Berita » Upsus Kedelai di Bali

Provinsi Bali diharapkan ikut serta menjadi penyumbang kebutuhan kedelai nasional. Upsus Kedelai kedelai diskenariokan melalui luas tanam 5.910 ha dan luas panen 5.652 ha, dan dua kabupaten terluas adalah di Jembrana (2.100 ha) diikuti oleh Gianyar seluas 1.175 ha.

Balitkabi mendapatkan tugas untuk melakukan pendampingan pada kegiatan Upsus Kedelai di Bali dan telah dilakukan pada tanggal 23–24 Juni 2015 oleh Prof. Dr. Marwoto dan Dr. Muchlish Adie. Selain penyerahan berbagai publikasi kedelai dari Balitkabi juga dilakukan diskusi dengan BPTP Bali, Dinas Pertanian Provinsi Bali dan kunjungan lapang, yang didampingi oleh penjab Upsus Kedelai dari BPTP Bali, Dr. Gusti Komang Dana.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Bali menyampaikan bahwa masalah kedelai berada di nilai kompetitifnya. Program mekanisasi yang dilakukan oleh pemerintah saat ini memberikan dampak positif di bidang tanaman pangan.

Yang masih diperlukan adalah pelatihan bagi operator di lapang, termasuk pada bengkel lokal. Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala Bidang Produksi Diperta Provinsi bahwa kompetitor kedelai adalah tanaman hortikultura.

Dicontohkan sewa lahan sawah 1 ha untuk ditanami tanaman hortikultura yang berumur 80 hari adalah Rp6.000.000/sekali tanam. Jika harga kedelai hanya Rp6.000/kg di tingkat petani dengan tingkat produksi 1.5 t/ha, memang semakin tidak menarik menanam kedelai. Disitulah pentingnya HPP kedelai di lapang.

Penyerahan publikasi ke Kepala BPTP Bali dan diskusi dengan Kepala Diperta Provinsi Bali.

Penyerahan publikasi ke Kepala BPTP Bali dan diskusi dengan Kepala Diperta Provinsi Bali.

Pertemuan dengan petani dan penyuluh di Subak Bengkel Tabanan dan observasi lapang.

Pertemuan dengan petani dan penyuluh di Subak Bengkel Tabanan dan observasi lapang.

Di Kediri Tabanan, petani menanam kedelai secara turun-menurun, dan kedelai umumnya ditanam sekitar bulan Februari. Yang dikeluhkan petani adalah sulitnya mendapatkan benih pada musim tanam tersebut dan jika ada benih, seringkali daya tumbuhnya kurang baik.

Tim Balitkabi dan BPTP Bali, menyampaikan pentingnya benih bermutu dan sistem jabalsim; juga disampaikan teknologi budidaya untuk kedelai. Menurut tokoh petani, dulu di daerah gunung pada musim hujan ditanami kedelai namun dengan berubahnya harga jual maka kedelai sudah tidak ditanam lagi.

Pengalaman tersebut memberikan peluang untuk menggerakkan kembali jabalsim di Tabanan. Observasi lapang, kedelai ditanam secara sebar dan karena nilai jual kurang layak maka pemeliharaan kedelai tidak dilakukan secara optimal.

Pada lokasi yang pertumbuhan kedelai bagus, peluang memperoleh hasil 1,8–2,0 t/ha di Tabanan memberikan harapan. Sekali lagi ketersediaan benih dan harga jual masih perlu mendapatkan penanganan.

MMA