Info Teknologi » Benchmarking Teknologi Budi Daya Eksisting Kacang Tanah di Lahan Kering Iklim Kering

Lahan kering iklim kering (LKIK) dikategorikan sebagai lahan dengan curah hujan kurang dari 2000 mm/tahun dan periode musim pertumbuhan kurang dari 180 hari, elevasi lebih rendah dari 700 m dpl (Las 1991 dalam Karsono 1998). Saat ini kacang tanah telah dibudidayakan di LKIK di wilayah Indonesia bagian timur, terutama di Kab. Sumba Timur. Meskipun cara budi dayanya telah tersedia, namun masih dipandang perlu untuk dikaji lagi terutama teknologi pengelolaan tanaman, kesuburan tanah, dan pengendalian organisme pangganggu tanaman dalam rangka perakitan teknologi budi daya spesifik lokasi untuk meningkatkan produktivitas dan dicapainya produksi biomas yang tinggi.
Untuk merakit paket teknologi tersebut, harus ditempuh 4 tahap yang diawali dengan survei diagnostik, dilanjutkan dengan penelitian eksploratif, penyusunan komponen teknologi, dan penelitian pengembangan (Adisarwanto dkk., 1996). Survei diagnostik ditujukan untuk mengidentifikasi teknologi budi daya eksisting yang dilakukan oleh petani di suatu agroekosistem.
Kabupaten Sumba Timur dengan luas 704.584 hektar, sebagian besar berupa padang rumput (229.954 hektar) dan lahan tidur (96.000 hektar), hanya sekitar 113.111 hektar (16,06%) untuk kegiatan pertanian (30.404 hektar berupa lahan sawah, 60.898 hektar untuk tegal dan 21.809 hektar untuk kebun). Dari luas panen tanaman pangan sebesar 34.680 hektar, luas panen kacang tanah hanya 1.415 hektar dengan produksi 1.629 ton, produktivitas 1,15 t/ha. Dari Kab. Sumba Timur ini telah dilepas varietas unggul Sandel, merupakan varietas lokal yang diputihkan. Kacang tanah ditanam pada semua kecamatan di Kab. Sumba Timur (22 kecamatan), yang terluas di Kec. Kanatang (450 ha), diikuti Kec. Haharu, Matawai La Pawu, dan Pandawai dengan produksi dan produktivitas disajikan pada Tabel 1.

Hamparan pertanaman kacang tanah milik petani di Sumba Timur.

Hamparan pertanaman kacang tanah milik petani di Sumba Timur.

rahmianna1

 

 

 

 

 

Data yang diperoleh berdasarkan hasil survei di tiga kecamatan sentra produksi kacang tanah terbesar (Kec. Kanatang, Haharu, dan Pandawai), adalah:

a. Status komoditas kacang tanah
Kacang tanah merupakan tanaman penghasil uang tunai (cash crop), sedangkan jagung, padi gogo berfungsi sebagai makanan pokok penyangga food security. Pada lahan kering ditanam pula sorgum yang dijadikan bahan pangan baik dicampur atau tanpa dicampur beras. Semua petani menjual kacang tanah dalam bentuk polong kering. Untuk meningkatkan harga jual, sebagian petani melakukan penjualan dalam bentuk biji kering. Cara penjualan bertahap sesuai dengan uang tunai yang dibutuhkan. Petani juga menyisihkan sejumlah polong untuk keperluan benih sesuai dengan luas lahan yang akan ditanami kacang tanah pada musim hujan tahun berikutnya. Kebanyakan petani melakukan sortasi polong yang akan dijadikan benih yaitu polong bernas, tanpa serangan hama atau penyakit.

b. Jenis tanaman kacang tanah
Di Kab. Sumba Timur dikenal dua jenis tanaman kacang tanah yaitu kacang tanah gali dan kacang tanah cabut. Kacang gali mempunyai tipe merambat dan umurnya lebih panjang sehingga panen dilakukan dengan menggali tanah karena tanah sudah mulai kering. Kacang gali umumnya memiliki tiga biji atau lebih, sedangkan kacang cabut berumur lebih pendek, tipe tumbuh tegak, cara panen dengan dicabut dan kebanyakan polong berbiji dua. Dari segi rasa, menurut para petani kacang gali rasanya lebih gurih. Saat ini keberadaan kacang gali sudah jauh berkurang. Dari segi morfologi, kacang gali bertipe Valencia, sedang kacang cabut bertipe tumbuh Spanish.

c. Ketersediaan fasilitas pengairan
Pertanaman kacang tanah semuanya berada di lahan kering tanpa tersedianya fasilitas pengairan. Kebutuhan air pertanaman sepenuhnya dari hujan.

d. Pola tanam
Kacang tanah ditanam pada awal musim hujan ditumpangsarikan dengan jagung atau sorgum atau secara monokultur.

e. Kondisi pertanaman kacang tanah
Karena ditanam di lahan kering tadah hujan, maka terdapat pertanaman yang cukup air, dan ada pula yang kekurangan air pada fase generatif sehingga tanaman layu terutama pada siang hari.

f. Tingkat kesehatan tanaman
Kesehatan tanaman yang diamati adalah adanya serangan penyakit daun utama (karat dan bercak daun), serangan hama daun dan hama polong, serta insiden layu tanaman. Pada fase generatif akhir tanaman, serangan penyakit karat dan bercak daun cukup bervariasi antar desa dan kecamatan. Serangan bercak daun lebih parah dibanding serangan karat (Tabel 2). Hal ini sangat wajar karena penyakit bercak daun menyerang tanaman pada musim hujan, sebaliknya penyakit karat lebih dominan pada musim kemarau. Serangan hama daun dan polong, serta penyakit layu karena bakteri atau cendawan hampir tidak dijumpai.rahmianna2

 

 

 

 

Berdasar hasil wawancara dan pengamatan lapang, maka teknologi budi daya eksisting yang dilakukan petani dari 3 kecamatan sentra produksi kacang tanah adalah sebagai berikut:rahmianna4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan teknologi budi daya eksisting, dihasilkan tanaman dengan sifat agronomis sebagai berikut:rahmianna3

 

 

 

 

 

 

Secara garis besar dapat dikemukakan bahwa analisis usahatani kacang tanah memberikan keuntungan seperti dicantumkan pada tabel berikut:rahmianna5

 

 

 

 

 

Agustina Asri Rahmianna