Berita » Uji Profisiensi mendukung Akreditasi Laboratorium Pengujian

Peserta Temu Teknis Program Uji Profisiensi 2018 di BBIA Bogor.

Peserta Temu Teknis Program Uji Profisiensi 2018 di BBIA Bogor.

Lima sektor industri yang perlu didorong dan diunggulkan dalam mendukung revolusi industri 4.0 di Indonesia adalah makanan dan minuman (mamin), otomotif, kimia, elektronik, dan tekstil. Dalam kaitannya dengan makanan dan minuman, jaminan keamanan, perlindungan konsumen dan peningkatan daya saing produk pertanian merupakan isu penting yang perlu didukung dengan standarisasi bahan baku dan produk serta proses pengolahannya (good handling and manufacturing practices). Untuk itu, keberadaan laboratorium pengujian memiliki peran yang strategis sebagai infrastruktur mutu penunjang standarisasi dan pengawasan keamanan pangan. Selain dilengkapi dengaan fasilitas yang memadai dan personil yang kompeten, laboratorium pengujian juga perlu diakreditasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) sehingga hasil ujinya dapat diakui di tingkat nasional maupun regional.

Salah satu persyaratan akreditasi laboratorium adalah mengikuti uji profisiensi minimal sekali setahun yang diselenggarakan oleh laboratorium bersertifikat ISO 17043 untuk uji profisiensi. Laboratorium Kimia Pangan sebagai bagian dari Laboratorium Pengujian Balitkabi (LP 518-IDN) yang telah terakreditasi KAN sejak 25 Mei 2011 mengikuti uji profisiensi yang diselenggarakan oleh Balai Besar Industri Agro (BBIA) Bogor pada bulan Juni-Oktober 2018 dengan bahan uji biskuit. Sebagai tindak lanjut, BBIA mengundang perwakilan dari laboratorium peserta untuk sosialisasi dan temu teknis hasil uji profisiensi tersebut yang dilaksanakan di Bogor pada tanggal 23 November 2018 dan dihadiri oleh sekitar 100 orang peserta dari 50 institusi pemerintah, industri maupun swasta. Balitkabi diwakili oleh Ir. Erliana Ginting M.Sc., Manajer Teknis dan Lina Kusumawati, S.Si., Analis Laboratorium Kimia Pangan.

Dalam sambutannya, Kepala Balitbang Industri Kementerian Perindustrian, Dr. Ir. Ngakan Timur Antara menyatakan bahwa sekitar 74% komoditas ekspor adalah produk industri sehingga peran laboratorium menjadi penting dalam menjamin mutu produk yang dihasilkan khususnya bagi Indonesia yang sedang dalam proses menuju negara maju. Beliau juga mengapresiasi banyak peserta muda yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan dan operasional laboratorium. Metode penghitungan secara statistik hasil uji profisiensi yang meliputi bahan uji palm oil (CPO), kopi instan, garam konsumsi beryodium dan biskuit dijelaskan oleh Untari Pudjiastuti dengan status hasil uji in lier (baik), diperingatkan, dan tidak baik (out lier).

Khusus untuk bahan uji biskuit, dari 38 laboratorium peserta, terdapat dua lab yang hasilnya out lier untuk kadar air, dua laboratorium untuk kadar abu, tiga laboratorium untuk kadar protein dan dua laboratorium untuk kadar lemak. Hasil uji kadar abu, protein, dan lemak Lab. Kimia Pangan Balitkabi termasuk kategori baik (in lier) sehingga dapat dijamin validitasnya. Sementara untuk kadar air, hasilnya masuk dalam kategori diperingatkan. Dari hasil diskusi diketahui jika ini berkaitan dengan perbedaan metode yang digunakan (SNI 1992) dengan metode yang banyak digunakan peserta lain, yakni SNI 2011 khusus untuk biskuit. Penggunaan suhu yang lebih tinggi pada metode kedua (130oC) mengakibatkan rata-rata kadar air lebih tinggi daripada yang dihasilkan Balitkabi (suhu 100–105oC). Namun, metode SNI 1992 ini akan tetap digunakan karena sesuai untuk uji semua bahan makanan dan merupakan ruang lingkup pengujian LP Balitkabi yang telah diakreditasi. Kegiatan uji profisiensi ini akan diselenggarakan setiap tahun dan cukup bermanfaat untuk menunjang keberlangsungan laboratorium yang telah terakreditasi oleh KAN. Disarankan juga agar BBIA memproduksi bahan acuan bersertifikat untuk bahan pangan (uji proksimat) sehingga dapat digunakan sebagai acuan setiap kali melaksanakan pengujian (control chart).

Kepala Balitbang Industri, Kementerian Perindustrian membuka acara Temu Teknis Uji Profisiensi 2018 (kiri) dan Untari Pudjiastuti menjelaskan metode statistik yang digunakan dalam uji profisiensi (kanan).

Kepala Balitbang Industri, Kementerian Perindustrian membuka acara Temu Teknis Uji Profisiensi 2018 (kiri) dan Untari Pudjiastuti menjelaskan metode statistik yang digunakan dalam uji profisiensi (kanan).

EG