Berita » Waspada Serangan Penyakit Layu pada Ubikayu

Kabupaten Kediri merupakan salah satu sentra produksi ubikayu di Jawa Timur dengan luas panen pada tahun 2013 mencapai 3.472 hektar, tIngkat produktivitas 23,38 t/h dan produksi mencapai 81.188,8 ton. Produksi ubikayu di Kediri tersebut memang relatif rendah dibandingkan dengan sentra produksi lain seperti Ponorogo (produksi 578.493,68 ton), Pacitan (produksi 355.365,73 ton), Malang (produksi 335.980,16 ton), Trenggalek (produksi 271.968,0 ton), dan Tuban (produksi 244.522,36 ton). Namun demikian, industri tapioka skala rumah tangga dapat berkembang pesat di Kediri, terutama di Kecamatan Ngadiluwih.

Gambar 1. Pertanaman ubikayu yang mati terserang penyakit layu.

Gambar 1. Pertanaman ubikayu yang mati terserang penyakit layu.

Berdasarkan keterangan beberapa petani di Kecamatan Ngadiluwih, sejak tiga tahun terakhir, ditemukan gejala penyakit layu, disertai daun rontok dan mati pucuk (Gambar 1). Petani setempat menyebut dengan istilah penyakit jamur upas. Penyakit tersebut tidak hanya terdapat di Ngadiluwih tetapi tersebar di wilayah sekitarnya seperti di Kecamatan Kandat dan Wates. Kejadian penyakit tersebut semakin parah pada tahun 2016. Pada saat observasi lapang yang dilakukan oleh Ir. Mudji Rahayu, M.S. dan Dr. Kartika Noerwijati di lokasi pertanaman sakit, terlihat secara visual adanya jamur warna kuning pada pangkal batang dan di tanah sekitar tanaman ubikayu yang terserang (Gambar 2). Jenis ubikayu yang terserang hanya jenis lokal Kaspro dengan luas serangan sekitar 5−10%. Varietas Adira 4 yang juga ada di lapangan relatif tahan terhadap penyakit tersebut.

Gambar 2. Jamur warna kuning pada pangkal batang ubikayu (gambar kiri) dan di tanah sekitar tanaman ubikayu (gambar kanan).

Gambar 2. Jamur warna kuning pada pangkal batang ubikayu (gambar kiri) dan di tanah sekitar tanaman ubikayu (gambar kanan).

Ir. Mudji Rahayu, M.S. selaku ahli penyakit pada ubikayu belum dapat memastikan apakah jamur kuning yang ditemukan di sekitar tanaman sakit tersebut adalah penyebab penyakit yang sebenarnya, mengingat di dalam tanah masih banyak jamur dan organisme lain yang potensial berperan sebagai patogen penyebab penyakit. Oleh karena itu harus dilakukan identifikasi terlebih dahulu di laboratorium. Namun untuk mencegah serangan yang lebih luas, maka petani dianjurkan untuk melakukan perendaman bibit sebelum tanam dengan air hangat atau dengan fungisida, atau bila memungkinkan dilakukan aplikasi fungisida di lahan.

Bibit yang telah terserang jamur harus dimusnahkan. Dr. Kartika menambahkan, lakukan pergiliran tanaman dengan varietas tahan seperti Adira 4 yang telah terbukti relatif tahan terhadap serangan penyakit tersebut. Mudah-mudahan penyakit yang menyerang tanaman ubikayu di wilayah Ngadiluwih dan sekitarnya tidak semakin meluas dan dapat segera ditangani.

KN/MR