Berita » Tomcat : Serangga Predator Sahabat Petani, Dapat Meracuni Manusia

tomcat_1

Serangga tomcat Paederus telah mengegerkan kota Surabaya dengan banyaknya masyarakat yang menjadi korban akibat racun (toksin) yang dikeluarkan. Toksin yang dikeluarkan dikenal sebagai dermatitis linearis atau lecet kulit yang ditandai oleh erythematous dan tiba-tiba mengalami lesi pada area terbuka dari tubuh manusia.  Daerah sebaran dan serangan kumbang Paederus ini meliputi Kecamatan Mulyorejo, Kecamatan Sukolilo, Tegalsari, Sawahan, Jambangan, Rungkut, Bulak, Sukomanunggal dan Gunung anyar.

 

 

Bioekologi Kumbang Paederus

Kumbang Paederus termasuk dalam genus Paederus adalah serangga yang termasuk dalam keluarga (kumbang pengembara) Staphylinidae, di bawah ordo Coleoptera. Genus  Paederus memiliki hampir 600 spesies di seluruh dunia. Kumbang Paederus  adalah predator dari serangga lainnya pada daerah persawahan. Paederus telur diletakkan secara tunggal, di habitat lembab  daerah pertanian seperti sawah. Larva melewati dua instar sebelum pupation. Tahap fase larva kumbang Paederus berkembangkan di daerah lembab seperti rawa-rawa, lahan pertanian beririgasi dan lahan basah air tawar sekitarnya. Larva biasanya memakan ganggang, serangga kecil dan tumbuhan yang membusuk dan hewan bahan yang ditemukan di habitat ini. Serangga dewasa adalah predator serangga lain dan sering ditemukan selama siang hari untuk mencari mangsa atau beristirahat pada vegetasi dan struktur di sekitar lokasi lingkungan mereka. Serangga ini merupakan sahabat petani untuk mengusir dan memakan jenis kutu dan serangga kepik hama padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau. Ukuran tubuh kumbang ini kecil kurang lebih 1-1,5 cm. Memiliki warna tubuh  oranye gelap  kepala, perut berwarna hitam. Dewasa kumbang bisa hidup selama beberapa bulan dan menghasilkan dua atau lebih generasi per tahun. Pada malam yang cerah, menara cahaya dan lainnya sumber cahaya dapat menarik kumbang dewasa dari habitatnya. Kumbang Paederus telah dikenal untuk terbang dalam jumlah besar pada malam yang hangat, terutama setelah hujan lebat atau banjir.

Gambar 1.  Imago Serangga Paederus spp.

Serangan pada manusia

Meskipun Paederus kumbang tidak menggigit atau menyengat, Kumbang ini perlu diwaspadai, karena mereka dapat mengeluarkan toxin (racun) bila bersentuhan dengan kulit manusia secara langsung. Bisa juga dengan sentuhan tidak langsung melalui pakaian, baju atau alat lain yang tercemar oleh racun tomcat tersebut. Toxin yang dihasilkan biasa disebut Pederin menyebabkan Kulit  iritasi hasil dari kontak dengan pederin racun yg menyebabkan bengkak/melepuh pada kulit manusia.

Gambar 2. Pederin, racun yg menyebabkan bengkak/melepuh pada kulit manusia

Mengapa populasi meningkat?

Populasi kumbang meningkat pesat pada akhir musim hujan  dan kemudian dengan cepat berkurang dengan timbulnya cuaca kering. Populasi yang meningkat dikaitkan dengan musim hujan dan fenomena elnino.  Dinamika populasi serangga banyak dipengauhi oleh factor serangganya sendiri yaitu kemampuan serangga itu berkembang biak.  Sedang factor luar di pengaruhi oleh rantai makanan, lingkungan fisik dan musuh alami.

Rantai makanan: perubahan ekosistem dari lahan pertanian/rawa menjadi tempat pemukiman membawa dampak dinamika populasi kumbang Paederus spp. Kumbang Paederus sebagai predator dengan perubahan ekosistem dari persawahan atau rawa menjadi tempat pemukiman, gedung bertingkat kumbang tidak lagi mendapatkan makanan karena populasi mangsa berkurang, yang akhirnya kumbang ini mengembara.  Ditempat pemukiman dengan adanya gemerlapan lampu di perumahan menjadi daya tarik serangga-serangga kecil jenis kutu-kutuan berkumpul di sekitar pijarnya lampu.  Kumbang Paederus termasuk serangga yang tertarik akan pijarnya lampu di malam hari.  Karakter kumbang Paederus juga tertarik akan pijarnya lampu dan serangga lain yang juga tertarik akan pijarnya lampu maka kumbang Paederus di tempat perumahan itu akan mendapatkan mangsa yang selanjutnya akan menjamin kelangsungan hidup serangga Paederus karena ada pemangsa dan mangsa.

Perubahan iklim: perubahan iklim yang terjadi pada akhir-akhir minggu ini kondisi iklim  cukup lembab, hujan turun hampir setiap hari memicu perkembang biakan kumbang Paederus.  Kumbang Paederus telah dikenal  terbang dalam jumlah besar pada malam yang hangat, terutama setelah hujan lebat atau banjir

Musuh alami: Musuh alami yang menyerang kumbang Paederus (Virus, Cendawan, Bakteri) dalam kondisi rendah dan tidak mampu mengendalikan kumbang Paederus secara alami.  Akibatnya kumbang Paederus populasinya meningkat dengan pesat dan terbang menuju pemukiman denga tertarik akan cahaya lampu penerangan, disitu serangga ini juga menemukan mangsanya.

Pengendalian

Padatnya populasi kumbang Paederus di tempat pemukiman tidak di anjurkan untuk dikendalikan dengan insektisida, mengingat insektisida akan ber pengaruh buruk terhadap manusia, hewan, dan serangga yang berguna lainnya.  Cahaya lampu dan warna kuning paling disukai oleh serangga oleh karena itu lampu dan papan berwarna kuning dapat di pakai sebagai alat pengendalian serangga. Cara pengendalian  dengan penggunaan lampu perangkap, lampu yang di bawahnya di letakan panci/pan yang berisi air dan diterjen atau insektisida.  Penggunaan papan perangkap kuning, yakni papan berwarna kuning yang telah diberi lem di tempatkan di dekat lampu, kumbang Paederus akan mendekat dan menempel pada papan kuning.  Gunakan pakaian dengan lengan panjang, dan sarung tangan akan membantu melindungi kulit dari kontak dengan kumbang. Gunakan kawat jaring pada jendela rumah dan kantor untuk membantu mencegah kumbang Paederus dan serangga lainnya masuk ke dalam rumah. Hilangkan vegetasi yang membusuk di sekitar bangunan dan area kerja untuk menghilangkan tempat yang dapat menjadi perkembangan kumbang dan larva. Jika kumbang Paederus hinggap pada kulit Hindari keinginan untuk membunuh setiap kumbang Paederus untuk mencegah kumbang melepaskan pederin  pada kulit dan bila tidak sengaja dipencet/dibunuh pada kulit, segera cuci bagian yang terkena dengan air dan sabun. Pederin perlahan dapat menembus kulit. Cuci segera untuk membuang  toksin sebelum membahayakan kulit. Reaksi kulit terhadap pederin berbeda tergantung tingkat sensitif dari kulit.

Prof Marwoto/Win (Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan umbi-umbian)