatan Praya Barat, kabupaten Lombok Tengah, melaksanakan temu lapang “Gelar Varietas Unggul dan Budidaya Kedelai pada Lahan Sawah Tadah Hujan”.

Pada temu lapang ini diperkenalkan 9 varietas dan 4 galur harapan yang ditanam pada lahan petani kooperator dari Gapoktan Mertak Mi dan Hidup Baru 2 seluas tiga hektar. Selain pengenalan varietas yang sesuai kondisi lahan, cara bertanam kedelai dengan jarak tanam teratur merupakan hal yang ditekankan agar produksi kedelai dapat meningkat mengingat petani di kabupaten Lombok Tengah pada umumnya masih menanam kedelai dengan cara sebar dan oleh masyarakat setempat dikenal dengan istilah “tandur joget”.

Temu lapang mendapatkan respons sangat baik dari para petani dan anggota Babinsa yang aktif bertanya baik saat di lapangan maupun pada sesi diskusi. Temu lapang dihadiri oleh para petani anggota kelompok tani yang berada di sekitar desa Setanggor yaitu dari Gapoktan Tanah Rarang, Pandan Idah, Bondir, Penujak, Batujai, dan Tarek.

Selain itu dihadiri juga oleh sekitar 50 orang Babinsa dari Kodim 1620 Lombok Tengah yang bertugas di Kecamatan Praya Barat, penyuluh pertanian (PPL), Dinas Pertanian dan Perkebunan, serta Badan Ketahanan Pangan.

Dalam sambutannya, Danramil Praya Barat, Kapt. Inf. I.M. Suardana, mengajak para petani dan para anggotanya untuk menerapkan cara-cara budidaya kedelai dan memilih varietas yang memberikan hasil terbaik dan sesuai dengan kondisi lingkungan Praya Barat seperti yang telah dipamerkan pada demplot-demplot Balitkabi.

Tiga varietas yaitu Argomulyo, Grobogan, dan Devon 1 memberikan performa paling baik di lahan sawah tadah hujan yang digunakan sebagai demplot. Selain itu juga diperlihatkan dengan penanaman kedelai secara teratur dalam barisan membuat pertumbuhan kedelai lebih baik dan diharapkan memberikan hasil lebih tinggi.

Beberapa hal yang diharapkan oleh petani dapat dilaksanakan yaitu demplot dapat diletakkan di daerah lain yang kondisinya berbeda, harga kedelai yang stabil dan tidak merugikan petani, peran serta PPL lebih ditingkatkan, dan dibentuknya koperasi.

Para anggota Babinsa yang juga bertugas mendampingi dan mengawal program peningkatan produksi kedelai berharap agar mereka dapat diberi informasi yang lengkap tentang budidaya kedelai dan permasalahannya serta kerja sama yang erat dengan peneliti dan PPL sehingga program swasembada kedelai dapat terwujud.

Suasana gelar teknologi dan temu lapang di desa Setanggor, kecamatan Praya Barat, kabupaten Lombok Tengah.

Suasana gelar teknologi dan temu lapang di desa Setanggor, kecamatan Praya Barat, kabupaten Lombok Tengah.

AI/KN