Info Teknologi » Aplikasi Serbuk Biji Mimba (SBM), Spodoptera litura nuclear polyhedrosis virus (SlNPV) dan Varietas Tahan Mampu Menekan Perkembangan Ulat Grayak

sbm1

Ulat grayak merupakan salah satu hama yang menimbulkan kerusakan pada pertanaman kedelai di Indonesia. Kerusakan berat dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 80%. Hama ulat grayak tersebar luas di daerah yang beriklim panas dan lembab, dari sub tropis sampai daerah tropis (Capinera, 2001). Hama ini sering mengakibatkan kehilangan hasil panen yang relatif tinggi, bahkan puso apabila tidak dikendalikan. Luas serangan ulat grayak dari tahun 2002 hingga 2006 berkisar antara 1.316 hingga 2.902 ha (Ditlin, 2008). Norris et al. (2003) menyatakan bahwa serangan hama berdampak pada penurunan kuantitas maupun kualitas hasil seperti kerusakan fisik, racun kimia, vektor penyakit, peningkatan biaya produksi, sosial, dan lingkungan, hingga penolakan oleh konsumen. Oleh karena itu alternatif pengendalian yang efektif perlu diteliti.

Varietas tahan merupakan salah satu komponen pengendalian hama yang relatif murah. Galur G100H telah dibuktikan mempunyai tingkat ketahanan tinggi terhadap ulat grayak (Suharsono dan Suntono, 2007). Selain varietas tahan, komponen pengendalian hayati yang efektif dengan menggunakan bioinsektisida SlNPV untuk ulat grayak telah didapatkan (Bedjo et al., 2000). SlNPV adalah salah satu jenis virus patogen bersifat spesifik, selektif, efektif untuk mengendalikan hama yang telah resisten terhadap insektisida dan aman terhadap lingkungan. SlNPV telah dikembangkan secara in-vivo di laboratorium Balitkabi Malang, untuk mengendalikan hama Lepidoptera. Hasil aplikasi SlNPV dengan bahan pembawa kaolin dapat mempertahankan virulensi SlNPV, sehingga efektif menekan intensitas serangan ulat grayak pada tanaman kedelai di lapang sampai 90% (Bedjo, 2003).

Komponen pengendali ulat grayak yang lain yang cukup efektif adalah aplikasi ekstrak mimba (Azadirachta indica A. Juss). Senyawa aktif tanaman mimba yang kebanyakan berada di dalam daun dan biji tidak membunuh hama secara cepat, tapi berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit, menghambat perkawinan dan komunikasi seksual, menurunkan daya tetas telur, serta menghambat pembentukan kitin. Selain itu senyawa ini juga berperan sebagai pemandul (Schmutterer & Singh, 1995). Gupta dan Birah (2001) melaporkan bahwa serbuk biji mimba mengandung senyawa menghambat pertumbuhan (growth inhibitor) dan penolak makan (feeding deterrent/antifeedant) serangga. Selanjutnya H. armigera yang diberi pakan dengan perlakuan mimba mengalami kematian yang tinggi, mengalami hambatan pertumbuhan dan perkembangan ulat yang masih hidup, menurunkan bobot ulat dan pupa, serta memperpanjang stadia ulat (Isman et al., 1990; Ma-Deling et al., 2000; Weathersbee dan Tang, 2002).

Efektivitas pengendalian ulat grayak menggunakan SlNPV, SBM dan galur kedelai tahan G100H dikaji secara bioasai di laboratorium Entomologi BALITKABI. Satu varietas kedelai, yaitu Wilis (cek rentan) dan satu galur yaitu G100H (galur kedelai tahan) diaplikasi SlNPV dan SBM kemudian diberikan pada ulat sebagai pakan. Hasil uji menunjukkan bahwa perkembangan ulat mulai instar-3 sampai dengan instar-6 dipengaruhi oleh jenis pakan. Perkembangan ulat dari instar-3 sampai instar-6 yang diberi pakan varietas rentan (Wilis) lebih pendek bila dibanding dengan pakan kedelai tahan (G100H). Untuk mencapai instar-6, ulat yang diberi pakan G100H + SBM 50 g/l, memerlukan waktu 10 hari, tiga hari lebih pendek bila dibanding dengan ulat yang diberi pakan G100H. Selain terhadap periode ulat, kedelai tahan juga berpengaruh terhadap periode pupa, bobot ulat dan bobot pupa. Penambahan SBM dan SlNPV mempercepat serta meningkatkan laju kematian ulat. Ulat yang diberi pakan G100H + SlNPV 2 g/l, mengalami kematian pada saat baru mencapai awal instar-6. Kematian ulat pada pakan G100H yang diperlakukan dengan SlNPV 2g/l dan SBM 50 g/l + SlNPV 2 g/l masing-masing mencapai 100% terjadi pada 9 hari setelah aplikasi (HSA), sedangkan G100H yang diperlakukan dengan SBM 50g/l hanya mencapai 97%, terjadi pada 21 HSA, sedangkan kematian ulat pada pakan Wilis hanya 27% terjadi pada 15 HSA yaitu pada fase pupa, sedang pada perlakuan pakan G100H mencapai 78%, terjadi pada 21 HSA yaitu pada fase imago (Gambar 1). Hasil uji ini membuktikan bahwa penggunaan insektisida nabati dan SlNPV meningkatkan efektifitas kedelai tahan untuk pengendalian ulat grayak.

Gambar 1. Pengaruh SBM, SlNPV pada kedelai tahan terhadap kematian ulat S. litura. Laboratorium Entomologi, 2011.

Disarikan dari naskah “Pengaruh Aplikasi Serbuk Biji Mimba (SBM), Spodoptera litura nuclear polyhedrosis virus (SlNPV) dan Varietas Tahan Terhadap Perkembangan Ulat Grayak, Spodoptera litura F. (Lepidoptera: Noctuidae)”. Ditulis oleh Ir. Sri Wahyuni Indiati, MS, Dr. Suharsono, dan Drs. Bedjo, MP. Disarikan dan diedit oleh Eriyanto Yusnawan, PhD.