Berita » Upaya Peningkatan Produksi Kedelai

Peluang peningkatan produksi kedelai di dalam negeri masih terbuka lebar, baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanam. Saat ini produktivitas nasional kedelai baru mencapai 1,4 t/ha dengan kisaran 0,6-2,2 t/ha di tingkat petani, sedangkan teknologi budidaya spesifik lokasi hasil penelitian dapat mencapai 1,7-3,2 t/ha, bergantung pada kondisi lahan dan teknologi yang diterapkan. Angka-angka ini menunjukkan bahwa teknologi produksi kedelai spesifik lokasi telah tersedia dan siap untuk diterapkan di tingkat petani. Data statistik tentang kedelai menunjukkan bahwa tren positif hanya kenaikkan produktivitas dari 1,2 t/ha tahun 2005 menjadi 1,4 t/ha di tahun 2014, sedang luas area dan produksi landai (stagnan). Peningkatan produktivitas kedelai dilakukan dengan penerapan teknologi spesifik lokasi. Perluasan areal tanam diupayakan melalui peningkatan indeks tanam (IP) di lahan sawah irigasi dan tadah hujan, lahan kering yang diberakan dengan sistem monokultur maupun tumpasari, areal tanam perkebunan, hutan yang belum optimal dan pembukaan areal baru. Peningkatan produksi dan perluasan areal masih terkendala dengan nilai kompetitif kedelai dengan komoditas pangan lainnya, terlebih pada areal tanam di sawah irigasi, tadah hujan dan di lahan kering. Upaya peningkatan produksi kedelai menuju swasembada, harus didukung kebijakan pemerintah melalui: (1) Koordinasi pemerintah pusat Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan BUMN (BULOG) untuk merumuskan proyeksi kecukupan ketersediaan kedelai dalam negeri, melalui produksi sendiri dan pembatasan impor sesuai kebutuhan segera, (2) Menetapkan dan merumuskan tataniaga kedelai, harga HPP. Jaminan pasar bagi petani sangat penting dan merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan kedelai, (3) Menetapkan kesesuaian hubungan program perluasan areal Kedelai dengan kesesuaian agroekologi di daerah sasaran, dengan mempertimbangkan : Luas lahan kedelai, Tipe lahan, Jenis tanah, tingkat kesuburan, Ketinggian tempat dari permukaan air laut, Tipe iklim, Musim tanam dan pola tanam, (4) Perluasan areal menghadapi kendala teknik produksi dan tenaga kerja, untuk itu di perlukan peningkatan kemampuan teknologi budidaya kedelai dengan pendampingan dan kelangkaan tenaga kerja dengan mekanisasi, (5) Penyediaan benih yang hampir setiap tahun menjadi masalah, menetapkan siapa yang bertanggung jawab untuk menyediakan benih, perencanaan benih dilakukan H minus 1. Perencanaan program mandiri benih harus disinkronkan dengan kebutuhan benih. (6) Pendampingan teknologi budidaya oleh peneliti, penyuluh pertanian dan pengamat hama. Demikian cuplikan paparan makalah dari Prof. Dr. Marwoto dari Balitkabi, yang disampaikan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Bogor 26 Februari 2015.

Dr. Made Jaya Mejaya Ka Puslitbangtan membuka acara seminar, Prof. Dr. Marwoto presenter dan peserta seminar dari lingkup
Kementerian Pertanian, Perguruan Tinggi dan Praktisi
Prof. Marwoto