Berita ยป Varietas Unggul dan Waktu Tanam Tepat Kunci Produktivitas Tinggi Kedelai di Nganjuk

Bertanam kedelai sebelum bawang merah diyakini petani di daerah Desa Banaran Wetan, Kec. Bagor, Kab. Nganjuk memberikan pengaruh positif terhadap produksi bawang merah. Kabupaten Nganjuk merupakan salah satu sentra kedelai di Jawa Timur yang sudah turun temurun melakukan budi daya kedelai sejak tahun 1960an, seiring perkembangan pola tanam saat ini petani menerapkan budi daya padi-kedelai-bawang merah-bawang merah.

Penanaman kedelai setelah panen padi, dimaksudkan untuk mengkondisikan tanah lebih kondusif untuk bertanam bawang merah. Budi daya kedelai juga dinilai petani tidak memerlukan sarana produksi yang banyak serta perawatan lebih mudah dibandingkan budi daya bawang merah. Kelebihan usaha tani bawang merah adalah nilai ekonomi lebih tinggi karena harga jual bawang merah mencapai Rp. 20.000 per kg, jika per hektar mampu menghasilkan 3 t petani akan meraup keuntungan sekitar Rp. 37 juta dengan perkiraan biaya produksi per hektar Rp. 23 juta. Sedangkan harga jual kedelai per kg jika mencapai Rp. 7.000 dengan hasil biji 2,4 t/ha akan diperoleh keuntungan sekitar Rp. 9-10 juta dengan biaya produksi kedelai sekitar Rp. 6-7 juta per hektar. Kepastian harga jual kedelai yang pantas akan meningkatkan minat petani untuk tetap berusahatani kedelai. Demikian disampaikan Bapak Subono dan Sukidjan Ketua Kelompok dan Sekretaris Kelompok Tani Ngudi Mulyo di Banaran Wetan, Ngajuk saat ditemui tim Balitkabi pada akhir Oktober 2020.

Menurut Subono dahulu petani di daerah Nganjuk menanam kedelai lokal dengan hasil biji termasuk rendah, tetapi dengan dirilisnya varietas unggul petani beralih menggunakan benih kedelai varietas unggul dan dicapai peningkatan hasil. Varietas kedelai yang diminati hingga saat ini varietas Anjasmoro, tetapi petani cukup terbuka untuk mengadopsi VUB kedelai yang berumur genjah dan diminati/laku di pasaran.

Ada yang menarik di daerah ini yakni kedelai berbiji kecil justru lebih mahal dibandingkan kedelai berukuran biji besar atau sedang. Kedelai biji kecil harga jual per kg mencapai Rp. 9.000 walaupun permintaan tidak terlalu banyak, tetapi karena produktivitasnya rendah kurang dari 1t/ha maka harga jualnya cukup tinggi. Menurut bapak Sukidjan kedelai berbiji kecil diperoleh dari petani, dan penangkar belum mengembangkan jenis kedelai ini, sehingga nama varietas belum diketahui. Kedelai biji kecil akan dibuat kecambah.

Lahan kedelai di kab. Nganjuk adalah lahan sawah dan tadah hujan. Kedelai terutama dibudidaya kan di lahan berpengairan untuk di kec. Bagor, dengan sumber irigasi dari kali bening. Kepemilikan lahan petani sekitar 0,25-0,5 ha. Musim tanam kedelai di daerah kec. Bagor sekitar bulan Februari, karena pola tanam di sana adalah Padi- Kedelai- Bawang Merah-Bawang Merah. Produktivitas kedelai di daerah nganjuk rata-rata 2,8 t/ha atau 100 bagian menghasilkan 400 kuintal setara dengan 2,8 t/ha.

Adopsi teknologi budi daya yang dipadukan dengan kearifan lokal yang dinilai dapat meningkatkan hasil adalah penerapan sistem larik pada saat tanam dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm atau 30 cm x 15 cm, sebelumnya petani menerapkan cara tanam sebar. Cara tanam dengan tugal tidak disukai petani karena benih banyak yang busuk, terutama jika setelah tanam turun hujan, karena jenis tanah di sana cenderung berat.

Teknologi eksisting petani di kab. Nganjuk terutama di Kec. Bagor adalah penyiapan lahan dimulai sejak padi ditanam dengan membuat bedengan selebar 2,5 m, disertai parit drainase mengelilingi bedengan dengan lebar 40-50 cm, kedalaman 40cm. Setelah panen padi lahan segera dibersihkan, jerami dipotong dan digunakan sebagai mulsa tipis. Digunakan herbisida pra tumbuh sekitar 3 hari sebelum tanam, waktu tanam dilakukan secara serentak dalam satu kawasan, serta menggunakan benih berlabel kecuali kedelai biji kecil. Pemupukan menggunakan SP-36 sebanyak 50 kg/ha bersamaan saat tanam dan pada umur 15 hst paling lambat diberikan pupuk Phonska sebanyak 150 kg/ha. Pengendalian gulma menggunakan herbisida pada dua minggu setelah tanam. Pengendalian hama dan penyakit menggunakan metode PHT juga menggunakan biopestisida dan agen hayati. Pupuk cair yang dibuat sendiri juga digunakan untuk memacu pertumbuhan dan pembungaan.

Dengan menerapkan teknologi budi daya seperti di atas kelompok tani Ngudi Mulyo berhasil meraih Juara II kategori : Agribisnis Kedelai tahun 2019 dalam lomba AgribisnisTanaman Pangan dan Hortikultura tingkat Provinsi Jawa Timur. Menurut Pak Bono produktivitas kedelai di kabupaten Nganjuk masih berpotensi untuk ditingkatkan menjadi 3,0 hingga di atas 3,5t/ha dengan cara menanam kedelai pada musim tanam yang tepat, serentak dalam satu kawasan sekitar bulan Februari, menggunakan varietas unggul berdaya hasil tinggi misalnya Devon, Dena dan Anjasmoro, penambahan pupuk P masih memungkinkan untuk ditambah dari takaran sekarang 50 kg/ha SP-36, disamping 150kg/ha Phonska.

20201105-nganjuk nganjuk
Bapak Subono dan Sukidjan Ketua Kelompok dan Sekretaris Kelompok Tani Ngudi Mulyo, Nganjuk dengan Piagam Penghargaan Juara II kategori : Agribisnis Kedelai tahun 2019 Tingkat Jawa Timur

 

Tim Balitkabi saat wawancara dengan Bapak Subono dan Sukidjan menggali informasi optimasi teknologi budi daya kedelai produktivitas di atas 3,5 t/ha di Kab. Nganjuk 2020

Tim Balitkabi saat wawancara dengan Bapak Subono dan Sukidjan menggali informasi optimasi teknologi budi daya kedelai produktivitas di atas 3,5 t/ha di Kab. Nganjuk 2020

RDP/HP/AA