Berita » Upaya Meningkatkan Produksi Kedelai di Lahan Pasang Surut

Peningkatan produksi kedelai untuk mencapai swasembada membutuhkan peningkatan luas panen hingga mencapai sekitar dua juta hektar, dengan produktivitas 1,6 t/ha. Salah satu jenis lahan yang mempunyai potensi cukup besar untuk pengembangan kedelai di Indonesia adalah lahan pasang surut yang selama ini belum banyak digunakan untuk usahatani kedelai.

Permasalahan kesuburan tanah yang tidak merata pH rendah dan populasi mikroorganisme mendukung pertumbuhan tanaman kedelai tidak optimal. Hama sering menjadi kendala produksi kedelai.

Permasalahan kesuburan tanah yang tidak merata pH rendah dan populasi mikroorganisme mendukung pertumbuhan tanaman kedelai tidak optimal. Hama sering menjadi kendala produksi kedelai.

Luas lahan pasang surut yang sesuai untuk tanaman pangan termasuk kedelai mencapai 10 juta hektar. Indonesia kini dihadapkan pada luas lahan optimal yang selama ini menjadi tumpuan produksi pangan, arealnya terus berkurang beralih ke sektor non pertanian.

Sementara itu kebutuhan pangan terus meningkat sejalan dengan terus bertambahnya jumlah penduduk. Badan Litbang pertanian, sebagai institusi penghasil inovasi teknologi bertugas mendukung program Dirjen Teknis dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan pertanian ke depan.

Untuk itu kegiatan penelitian yang dilakukan harus dapat menghasilkan “lompatan teknologi modern” yang dapat mendukung program Dirjen teknis, utamanya dalam hal menghasilkan varietas adaptif dan teknologi spesifik lokasi yang mampu memelihara kelestarian sumberdaya hayati, dan meningkatkan serta memelihara kesuburan tanah secara berkelanjutan.

Usahatani kedelai di lahan pasang surut sebenarnya cukup menjanjikan karena dengan perbaikan paket teknik budidaya di lahan ini mampu meningkatkan produktivitas kedelai dari 0,74−0,98 t/ha (cara petani) menjadi 1,85−2,0 t/ha.

Permasalahan utama di lahan pasang surut selama ini adalah pH tanah rendah (pH <5,0), keracunan Al dan Mn, kekurangan hara N, P, K, Ca, dan Mg, serta populasi mikroorganisme yang bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan tanaman tergolong rendah, disamping masalah kesuburan tanah, masalah yang muncul adalah hama ulat grayak (Spodoptera litura).

Oleh karena itu Balitkabi mengadakan serangkaian penelitian komponen teknologi produksi kedelai yang diarahkan di lahan pasang surut yang dikonsentrasikan di TSP Balitra dan di Kabupaten Barito Kuala (BATOLA) Kalimantan Selatan.

Keragaan galur kedelai toleran ulat grayak diamati Dr. Novita Nugrahaeni dan peneliti Balitra (kiri) dan Tim Balitkabi observasi keragaan galur kedelai toleran ulat grayak di TSP Balitra (kanan).

Keragaan galur kedelai toleran ulat grayak diamati Dr. Novita Nugrahaeni dan peneliti Balitra (kiri) dan Tim Balitkabi observasi keragaan galur kedelai toleran ulat grayak di TSP Balitra (kanan).

Penelitian pengembangan calon varietas kedelai toleran ulat grayak yang ditanam di TSP Balitra menunjukkan pertumbuhan yang cukup bagus dengan tinggi tanaman sekitar 60–70 cm, dengan jumlah polong 65–75 polong/tanaman, diperkirakan hasil dapat mencapai >2,5 t/ha.

Selama pertumbuhan dilakukan pengamatan karakter lain, ternyata galur ini selain toleran ulat grayak juga toleran terhadap kondisi masam. Kepala Balitra Dr. Herman Subagio, M.S., menyatakan kesanggupannya untuk mengembangkan uji multilokasi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Perbaikan komponen teknologi budidaya kedelai di lahan pasang surut Kalimantan Selatan.

Perbaikan komponen teknologi budidaya kedelai di lahan pasang surut Kalimantan Selatan.

Serangkaian penelitian untuk peningkatan produksi kedelai di lahan pasang surut Kabupaten BATOLA, Kalimantan Selatan meliputi:

  1. Matrikondisioning plus rizobium pada benih kedelai dengan tujuan untuk meningkatkan invigorasi benih kedelai,
  2. Uji varietas dan galur-galur kedelai,
  3. Teknologi pengendalian hama kedelai dengan tujuan untuk memperoleh pestisida nabati yang efektif dan cara aplikasi insektisida kimiawi berdasarkan pemantauan populasi hama,
  4. Uji efektivitas pupuk hayati dengan menggunakan Rhizobium, Mikoriza dan bakteri pelarut P, dan
  5. Perbaikan paket budidaya kedelai di lahan pasang surut.

Berdasarkan hasil observasi dapat disimpulkan sementara yaitu kunci sukses budidaya kedelai di pasang surut adalah:

  • perbaikan kondisi pH tanah dengan pengapuran
  • pemanfaatan mikroba untuk membantu pertumbuhan tanaman
  • varietas toleran masam sangat sesuai untuk pengembangan kedelai di pasang surut
  • invigorasi benih kedelai
  • tata letak saluran drainasi dan pengendalian hama penyakit berdasarkan pemantauan sesuai dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu.

MWT