Info Teknologi » BeBas: Cendawan Entomopatogen Efektif Mengendalikan Kepik Hijau

bebas

Hama pengisap polong kedelai terdiri tiga jenis yaitu: kepik coklat (Riptortus linearis), kepik hijau (Nezara viridula), dan kepik hijau pucat (Piezodorus hybneri). Kepik hijau termasuk dalam famili Pentatomidae dan ordo Hemiptera, merupakan salah satu pengisap polong kedelai yang cukup penting dan penyebarannya luas. Hama ini memiliki tanaman inang yang cukup luas meliputi tanaman pangan, aneka buah, hias, sayuran bahkan beberapa jenis gulma. Kepik hijau hinggap pertama kali di pertanaman kedelai pada waktu berbunga, yaitu umur kurang lebih 35 hari setelah tanam (HST). Imago di pertanaman bertujuan meletakkan telurnya pada permukaan daun. Seekor imago betina kepik hijau memproduksi telur 104-470 butir yang diletakkan berkelompok pada permukaan daun bagian atas maupun bawah. Telur akan menetas kurang lebih enam hingga tujuh hari setelah diletakkan imago. Telur yang menetas membentuk nimfa I yang berlangsung selama enam hari sebelum berganti kulit (moulting) menjadi nimfa II. Nimfa II juga berlangsung kurang lebih enam hari, nimfa III, IV dan V hanya berlangsung lima hari. Siklus hidup kepik hijau mulai telur hingga terbentuk imago berlangsung selama 31-76 hari. Kehilangan hasil akibat serangan kepik hijau mencapai 80%. Teknologi pengendalian yang tersedia hanya aplikasi insektisida kimia, namun populasi di lapangan semakin meningkat dari musim ke musim. Kondisi ini disebabkan insektisida kimia hanya mampu membunuh stadia nimfa maupun imago. Sementara itu, stadia telur masih mampu bertahan dan berkembang terus karena belum ditemukan senyawa insektisida kimia yang mampu menggagalkan penetasan telur. Cendawan entomopatogen Beauveria bassiana (BeBas) infektif dan mampu membunuh berbagai jenis hama dari beberapa ordo dan berbagai stadia. Cendawan B. bassiana mengandung toksin yang sangat toksik terhadap serangga sasaran hanya dalam rentang waktu yang cukup pendek berkisar 3-5 hari setelah aplikasi. Efikasi B. bassiana terhadap Telur N. viridula Salah satu kelebihan cendawan entomopatogen B. bassiana adalah mampu menginfeksi telur kepik hijau, mulai telur yang baru diletakkan imago (0 hari) hingga umur enam hari. Telur kepik hijau yang terinfeksi B. bassiana tampak ditumbuhi miselium cendawan yang berwarna putih (Gambar 1). Miselium cendawan tumbuh pada permukaan kulit telur (chorion) tiga hari setelah aplikasi. Perkembangan infeksi lebih lanjut koloni miselium B. bassiana menyelimuti seluruh permukaan telur, akhirnya telur tidak mampu menetas.


Infeksi B. bassiana pada telur kepik hijau yang baru diletakkan (0 hari), semakin rentan ditandai dengan jumlah telur yang tidak menetas hingga mencapai 96% (Gambar 2). Telur kepik hijau yang berumur 1-2 hari, juga masih rentan terhadap infeksi B. bassiana karena telur yang tidak menetas masing-masing 94% dan 93%. Cendawan B. bassiana juga toksik terhadap telur kepik hijau yang berumur lima dan enam hari, karena jumlah telur yang tidak menetas mencapai 81%. Meskipun telur kepik hijau yang terinfeksi B. bassiana masih mampu menetas, namun akhirnya nimfa yang terbentuk tidak dapat melangsungkan hidupnya menjadi serangga dewasa. Kondisi ini disebabkan nimfa I banyak yang mati akibat gagal ganti kulit (moulting) untuk berkembang menjadi nimfa II. Dengan demikian, nimfa yang berhasil menjadi imago sangat rendah, sehingga aplikasi B. bassiana dinilai cukup efektif untuk membunuh telur kepik hijau. Pergeseran Waktu Penetasan Telur Kepik Hijau yang Terinfeksi B. bassiana Telur kepik hijau yang diaplikasi dengan cendawan B. bassiana terlambat menetas antara satu hingga tiga hari. Telur yang baru diletakkan imago (0 hari) terlambat menetas selama tiga hari, sedangkan telur yang berumur satu hari akan terlambat menetas dua hari (Gambar 3). Telur kepik hijau yang berumur tiga, empat, lima dan enam hari terlambat menetas satu hari. Pergeseran waktu penetasan telur menjadi lebih lambat cukup berarti bagi keselamatan biji kedelai di lapangan. Kondisi ini disebabkan oleh struktur polong dan biji kedelai mengalami proses fisiologis pemasakan sehingga menjadi lebih keras dan sulit ditusuk oleh stilet kepik hijau karena artikulasi (stilet) belum terbentuk secara optimal.

