Berita » Waspadai Tungau Puru pada Ubi Jalar

screenshot-from-2019-02-28-12-08-17

Gejala serangan tungau puru pada tanaman ubi jalar

Tungau pembentuk puru (gall mite), Eriophyes gastrotrichus (Acarina; Eriophyidae) merupakan hama ubi jalar pada musim kemarau, yang kini menyebar secara cepat di berbagai daerah sentra produksi ubi jalar di Indonesia. Tungau puru ditemukan pertama kali pada tahun 2006 di Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Hal tersebut disampaikan oleh peneliti Hama dan Penyakit Tanaman, Sri Wahyuni Indiati, dalam forum seminar internal di Aula Balitkabi tanggal 22 Februari 2019 yang dihadiri oleh para peneliti senior dan junior.
Lebih lanjut dijelaskan Indiati, tungau puru berukuran sangat kecil, panjang badan sekitar 148-160 µm dan tebal 46 µm, sehingga sangat sulit dilihat dengan mata telanjang. Tungau imago mempunyai dua pasang kaki tepat di belakang kepala, berwarna putih agak oranye. Badan berbentuk silindris, dan meruncing di bagian ujung abdomen. Pada abdomen dijumpai sekitar 67 cincin. Pada akhir abdomen terdapat bagian perut ‘pengisap’ yang digunakan sebagai substrat untuk menempelkan badan tungau selama makan, ganti kulit, dan beraktivitas lainnya.

Gejala serangan ditandai dengan terbentuknya puru pada daun, tangkai daun, dan batang, berupa benjolan. Pada bagian ujung puru terdapat lubang kecil. Populasi puru yang melimpah menyebabkan daun melengkung ke atas. Puru lama kelamaan akan mengering dan rontok, sehingga daun tampak berlubang di bagian tempat puru terbentuk. Serangan tungau puru secara tidak langsung merugikan petani karena rata-rata selisih hasil ubijalar antara tanaman sehat dan tanaman terserang sekitar 11,04%. Selain menurunnya hasil umbi, serangan puru mengakibatkan petani mengalami kesulitan untuk mendapatkan stek sehat sebagai bahan perbanyakan tanaman selanjutnya.
Indiati juga menjelaskan metode pengendalian tungau puru antara lain: pengendalian kultur teknis yang meliputi penggunaan stek batang bebas puru, sanitasi lingkungan, dan pengaturan waktu tanam, pengendalian mekanis, dan pengendalian dengan pestisida nabati ataupun kimia. Disamping itu juga merekomendasikan petani untuk selalu menggunakan stek ubi jalar yang terbebas dari serangan hama puru sebagai bahan tanam, guna mencegah dan menekan penyebaran tungau puru.
Peserta seminar yang terdiri dari peneliti senior dan yunior sangat antusias menanggapi dan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan tungau puru. Seminar ini membuka wawasan sekaligus tantangan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dampak tungau puru pada tanaman ubi jalar seperti aspek morfoagronomi, fisiologis, biokimia, serta sosial ekonomi.

SWI