Info Teknologi ยป Dena 1 dan Dena 2 Calon Varietas Unggul Kedelai Toleran Naungan

Strategi peningkatan produksi kedelai nasional dapat ditempuh melalui program perluasan areal tanam/panen dan peningkatan produktivitas untuk mendukung program swasembada kedelai 2014 yang dicanangkan pemerintah. Peningkatan areal tanam dilakukan baik pada lahan sawah, lahan kering masam maupun non masam, serta lahan di bawah tegakan tanaman perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI) yang masih muda. Pada tahun pertama penanaman tanaman perkebunan maupun hutan, sebanyak 70% dari luasan areal adalah gawangan yang dapat dimanfaatkan untuk pertanaman palawija (kedelai). Sejalan dengan bertambahnya penutupan tanah oleh tajuk, areal tersebut berkurang hingga 50% pada tahun ketiga. Hal ini memberikan peluang penanaman tanaman kedelai sebagai tanaman sela mulai dari tahun pertama hingga tahun ketiga.

Gambar 1. Calon varietas unggul kedelai toleran naungan di bawah tanaman jati

Pengusahaan tanaman sela dapat memberikan dampak positif maupun negatif tergantung pada cara pengelolaannya. Pengelolaan tanaman sela melalui pengelolaan ekologi yang tepat dengan memanfaatkan mekanisme faktor pembatas, kompetisi dan adaptasi akan memberikan hasil yang optimum dan mencegah terjadinya dampak negatif. Sejalan dengan permasalahan tersebut, maka penanaman genotipe kedelai toleran naungan sebagai tanaman sela dianggap sebagai salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produktivitas lahan dan memberikan hasil langsung kepada petani. Selain memberikan manfaat dalam peningkatan produktivitas lahan dan hasil ke petani, penanaman kedelai sebagai tanaman sela di bawah tegakan tanaman perkebunan/hutan secara tidak langsung akan memberikan dampak pada peningkatan produksi kedelai nasional melalui perluasan areal tanam.

Gambar 2. Calon varietas unggul kedelai toleran naungan di bawah tanaman karet

Guna mengoptimalkan peluang tersebut serta mendukung program peningkatan produktivitas diperlukan varietas unggul kedelai toleran naungan. Hingga saat ini belum ada varietas yang dirakit/dilepas khusus untuk toleran naungan. Namun demikian, terdapat satu varietas yang direkomendasikan sebagai varietas unggul kedelai toleran naungan, yaitu varietas Pangrango. Varietas ini mempunyai ukuran biji yang tergolong sedang, serta umur yang tergolong dalam (> 80 hari). Untuk memperbaiki karakteristik varietas Pangrango seperti yang dikehendaki oleh konsumen, yang secara umum menghendaki kedelai berbiji besar dan berumur genjah, maka pada tahun 2007 Badan Litbang Pertanian mulai memprogramkan perakitan varietas unggul kedelai toleran naungan. Dari program tersebut, pada tahun 2011 telah dilakukan uji adaptasi terhadap 12 galur harapan kedelai toleran naungan di bawah tegakan jati, karet, jeruk dan jagung di delapan lokasi.

Gambar 3. Calon varietas unggul kedelai toleran naungan di bawah tanaman kayu putih

Kegiatan uji adaptasi menghasilkan dua galur yang layak untuk diusulkan sebagai varietas unggul kedelai toleran naungan, yaitu AI26-1114-8-28-1-2 dan IBM22-873-1-13-1-3. Galur AI26-1114-8-28-1-2 merupakan hasil persilangan antara varietas Argomulyo dengan IAC 100, dan IBM22-873-1-13-1-3 merupakan hasil persilangan galur IAC100/Burangrang dengan varietas Malabar. Pengusulan kedua galur tersebut akan dilakukan pada tahun 2013, dengan naman Dena 1 untuk galur AI26-1114-8-28-1-2 dan Dena 2 untuk galur IBM22-873-1-13-1-3. Dena merupakan kepanjangan dari kedelai toleran naungan.

Gambar 4. Polong dan biji Dena 1 (kiri), polong dan biji Dena 2 (kanan)Dena 1 (AI26-1114-8-28-1-2) mempunyai potensi hasil hingga 2,89 t/ha dan rata-rata hasil 1,69 t/ha, umur masak antara 71 hingga 85 hari, dengan rata-rata 77 hari, ukuran biji tergolong besar (14,33 g/100 biji), warna biji kuning. Dena 2 (IBM22-873-1-13-1-3) mempunyai potensi hasil hingga 2,29 t/ha dan rata-rata hasil 1,35 t/ha, umur masak antara 71 hingga 84 hari, dengan rata-rata 78 hari, ukuran biji tergolong sedang (13,70 g/100 biji), dan warna biji kuning.Pengembangan Dena 1 dan Dena 2 diarahkan pada lahan-lahan di bawah tegakan tanaman perkebunan/hutan industri yang masih muda (0 hingga 3 tahun), dimana tingkat naungan yang ditimbulkan kurang dari 50% yang masih mampu ditolerir oleh tanaman kedelai. Disarikan dan diedit oleh Eriyanto Yusnawan, PhD. Makalah ditulis oleh Dr. Titik Sundari, peneliti dari kelti pemuliaan dan plasma nutfah Balitkabi.