Berita » Tingkatkan Fokus Penelitian, Balitkabi Gelar Seminar Evaluasi Hasil Penelitian 2018

hasilRekomendasi hasil penelitian dibangun dari proses yang panjang namun terukur, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. “Tujuan diadakannya evaluasi melalui seminar hasil penelitian adalah untuk mempertanggungjawabkan secara sains anggaran penelitian yang telah diamanahkan rakyat,” ujar Kepala Balitkabi saat membuka acara Seminar Hasil Penelitian Tahun 2018 tanggal 19‒20 Desember 2018. Seminar diikuti oleh pejabat eselon IV, seluruh peneliti, teknisi, serta koordinator kebun percobaan. Dalam arahannya, Yuliantoro menekankan semangat gotong royong dan komunikasi yang harus terjalin dengan baik agar terjadi harmonisasi dan sinergitas dalam kecepatan kerja, kualitas kerja, dan kinerja. “Tidak perlu merespon secara negatif, buktikan dengan aksi, yang penting mau melakukan perbaikan untuk semakin meningkatkan fokus penelitian demi perbaikan di masa mendatang,” pesannya.

Ada yang tidak biasa pada pelaksanaan seminar kali ini, sebelum masuk acara inti, peserta seminar melakukan doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars WBK, mengumandangkan salam SPI dan WBK, serta senam Maumere untuk menghangatkan suasana. Seminar yang berlangsung selama dua hari ini membahas 16 RPTP oleh dua tim pembahas. Pada hari pertama, dibahas delapan RPTP yang terdiri dari dua RPTP Perakitan Varietas, satu RPTP Konsorsium Perakitan Varietas, dua RPTP Perbaikan Teknologi, satu RPTP Pengelolaan SDG, satu RPTP Produksi Benih Sumber, dan satu RPTP Perbaikan Teknologi Hama Penyakit Tanaman. Tim Pembahas pada hari pertama adalah: Prof. Arief Harsono, Dr. Novita Nugrahaeni, Dr. Yusmani Proyogo, dan Ir. I Ketut Tastra, MS yang dipimpin oleh Dr. Rudi Iswanto sebagai Moderator.

Beberapa point penting yang menjadi perhatian Kepala Balai diantaranya adalah tahun 2019 merupakan tahun penutup program penelitian lima tahunan (2015–2019), dari aspek varietas siapkan varietas yang akan ditonjolkan (dari yang sudah baik, pilih yang terbaik), kemudian tentukan prioritas. Dari aspek teknologi, siapkan teknologi yang siap pakai, bagaimana ketersediaannya (bahan bakunya), tunjukkan angka-angka untuk mewujudkan teknologi (efisiensi), dan juga mengidentifikasi teknologi yang dapat dipatenkan. Dari aspek SDG, dibedah kembali potensinya terutama potensi SDG kedelai yang dapat mencapai 4 t/ha, serta tambahan koleksi dari eksplorasi pada semua komoditas kacang maupun umbi.

Pada hari kedua juga dibahas delapan kegiatan dengan Tim Pembahas Prof. Didik Harnowo, Dr. A.A. Rahmianna, dan Ir. Fachrur Rozi, MS. Pembahasan hari kedua dipimpin oleh Dr. Andy Wijanarko. Judul kegiatan yang dibahas meliputi: RPTP Perakitan Varietas Ubi Kayu dan Ubi Jalar, RPTP Perbaikan Komponen Teknologi Budi Daya Ubi Kayu dan Ubi Jalar, SL-Kedaulatan Pangan mendukung Swasembada Pangan Terintegrasi Desa Mandiri Benih, dan lima kegiatan Gelar Lapang Inovasi Pertanian (GLIP) melalui Pengembangan Paket Teknologi Budi Daya Kedelai Balitkabi (BUDENOPI, BUDESA, BUDENA, KEPAS, dan BIODETAS).

Kepala Balitkabi menyampaikan apresiasinya karena semua IKU yang ditargetkan pada tahun 2018 telah terpenuhi, selanjutnya apresiasi juga disampaikan kepada para penanggungjawab kegiatan yang telah berhasil mempresentasikan hasil penelitian dengan baik dan kepada seluruh peserta yang telah mengikuti kegiatan seminar selama dua hari ini. Menutup kegiatan Seminar Evaluasi Hasil Penelitian 2018, Kepala Balitkabi menyampaikan beberapa arahan, antara lain: (1) Setelah seminar hasil ini diharapkan ada satu seminar hasil penelitian Balitkabi yang disampaikan di depan stake holder salah satunya BPTP, untuk itu kepada Koordinator Program dan Ka. Yantek agar memilih dan menyiapkan hasil penelitian mana yang bisa ditampilkan. Harapannya agar BPTP mengetahui hasil penelitian Balitkabi untuk dikaji di 33 Provinsi, (2) Jaslit diharapkan bisa menindaklanjuti kegiatan seminar ini dalam bentuk kerjasama dan diseminasi, (3) Hasil penelitian Balitkabi telah sukses dibuktikan melalui KTI, testimoni dari berbagai pihak, dan penyebarluasan melalui media sosial, namun pertanyaannya apakah sudah bisa diterima atau diadopsi oleh petani?, (4) Memikirkan bagaimana strategi ke depan agar kegiatan GLIP tetap bisa diterima dan diadopsi petani meskipun tanpa dikawal dan didanai, (5) Renstra 2015‒2019 akan berakhir tahun 2019, perlu disiapkan rangkuman hasilnya (succes story), (6) Mengevaluasi kegiatan penelitian yang telah berjalan (lanjut/stop), (7) Perakitan varietas harus melibatkan pengguna (Partisipatif Breeding) sehingga verietas yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen, (8) Peran SDG sebagai sumber tetua unggul, kedepannya perlu disiapkan materi genetik untuk perakitan varietas yang tahan terhadap dampak perubahan lingkungan, (9) Sosek berperan penting mengawal teknologi budi daya, dan (10) Diharapkan ada satu KTI dari Sosek tentang pencapaian dari kegiatan GLIP untuk meyakinkan stakeholder bahwa teknologi yang didiseminasikan valid dan dapat meningkatkan produksi, serta satu KTI yang bisa meyakinkan pengguna bahwa seluruh teknologi budi daya yang dihasilkan Balitkabi selaras dengan produksi benih.

RTH/WR