Info Teknologi ยป BUDENA Kayu Putih (Budidaya Kedelai di Lahan Naungan Kayu Putih)

Budidaya kedelai di bawah naungan kayu Putih di LMDH Simo Ngagrok, Dawar Blandong, BKPH Kemlagi, KPH Mojokerto, 2018

Budidaya kedelai di bawah naungan kayu Putih di LMDH Simo Ngagrok, Dawar Blandong, BKPH Kemlagi, KPH Mojokerto, 2018

Budidaya kedelai di bawah tegakan pohon kayu putih berpeluang untuk dikembangkan. Usaha tani ini menjadi salah satu solusi peningkatan areal tanam kedelai yang semakin menyempit. Pada umumnya pola tanam di lahan kayu putih adalah tumpangsari dengan tanaman semusim. Jarak tanam pohon kayu putih beragam mulai dari 3 m x 1 m, 4 m x 1 m, 5 m x 1 m atau jajar legowo 5 m x (1 m x 1m), sehingga di sela-sela tanaman pokok kayu putih dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman palawija termasuk kedelai. Tajuk tanaman kayu putih secara rutin dipangkas setahun sekali untuk dimanfaatkan daunnya diolah menjadi minyak kayu putih. Dengan demikian lahan sela diantara tanaman kayu putih mendapatkan cukup banyak sinar matahari, sehingga memungkinkan untuk dimanfaatkan tanaman lain termasuk kedelai. Apalagi lahan di bawah tegakan kayu putih di Indonesia cukup luas cukup luas sekitar 248.756 ha, dengan area terluas di Maluku dan pulau Jawa.

Kunci Peningkatan Produktivitas Kedelai di Lahan Naungan Kayu Putih

Kendala utama tumpangsari Kayu putih dengan kedelai adalah rendahnya intensitas cahaya matahari, ancaman kekeringan akibat ketersediaan air yang rendah, kepekaan tanah terhadap erosi, rendahnya unsur hara, menurunnya kadar bahan organik, menurunnya daya simpan air tanah disamping rendahnya minat petani menanam kedelai.

Kunci untuk meningkatkan produktivitas kedelai pada lahan naungan kayu putih adalah: 1) Meningkatkan kualitas dan kuantitas penangkapan sinar matahari, dengan cara menentukan waktu tanam tepat, pengaturan populasi tanaman disesuaikan jarak tanam dan model tanam, 2) Memanfaatkan ketersediaan air tanah, waktu tanam awal musim hujan dengan perkiraan tanaman cukup air hingga fase pengisian polong, 3) Menggunakan varietas adaptif naungan, 4) Meningkatkan ketersediaan hara N, P dan K melalui pemberian pupuk tunggal maupun pupuk majemuk NPK, 4) Meningkatkan kadar bahan organik tanah dengan pemberian pupuk organik, dan 5) Mendorong minat petani menanam kedelai.

Teknologi BUDENA Kayu Putih

  1. Penyiapan lahan: lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya. Tanpa olah tanah atau dengan olah tanah untuk tanah padat, gulma disemprot dengan herbisida berbahan aktif (b.a) Isopropil amina glifosat (sistemik purna tumbuh, non selektif).
  2. Varietas unggul seperti Dena 1, Anjasmoro, Dega1, Argomulyo (disesuaikan preferensi petani).
  3. Saluran drainase: untuk lahan yang miring ataupun jenis tanah cepat kering tidak diperlukan saluran drainase tambahan selain drainase yang telah ada di kiri dan kanan pohon kayu putih. Apabila di dalam lorong kayu putih kontur lahan cenderung cekung atau datar yang memungkinkan terjadi genangan air saat musim hujan, dapat dibuat saluran drainase seuai lebar lorong dengan tetap memperhatikan prinsip konservasi tanah agar tidak terjadi erosi.
  4. Benih: menggunakan benih berkualitas. Sebelum tanam benih dicampur dengan inokulan Rhizobium dosis 40 g/8 kg benih.
  5. Penanaman: cara/model tanam tugal teratur, jarak tanam baris tunggal 30- 40 cm x 15 cm atau baris ganda 50 cm x (30 x 15 cm), 2-3 biji/lubang. Kedelai ditanam dalam radius 0,5 m dari tanaman kayu putih.
  6. Ameliorasi tanah: 1 t/ha pupuk organik, diaplikasikan saat tanam sebagai penutup benih.
  7. Pemupukan: 200-250 kg/ha Phonska + 100 kg/ha SP36. Pupuk SP36 disebar rata pada saat tanam. Pupuk Phonska disebar di samping barisan tanaman pada umur 15-20 hari. Pada kedelai ditanam dengan cara tanam baris ganda, pupuk diberikan di antara barisan dalam baris ganda.
  8. Penyiangan: Dengan cara manual maupun kimiawi dengan herbisida. Penyiangan pertama saat tanaman berumur 15-20 hari dengan herbisida b.a fenoksaprop-p-etil (sistemik dan kontak, selektif gulma berdaun sempit, aman untuk kedelai). Dapat juga menggunakan herbisida b.a propaquizafop (purna tumbuh gulma daun sempit) selanjutnya pada umur 40-45 hari.
  9. Pengendalian hama: pada umur 7-10 hari disemprot dengan insektisida b.a Fipronil untuk hama lalat kacang, b.a Metomil atau Dimehipo untuk hama pemakan daun, penggerek dan pengisap polong. Frekuensi penyemprotan sesuai kebutuhan.
  10. Panen dan pasca panen: panen dilakukan saat kulit polong berwarna coklat, dengan cara memotong batang, kemudian dijemur 2-3 hari dan siap dibijikan. Pembijian dapat mengunakan mesin perontok (thresher), kemudian biji dibersihkan dan dijemur hingga kadar air sekitar 12%.

