Berita » Wana Tani untuk Keberlanjutan Pangan, Lingkungan, dan Kesejahteraan Masyarakat

agroforestri-mei_13_edt

Modernisasi dunia pertanian telah membawa praktik pertanian tak hanya intensif namun juga monokultur komoditas spesifik. Praktik pertanian tersebut memang terbukti mampu meningkatkan produktivitas suatu komoditas per unit area. Namun keberhasilan tersebut ternyata juga meninggalkan dampak negatif terhadap meningkatnya kerusakan alam, erosi, emisi gas, dan penurunan keragaman hayati. Akibat lebih lanjut adalah lingkungan menjadi sangat rentan terhadap perubahan iklim. Agroforestry merupakan pendekatan poros tengah yang diharapkan mampu meningkatkan ekonomi masyarakatnya melalui diversifikasi penanaman tanaman pangan, pohon, dan pemeliharaan ternak sekaligus mempertahankan kelestarian lingkungan dengan membangun kembali layanan-layanan ekosistem untuk penyediaan bahan pangan, energi, keragaman hayati, pengembangan pengetahuan, sosial-budaya, layanan-layanan pendukung produksi pertanian seperti siklus nutrisi dan pengendalian hama penyakit. Dalam rangka pengembangan pengetahuan, penelitian, dan implementasi agroforestry, maka diadakan seminar nasional wana tani (agroforestry). Seminar diharapkan mampu memperbaiki kondisi saat ini dengan pendekatan holistik-integratif dari aspek lingkungan, budidaya, sosial-kebijakan, teknologi, dan pengolahan hasil serta keragaman hayatinya. Seminar dilaksanakan di Universitas Brawijaya, Malang, 21 Mei 2013.

Seminar Nasional Agroforestry yang dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Yogi Sugito, Rektor Universitas Barwijaya, menampilkan tiga pembicara utama, yaitu Kepala Badan Litbang Kehutanan, Dr Maine van Noordwijk (World Agroforestry Centre), dan Prof. Dr. Kurniatun Hairiah dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Dr Maine van Noordwijk menyampaikan makalah “Agroforestry as buffer to livelihoods in a green economy: reflections from 20 years ICRAF Indonesia, dan Prof. Dr. Kurniatun Hairiah menguraikan makalah berjudul Pertanian Masa Depan.

Pada kesempatan tersebut Prof.Dr. Marwoto, dari Balitkabi mempersentasikan peluang budidaya kedelai sebagai tanaman sela di kawasan lahan hutan jati, untuk meningkatkan produktivitas lahan, kesejahteraan petani LMDH, menjaga lingkungan lestari dan meningkatkan kesuburan lahan.

Prof. Dr. Marwoto menyatakan bahwa potensi lahan hutan jati telah teridentifikasi seluas 290.103 ha yang dapat dikembangkan untuk tanaman pangan. Secara teknis tanaman kedelai bisa dikembangkan di kawasan hutan jati yang berumur 0–4 tahun. Hasil penelitian Balitkabi menunjukkan bahwa aneka varietas kedelai yang ditanam di sela-sela tanaman pokok jati umur 3 tahun mampu menghasilkan 1,9 t/ha. Hasil tersebut masih jauh lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang mencapai 1,3 t/ha.

Kontribusi lahan perhutani untuk tanaman pangan khususnya kedelai sangat potensial untuk mendukung program 4 sukses Kementerian Pertanian yaitu program pencapaian swasembada kedelai tahun 2014.

Kedelai di kawasan hutan jati muda, dan sayuran di antara tegakan pohon hutan untuk keberlanjutan pangan, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat melalui wanatani.

Prof Marwoto/AW