Peluang Kelangsungan Hidup Nimfa Kepik Hijau yang Terinfeksi B. bassiana Telur N. viridula yang sudah terinfeksi B. bassiana dan masih menetas membentuk nimfa I dapat berkembang dan ganti kulit membentuk nimfa II, namun peluang untuk dapat melangsungkan hidupnya menjadi serangga dewasa sangat rendah. Kondisi ini disebabkan beberapa serangga mengalami gagal moulting sehingga serangga mati. Telur yang baru diletakkan imago (0 hari), hanya berpeluang hidup menjadi nimfa II sebesar 2% (Gambar 4). Sedangkan telur kepik hijau yang berumur satu dan dua hari hanya berpeluang menjadi serangga dewasa dibawah 10%. Telur kepik hijau yang berumur tiga hingga enam hari hanya berpeluang menjadi serangga dewasa berkisar 11-14%.

Toksisitas B. bassiana terhadap Nimfa dan Imago Kepik Hijau Cendawan B. bassiana selain toksik terhadap telur kepik hijau, juga toksik terhadap stadia nimfa maupun imago. Semakin muda umur nimfa, semakin rentan terhadap infeksi cendawan B. bassiana. Kematian nimfa kepik hijau yang terinfeksi cendawan B. bassiana terjadi pada tiga hari setelah aplikasi (HSA). Miselium B. bassiana baru terlihat pertama kali pada umur empat HSA, yaitu terjadi pada organ artikulasi terutama pada tungkai (Gambar 5), selanjutnya organ mulut berkembang pada bagian torak. Organ artikulasi meliputi persendian tungkai, torak, alat mulut, dan ruas-ruas abdomen merupakan daerah yang sangat lentur sehingga lebih mudah dipenetrasi oleh konidia cendawan. Bagian tersebut memiliki kandungan kitin yang cukup tinggi sehingga sangat disukai cendawan entomopatogen sebagai sumber makanan untuk pertumbuhan. B. bassiana sangat toksik terhadap nimfa I, ditandai dengan mortalitas mencapai 86% (Tabel 1). Nimf
a II kepik hijau juga cukup rentan terhadap infeksi B. bassiana karena pada hari keempat setelah aplikasi mampu membunuh 70%. Nimfa III, IV, V dan imago yang terbunuh oleh cendawan B. bassiana masing-masing 16%, 7%, 3% dan 18%. Tingginya mortalitas nimfa muda kepik hijau akibat infeksi B. bassiana disebabkan struktur integumen nimfa yang lebih muda lebih lentur karena lapisan lilin (wax) maupun lipidnya belum optimal sehingga konidia yang menempel dan berkecambah pada waktu penetrasi tidak mengalami hambatan dibandingkan pada stadia nimfa yang lebih tua. Lapisan wax pada permukaan integumen serangga merupakan faktor penghalang untuk proses penetrasi konidia cendawan, selain iklim mikro di sekitar integumen serangga.

Pada nimfa kepik hijau yang mati terinfeksi B. bassiana setelah tujuh hari, terlihat adanya kolonisasi miselium cendawan yang berwarna putih menyelimuti seluruh tubuh sehingga kelihatan seperti mumi (Gambar 6). Kolonisasi miselium pada tubuh serangga tersebut berisi kumpulan miselium dan konidia yang merupakan organ infektif untuk distribusi atau penyebaran patogen di suatu lokasi. Semakin cepat kolonisasi yang terjadi pada tubuh inang, semakin banyak produksi konidia sebagai organ infektif yang dihasilkan oleh cendawan sebagai agens hayati. Dengan demikian, peluang terjadi distribusi cendawan dari serangga mati ke inang baru (serangga sehat) semakin cepat sehingga lebih cepat dalam menyebabkan epizooti dan akhirnya peledakan hama pada suatu lokasi sulit terjadi.

Pengendalian kepik hijau dianjurkan menggunakan aplikasi cendawan B. bassiana pada stadia telur maupun nimfa muda. Keberhasilan pengendalian pada stadia tersebut, disebabkan telur merupakan stadia yang tidak bergerak sehingga lebih mudah dibidik, apalagi posisi telur adalah bergerombol dan tersusun secara teratur di atas permukaan daun kedelai sehingga peluang konidia yang disemprotkan hampir 100% mengenai serangga sasaran. Selain itu, stadia telur merupakan stadia awal dan belum mampu merusak polong maupun biji kedelai. Pengendalian kepik hijau pada stadia nimfa muda juga efektif, karena mobilitas nimfa sangat rendah sehingga sangat rentan terhadap faktor lingkungan terutama aplikasi cendawan entomopatogen. Stadia nimfa I dan II belum merusak polong maupun biji kedelai, karena pada stadia tersebut serangga hanya mengkonsumsi lapisan air yang terdapat pada organ polong maupun yang ada organ tanaman lainnya. Pengendalian hama kepik hijau pada stadia telur dan nimfa yang masih muda menggunakan cendawan B. bassiana sangat efektif dalam menekan perkembangan populasi hama di lapangan, sehingga peluang peledakan hama sulit terjadi. BeBas merupakan formulasi biopestisida yang mengandung konidia cendawan entomopatogen B. bassiana dan cukup prospektif sebagai agens pengendalian hama kepik hijau.
YP