Keragaan Hasil Kedelai dengan Teknologi BUDENA Kayu Putih

Hasil pengujian teknologi budidaya kedelai (BUDENA) di bawah tegakan kayu putih di Mojokerto, Jawa Timur tahun 2018 menggunakan empat varietas (Anjasmoro, Dena 1, Argomulyo dan Dega1) dengan jarak tanam baris tunggal 40 cm x 15 cm, pupuk 250 kg/ha Phonska dan 100 kg/ha SP-36, inokulasi Agrisoy pada benih sebelum tanam serta penutupan lubang tanam menggunakan pupuk organik 1 t/ha memberikan keragaan pertumbuhan dan hasil yang bervariasi dengan produktivitas rata-rata 0,8 t/ha (Gambar 1). Produktivitas yang bervariasi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air selama periode pertumbuhan tanaman, karena pengairan hanya diperoleh dari air hujan (Gambar 2).

Penerapan teknologi BUDENA kayu putih musim tanam optimal adalah awal musim penghujan sekitar bulan Desember hingga Januari. Penanaman di bulan Maret sudah sangat terlambat sehingga tanaman mengalami cekaman kekeringan dan hasil biji tidak dapat optimal (Tabel 1). Untuk itu sangat disarankan penanaman kedelai di bawah tegakan kayu putih dilakukan segera setelah hujan turun, karena pertumbuhan tanaman selanjutnya hanya mengandalkan air hujan.

Pada kegiatan superimpose teknologi BUDENA kayu putih dengan model tanam yang berbeda yaitu baris tunggal (40 cm x 15 cm) dan baris ganda : 50 cm x (30 cm x 15 cm) didapatkan produktivitas dengan kisaran 1,56-2,36 t/ha (Gambar 3). Varietas adaptif naungan Dena 1 menghasilkan produktivitas relatif tinggi dengan cara tanam baris ganda : 50 cm x (30 cm x 15 cm) sebesar 2,36 t/ha, sedangkan dengan cara tanam baris tunggal diperoleh produktivitas 1,88 t/ha. Secara keseluruhan tiga varietas lainnya yaitu Anjasmoro, Argomulyo dan Dega 1 pada kedua cara tanam mampu menghasilkan 1,56-1,72 t/ha.

Keragaan produktivitas kedelai dari 164 kooperator BUDENA kayu putih seluas 40 ha di Mojokerto, 2018

Keragaan produktivitas kedelai dari 164 kooperator BUDENA kayu putih seluas 40 ha di Mojokerto, 2018

Gambar 2. Curah hujan dan Radiasi matahari di Mojokerto, 2018

Gambar 2. Curah hujan dan Radiasi matahari di Mojokerto, 2018

Tabel 1. Keragaan hasil dan komponen hasil Budena Kayu Putih berdasarkan tanggal tanam yang berbeda, Mojokerto, 2018.

