Berita » Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Ir. Baran Wirawan, M.Sc. Bakar Semangat Peneliti Balitkabi

berita_27_jul_18aKamis siang 26 Juli 2018 di ruang diskusi Balitkabi, empat jam waktu berlalu, diskusi yang kental tentang komoditas akabi ditambah brainstorming visi-misi pangan masa depan dunia, khususnya peran strategis negara wilayah tropika sebagai kawasan rebutan untuk pensuplai kebutuhan pangan. Sosok Ir. Baran Wirawa, M.Sc., mampu membakar semangat peneliti yang hadir dalam diskusi.

Perang dagang satu keniscayaan, Indonesia harus siap menghadapi trend negara penghasil pangan menerapkan kembali proteksi dan perlawanan Presiden USA Donald Thrump terhadap WTO. “Pangan akan langka dan semakin mahal,” ujar Pak Baran yang didampingi Staf Sekjen Kementan di hadapan peneliti Balitkabi yang luar biasa aktif selama diskusi.

“Balitkabi adalah salah satu gudang inovasi pertanian, saat ini seperti terkunci, jika kunci ini tidak dibuka, orang lain tidak akan pernah tahu inovasi hebat apa yang sudah dihasilkan oleh Balitkabi,” ujar Baran dengan penuh semangat. Kita harus bisa mengemas inovasi yang kita buat menjadi sesuatu yang atraktif, sehingga menarik minat banyak pihak. “Balitkabilah pemegang kuncinya,” lanjutnya.

Kita harus bisa mengangkat produk pangan kita. Ubi kayu adalah komoditas yang sangat prospektif. Fungsi ubi kayu tidak hanya sebagai food, tetapi juga feed, fiber, dan fuel. “Hal tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang,” ujar Baran. Kita harus dapat mengurai permasalahan dalam pengembangan komoditas ubi kayu, karena ubi kayu memiliki manfaat yang luar biasa. “Produk diversifikasi pangan dari ubi kayu harus segera dikembangkan dan diboomingkan,” tegas Baran lebih lanjut.

Terkait kedelai, kita harus berani meneriakkan bahwa kedelai yang kita produksi adalah kedelai non-GMO yang tidak membahayakan kesehatan,” kata Baran dengan berapi-api. Kedelai non-GMO selayaknya dapat harga yang tinggi. Namun kita belum tahu pasti berapa harga kedelai non-GMO yang ada di Amerika, karena informasi harga tersebut sangat sulit diperoleh.

Saat ini impor kedelai masih sangat tinggi, sekitar 60% dari kebutuhan nasional. “Beranikah kita stop impor kedelai?,” tanya Baran. “Kita harus berani. Kemungkinan masyarakat dan pengrajin akan “collapse” sebentar, namun saya yakin itu hanya berlangsung sebentar, dan kita akan bangkit mengembangkan kedelai lokal dan mencari alternatif kacang pengganti kedelai,” ujar Dr. A.A. Rahmnianna.

“Untuk mengangkat komoditas kedelai dan ubi kayu khususnya, pemerintah harus berani stop impor,” kata Prof. Didik Harnowo. Jika impor dibatasi, maka akan mampu mendongkrak harga kedua komoditas tersebut. Dengan harga yang bersaing, maka petani dengan sendirinya akan membudidayakannya.

“Pemerintah sebaiknya juga harus mulai memikirkan melakukan subsidi output, bukan subsidi input seperti yang dilakukan selama ini,” imbuh Ir. Fachrur Rozi, M.S., peneliti senior sosial ekonomi Balitkabi.

Menurut Baran, kalau ingin petani sejahtera memang idealnya diberi subsidi output, namun harus dipikirkan betul karena membutuhkan dana yang tidak sedikit. Harus ada perencanaan yang kuat dari pemerintah untuk mengimplementasikan hal tersebut.

Diskusi semakin seru, namun harus segera diakhiri. Dalam akhir kunjungannya, Baran menyampaikan bahwa dalam mengatasi masalah pangan ini, kebijakan boleh berubah, namun harus ada satu program yang dilakukan secara berkelanjutan. “Geo pangan ke depan ada di daerah tropis,” kata Baran. Indonesia sebagai Negara tropis harus segera mempersiapkan diri. Mari kita sukseskan program “Indonesia Lumbung Pangan Dunia”.

berita_27_jul_18b

Di akhir acara, Dr, Yuliantoro Baliadi selaku Kepala Balitkabi berharap, berdasarkan arahan yang diberikan, Balitkabi harus dapat membuat prioritas program penelitian ke depan.

Nusantara Menjawab………….
#Substitusi Pangan Karbohidrat
#UbiKayu As Food, Feed, Fiber and Fuel
#Pangan Ubi Hadir di Meja Makan Keluarga

YB/KN