Berita » Tren Pengembangan Ubijalar Dunia

tren

Penyediaan bahan pangan untuk memenuhi konsumsi penduduk dunia yang terus meningkat merupakan tantangan berat yang harus dihadapi pemulia tanaman di masa mendatang. Pada hari Senin, tanggal 30 Mei 2016 perwakilan dari CIP Peru Dr. Grunëberg Wolfgang memaparkan tentang “Future Trends in Sweetpotato Development” di Aula Balitkabi. Acara seminar dihadiri oleh seluruh peneliti, calon peneliti dan pejabat terkait. Dr. Didik Harnowo selaku kepala Balitkabi berkesempatan membuka acara seminar tersebut. Beliau menyambut baik kesediaan Dr. Wolfgang untuk berbagi pengalaman penelitian ubijalar selama di CIP. International Potato Center (CIP) merupakan organisasi dunia yang bergerak di bidang pertanian, terutama untuk komoditas ubijalar, dan kentang. Beliau berpesan agar peneliti Balitkabi dapat menggunakan kesempatan ini untuk saling bertukar pengalaman dan memperluas pengetahuan terutama perkembangan ubijalar dunia saat ini dan masa depan.


Gambar 1. Suasana Seminar Internal oleh Dr. Grunëberg Wolfgang.

Dr. Wolfgang memaparkan bahwa ubijalar memiliki beberapa keunggulan di antaranya dapat menghasilkan pangan lebih banyak dengan area tanam yang sama, efisien dalam penggunaan air dibandingkan komoditas lain, memiliki nutrisi yang baik untuk diet, kehilangan hasil tidak terlalu besar, serta dapat digunakan sebagai bahan pangan dan pakan. Perkembangan pasar di dunia saat ini adalah ubijalar digunakan sebagai produk antara (tepung), puree untuk roti, bahan pakan, umbi ubijalar tidak manis (tawar) namun memiliki rasa seperti kentang potensial diolah sebagai produk yang lebih variatif.

Tidak terlalu berbeda jauh dengan Indonesia, tujuan pemuliaan ubijalar di CIP antara lain: (1) hasil tinggi, stabil dan adaptif di berbagai ekologi; (2) rasa enak dan kaya nutrisi; (3) resisten terhadap virus (SPVD), (4) resisten terhadap hama boleng; dan (5) toleran terhadap kekeringan dan panas. Hal yang menarik dari pemaparan Dr. Wolfgang adalah tentang skema teknik percepatan pemuliaan tanaman yang diperbanyak dengan klon atau Accelerated Breeding Scheme for clonally propagated crops (ABS). Menurut Dr Wolfgang, teknik pemuliaan tradisional saat ini sangat lambat untuk mencapai kemajuan penelitian, dan menarik minat peneliti muda serta pemberi dana.

Teknik ABS merupakan modifikasi dari teknik pemuliaan tanaman klon pada umumnya. Ada dua pendekatan yang menyebabkan teknik ini lebih cepat menghasilkan, yaitu: (1) ABS dilakukan dengan mengurangi tahun pengujian namun memperbanyak lokasi pengujian berdasarkan estimasi komponen varian termasuk pada tahap awal pemuliaan (Gambar 2); dan (2) seleksi genomik-menggunakan marker SNP atau DArT dan model prediksi (dalam tahap pengembangan). Dengan skema ABS yang dikembangkan oleh Dr. Wolfgang maka varietas yang dihasilkan akan lebih banyak. Selain menerangkan tentang teknik ABS, Dr. Wolfgang juga menjelaskan tentang heterosis dan peningkatan heterosis.


Gambar 2. Skema teknik ABS.

Antusiasme Peneliti Balitkabi tampak dari pertanyaan yang dilontarkan, diantaranya apakah persilangan resiprok digunakan dalam ubijalar teknik ABS, apakah ada pengaruh tetua betina pada keturunannya (maternal effect), bagaimana jika yang dihadapi adalah lahan yang tidak subur dan masam seperti Lampung, dan lain sebagainya. Dr. Wolfgang mengemukakan bahwa mereka tidak menggunakan persilangan resiprok, dan berdasarkan pengalaman mereka di Peru tidak ada pengaruh maternal effect. Untuk mendapatkan genotipe yang dapat tumbuh pada lahan yang tidak subur adalah ketersediaan genotipe yang toleran.

Pada seminar ini juga disampaikan perkembangan ubijalar di Mozambik oleh Dr. Maria. Pada tahun 1997‒1998 ubijalar yang banyak berkembang di sana adalah yang berdaging umbi putih. Pada tahun 1999 telah banyak berkembang ubijalar berdaging umbi oranye yang kaya betakaroten sebanyak 8 varietas. Peran pemerintah dan LSM sangat mendukung penelitian dan pemasaran ubijalar. Perakitan varietas ubijalar oranye ditujukan untuk mengatasi defisiensi vitamin A di Mozambik. Pemerintah dan LSM banyak mendorong para wanita untuk menanam dan mengolah ubijalar oranye menjadi bahan pangan yang memiliki nilai jual lebih. Dibutuhkan strategi pemasaran yang baik sehingga pada akhirnya ubijalar menjadi komoditas prioritas di Mozambik.

RTH/AW