Uraian Tinggi tanaman

(cm)

Jumlah polong isi/tanaman Bobot 100 biji

(g)

t/ha

KA 12%

Tgl. tanam: 26 Januari -31 Januari 2018
Minimum 40,7 17,3 11,0 0,3
Maksimum 74,9 55,4 14,2 1,8
Rata-rata 62,9 39,6 12,9 1,1
Tgl. tanam : 1 Februari -28 Februari 2018
Minimum 34,5 16,1 8,8 0,1
Maksimum 97,8 67,6 23,0 1,9
Rata-rata 60,0 30,3 13,1 0,9
Tgl. tanam 1 Maret – 15 maret 2018
Minimum 34,1 14,0 7,5 0,1
Maksimum 61,0 51,8 14,9 0,7
Rata-rata 44,9 24,4 10,6 0,3
Gambar 3. Produktivitas empat varietas kedelai (Anjasmoro, Dena1, Argomulyo dan Dega1) pada dua model tanam (baris ganda dan baris tunggal) di bawah tegakan kayu putih. Mojokerto, 2018

Gambar 3. Produktivitas empat varietas kedelai (Anjasmoro, Dena1, Argomulyo dan Dega1) pada dua model tanam (baris ganda dan baris tunggal) di bawah tegakan kayu putih. Mojokerto, 2018

Analisis Usaha Tani Teknologi BUDENA Kayu Putih

Analisis usaha tani budidaya kedelai di bawah tegakan kayu putih di Mojokerto tahun 2018 dengan menggunakan model tanam yang berbeda dengan empat varietas kedelai (Anjasmoro, Dena 1, Argomulyo dan Dega1) menunjukkan terdapat peluang menguntungkan. Biaya usaha tani rata-rata BUDENA kayu putih Rp 6,77 juta/ha ( 45% saprodi dan 60% tenaga kerja). Dengan rata-rata produktivitas 1,8 t/ha dengan harga jual Rp6500,00 akan diperoleh pendapatan Rp 10,74 juta/ha, keuntungan Rp 3,97 juta/ha, nisbah keuntungan terhadap biaya (B/C) 0,59. Sehingga untuk mendapatkan keuntungan setidaknya harus dicapai produktivitas kedelai di atas 2 t/ha.

Peluang peningkatan produktivitas kedelai sebesar 2 t/ha, terlihat dari (Tabel 3). Teknologi budidaya menggunakan varietas Dena 1 dengan model tanam baris ganda 50 cm x (30 cm x 15 cm) mampu menghasilkan produktivitas hingga 2,36 t/ha sehingga dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 8,54 juta/ha, atau nisbah B/C sebesar 1,26 artinya secara ekonomi layak serta nisbah R/C sebesar 2,26 yang secara ekonomi menguntungkan.

Secara teknis BUDENA kayu putih masih menghadapi kendala rendahnya respons dari kooperator menanam kedelai karena petani belum pernah menanam kedelai sebelumnya serta harga jual yang rendah. Dengan jaminan harga jual yang tinggi diharapkan minat petani menanam kedelai lebih baik.

Tabel 3. Analisis usaha tani kedelai di bawah tegakan Kayu Putih. Mojokerto, 2018.

Varietas Jarak tanam t/ha Biaya Saprodi

(Rp)

Biaya Tenaga Kerja

(Rp/ha)

Total Biaya

(Rp)

Penerimaan

(Rp)*

Keuntungan

(Rp)

Nisbah

B/C

Nisbah

R/C

Anjasmoro 50 x (30×15 cm) 1,72 3.093.000 3.680.000 6.773.000 11.188.028 4.415.028 0,65 1,65
40 x 15cm 1,56 3.093.000 3.680.000 6.773.000 10.112.253 3.339.253 0,49 1,49
Dena 1 50 x (30×15 cm) 2,36 3.093.000 3.680.000 6.773.000 15.314.642 8.541.642 1,26 2,26
40 x 15cm 1,88 3.093.000 3.680.000 6.773.000 12.219.258 5.446.258 0,80 1,80
Argomulyo 50 x (30×15 cm) 1,59 3.093.000 3.680.000 6.773.000 10.350.439 3.577.439 0,53 1,53
40 x 15cm 1,71 3.093.000 3.680.000 6.773.000 11.146.965 4.373.965 0,65 1,65
Dega 1 50 x (30×15 cm) 1,71 3.093.000 3.680.000 6.773.000 11.107.811 4.334.811 0,64 1,64
40 x 15cm 1,65 3.093.000 3.680.000 6.773.000 10.749.822 3.976.822 0,59 1,59
Rata-rata 1,8 3.093.000 3.680.000 6.773.000 11.523.652 4.750652 0,70 1,70

*) Penerimaan dihitung berdasarkan harga jual kedelai di Mojokerto tahun 2018 sebesar Rp. 6.500,00

Gambar 4. Budena Kayu putih fase vegetatif. Mojokerto, 2018

Gambar 4. Budena Kayu putih fase vegetatif. Mojokerto, 2018

Gambar 5.  Budena Kayu putih fase generatif. Mojokerto, 2018

Gambar 5. Budena Kayu putih fase generatif. Mojokerto, 2018

 

Runik D.Purwaningrahayu., N.Nugrahaeni, H.Kuntyastuti, R.Artari, R.Krisdiana, E.Yusnawan