Berita » Temu Lapang Kawasan Kedelai di Kec. Gabus, Kab. Pati

Dalam rangka mendukung program swasembada kedelai, tanggal 15 September 2016 BPTP Jawa Tengah menggelar temu lapang “Kawasan Kedelai” di Desa Tambahmulyo, Kec. Gabus, Kab. Pati, Jawa Tengah. Acara temu lapang dihadiri oleh sekitar 65 orang yang terdiri atas Kepala BPTP Jawa Tengah (diwakili oleh Bpk. Syamsul) dan para peneliti BPTP, peneliti kedelai Balitkabi (Prof. Dr. Arief Harsono, Dr. Suharsono, Dr. Novita Nugrahaeni, dan Dr. Gatut Wahyu A.S), Asisten II bidang Ekonomi Kab. Pati, Kepala Dinas Pertanian Kab. Pati, BPSB Kab. Pati, Ibu Niken Sawitri selaku Camat Gabus, jajaran Muspika wilayah Kec. Gabus, Kepala Desa dan Perangkat Desa Tambahmulyo, Penyuluh Pertanian Kec. Gabus, dan para petani anggota Kelompok Tani Krido Tani.

Kegiatan penanaman kedelai dan pendampingan terus dilakukan sebagai wujud keseriusan pemerintah dalam mencapai swasembada kedelai. BPTP Jawa Tengah pada tahun 2016 melaksanakan demplot pertanaman kedelai di Kab. Pati di dua lokasi yaitu di Desa Tambahmulyo Kec. Gabus dan Desa Dadi Makmur Kec. Margorejo, masing-masing seluas empat hektar. Bapak Syamsul mewakili Kepala BPTP Jawa Tengah dalam sambutannya menyampaikan bahwa BPTP Jawa Tengah telah lama melaksanakan kerja sama dengan Dinas Pertanian Kab. Pati. Harapannya, kerja sama dapat terus dilaksanakan dan ditingkatkan dalam mengembangkan pertanian di Kab. Pati. Sedangkan para pemangku kebijakan Kab. Pati mengutarakan bahwa para petani diharapkan dapat melaksanakan program pengembangan kedelai untuk memenuhi kebutuhan benih kedelai daerah lain, khususnya Kab. Grobogan dan untuk konsumsi. Petani merupakan ujung tombak dalam menerapkan teknologi yang sudah dihasilkan oleh lembaga penelitian.

Prof. Dr. Arief Harsono dalam acara diskusi dengan petani menyampaikan bahwa Balitkabi sekuat tenaga mendukung petani dalam mengembangkan kedelai. Balitkabi telah melepas banyak varietas kedelai yang disesuaikan dengan kebutuhan petani. Kendala utama pertanaman kedelai di Kec. Gabus adalah pada saat tanam dan pertumbuhan tanaman, curah hujan masih cukup tinggi, dan petani belum membuat saluran irigasi yang baik, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu. Untuk mengatasi hal tersebut, Prof. Arief menyarankan ke depan saluran drainase harus dibuat tiap 4–5 meter bedengan atau menggunakan varietas unggul baru kedelai tahan genangan yaitu Deja 1. Di samping kendala pengairan, tanaman kedelai juga terserang oleh hama lalat batang yang biasanya menyerang pada saat tanaman berumur 1 bulan. Hama tersebut dapat diatasi menggunakan insektisida sistemik. Serangan hama tersebut dapat menurunkan hasil, kualitas, dan vigor benih, demikian penjelasan Dr. Suharsono.

Pada akhir acara, petani menyampaikan harapannya agar harga kedelai dapat ditingkatkan agar dapat bersaing dengan jagung dan layak secara ekonomi.

pati

GWAS/KN