Berita ยป Ubikayu Malang-4 Disukai Pesanggem Perhutani Blora

Varietas unggul ubikayu Malang-4 disukai para pesanggem wilayah Perhutani Blora, karena selain hasilnya lebih mantap dan stabil, kandungan patinya pun lebih tinggi, dan dari sisi usahatani juga lebih menjanjikan. Pak Yono, Pak Eko, dan beberapa penggarap yang juga anggota Lembaga Masyarakat Dekat Hutan (LMDH) menyampaikan kesukaannya pada Malang-4 saat pembukaan “Temu Lapang Budidaya Ubikayu di Bawah Tegakkan Jati” di Desa Bogem Kec. Japah Kab Blora Jawa tengah, Selasa (23/7) sore. Menurut mereka, awalnya mereka menyukai Cecek Ijo, karena sosoknya meyakinkan. Namun setelah dipanen ternyata Malang-4 lebih menjanjikan untuk hasil dan rendemen patinya. Maka mereka pun bersepakat untuk selanjutnya akan menanam Malang-4.Pak Eko dan kawan-kawan benar. Hasil rata-rata Malang-4 di hutan jati Bogem mencapai 33 ton per hektar, lebih tinggi dibanding Adira-4 dan UJ-5 (28 t/ha), Cecek Ijo dan Litbang UK-2 (di bawah 24 t/ha). “Itulah data produktivitasnya”, tutur Ir. Budi Santoso Radjit, M.S., saat memaparkan hasil penelitian di Bogem. Dari ekonomi pun, Malang-4 lebih menjanjikan. Inputnya sama (hampir 4,8 juta) keuntungan usahatani dengan Malang-4 lebih menjanjikan (16 juta), dibanding Adira-4, Cecek Ijo (13 juta), UJ-5 (12,6 juta), dan Litbang UK-2 yang hanya memberi keuntungan 9,2 juta rupiah. Hampir seluruh petani pesanggem di Bogem tidak ada yang memanen ubikayunya. Semuanya ditebaskan. Para pesanggem tidak ikut memanen. Harga tebasannya berkisar 14-16 juta rupiah. Secara pukul rata para kawan Pak Eko, biasanya menerima bersih 10 hingga 12 juta rupiah. Jika berhitung maka dalam satu bulan petani bayaran 850 ribu hingga 1,2 juta rupiah. “Oleh karena itu saya ajak para petani untuk ikit memelihara jatinya, sehingga kita untung perhutani juga untung”, tutur salah satu tahun petani pesanggem saat berdiskusi.

Sementara itu Administratur KPH Cepu, Ir. Joko Sunarto pada menyampaikan bahwa awal program penanaman ubikayu di bawah tegakkan jati merupakan jawaban atas tantangan yang diberikan atasannya kepada Pak Joko. Saat “proper test” sebelum menduduki jabatan Administratur, Pak Joko ditanya apa yang bisa dilakukan untuk mengamankan tanaman pokok (jati) sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan? Maka Pak Joko pun memutar pikiran, dan dalam proses muncullah ide ubikayu di bawah tegakkan jati. Untuk meyakinkan idenya tidak salah, Pak Joko bersama Dinas Kehutanan, berkomunikasi dengan Balitkabi untuk mengadakan penelitian di Hutan Jati di sini. “Sore ini saya sangat senang. Petani mulai besok bisa panen ubikayu. Dan terbukti Jati kami lebih aman”, tutur pak Joko saat memberi sambutan.
Sementera itu Dr Yusmani Prayogo, Plh Kepala Balitkabi menyatakan bahwa Balitkabi siap membantu petani dan perhutani untuk pengembangan ubikayu. Khususnya untuk teknologi, termasuk di dalamnya pelayanan benih/bibit ubikayu. Para pencari benih atau bibit ubikayu, tidak perlu datang ke Balitkabi di Malang. Cukup cek di web site Balitkabi. Data perbenihan di-update secara rutin. “Bapak dan Ibu bisa langsung melihat ketersediaan benih/bibit di web Balitkabi, langsung pesan bibit tersebut. Tanpa harus ke Malang. Jadi akan lebih menghemat”, tutur Dr Yusmani.


Ubikayu disukai petani pesanggem karena pekerjaan usahataninya tidak rebyek. Olah tanah, tanam, pupuk, dan biarkan hingga panen. Oleh karena kemudahan dan kepraktisan tersebut, Pak Yono, pesanggem Ketua LMDH dari Sumberejo, akan ikuti hasil penelitian Balitkabi dan mendorong kawan-kawannya agar tertib ikuti anjuran dan patuhi perjanjian dengan Perhutani. “Ya utamanya Malang-4, yang sudah terbukti lebih unggul”, tutur Pak Yono diamini kawan-kawan pesanggem lainnya.Menurut Pak Joko, setiap tahun sekitar 300 ha lahan di bawah tegakan jati di wilayahnya siap disanggem petani LMDH. Namun memang harus benar-benar memperhatikan persyaratan dan perjanjian, agar saling menguntungkan. Di samping itu beberapa petani pesanggem minta di lokasi sanggemannya juga dibuat penelitian seperti di Bogem. “Temu Lapang Budidaya Ubikayu di Bawah Tegakkan Jati” ini merupakan pemaparan hasil penelitian ubikayu di bawah tegakan jati di hutan Bogem – Blora yang merupakan kerjasama Balitkabi dengan Perhutani Blora. Temu lapang diikuti oleh 100 orang terdiri dari petani penggarap lahan perhutani (pesanggem atau juga sering disebut magersaren) dan staf Perhutani KPH Blora. Hadir pula Kepala Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian Kab Blora Camat Japah, Kepala Desa Bogem, Plh Kepala dan peneliti Balitkabi.
Semoga sukses saudaraku pesanggem dan Perhutani Bogem, Blora.

AW