Info Teknologi » Dengan 0,44% APBN, Impian Swasembada Kedelai dapat Terwujud

impian

Setiap tahun kebutuhan kedelai nasional selalu meningkat disebabkan karena peningkatan jumlah penduduk disamping berkembangnya industri pangan berbahan baku kedelai dan industri pakan ternak. Rata–rata kebutuhan kedelai setiap tahun sekitar ± 2,2 juta ton (setara dengan 1,5 juta ha, asumsi tingkat hasil 1,5 t/ha). Kemampuan produksi domestik yang bisa dicapai sekitar ± 0,7 juta ton. Berarti masih ada kesenjangan kebutuhan kedelai sebesar ± 1,5 juta ton yang harus dipenuhi dari impor. Ini memberikan arti bahwa dalam upaya swasembada kedelai diperlukan tambahan produksi minimal sebesar 1,5 juta ton, yang dapat ditempuh dari upaya perluasan areal tanam dan peningkatan hasil. Pokok permasalahan yang mendasar adalah terjadi penurunan luas areal tanam dari tahun ke tahun, misalkan pada tahun 2009 luas areal tanam kedelai hanya sekitar 722.791 ha turun menjadi 550.793 ha pada tahun 2013. Maknanya, terjadi penurunan gairah petani untuk me­nanam kedelai, disebabkan rendahnya daya saing kedelai terhadap tanaman pangan lainnya. Daya saing komoditas pada dasarnya ditentukan oleh faktor tingkat hasil dan harga komoditas. Titik ungkit utama keberhasilan swasembada kedelai adalah tingkat hasil dan harga kedelai yang berdaya saing. Pada lahan sub optimal di daerah pasang surut tipe C Kalimantan Selatan, pada tahun 2010 indek kompetitif kedelai terhadap kacang tanah sebesar 0,32, ubijalar 0,24, dan jagung 0,30. Artinya daya saing kedelai terhadap ketiga komoditas pangan tersebut rendah. Masalah inilah yang menyebabkan turunnya areal tanam kedelai karena turunnya gairah petani untuk menanam kedelai. Petani lebih untung menanam ketiga tanaman pangan tersebut dibandingkan kedelai. Artinya, tanaman pesaing kedelai pada lahan ini adalah kacang tanah, ubijalar dan jagung. Guna menggugah kembali minat petani untuk menanam kedelai maka perlu dianalisis daya saing kedelai terhadap ketiga komoditas tersebut.

Tabel 1. Analisis daya saing kedelai terhadap tanaman pangan lainnya pada lahan pasang surut tipe C di Kalimantan Selatan,2010.

Tabel 1 memberikan gambaran bahwa pengendalian harga kedelai supaya berdaya saing ternyata sulit untuk diterapkan dengan alasan harga kedelai yang berdaya saing sulit untuk dicapai, apalagi mengingat kedelai digunakan sebagai bahan baku industri pangan (tahu dan tempe), dan harga merupakan perpaduan antara aspek penawaran dan permintaan kedelai secara nasional maupun internasional, yang merupakan faktor sosio-ekonomi eksternal penelitian. Oleh karena itu, daya saing hanya dikaji dari aspek hasil yang harus dicapai oleh varietas kedelai. Berdasarkan tingkat hasil yang harus dicapai kedelai supaya berdaya saing adalah (1) sebesar 2,7 t/ha untuk mampu bersaing dengan kacang tanah, (2) sebesar 3,3 t/ha untuk bersaing dengan ubijalar, dan (3) sebesar 2,4 t/ha untuk bersaing dengan jagung. Hasil analisis Tabel 1 memiliki makna yaitu apabila hendak mengembangkan kedelai pada lahan pasang surut tipe C di Kalimantan Selatan, tingkat hasil kedelai yang dikembang­kan harus mencapai 2,4–3,3 t/ha supaya mampu bersaing dengan ketiga tanaman pangan tersebut. Apabila tidak ada varietas kedelai unggul yang mampu menghasilkannya, maka akan sulit untuk berkembang atau diterima petani. Dalam artian, lahan sub optimal tersebut tidak dapat digunakan untuk menunjang swasembada kedelai. Permasalahan kedua adalah bagaimana daya saing kedelai pada lahan optimal (sawah) yang merupakan lahan potensial untuk swasembada kedelai. Sebagai bahan analisis diambil di­daerah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pesaing kedelai pada daerah tersebut di tahun 2012 adalah jagung. Indek kompetitif kedelai terhadap jagung adalah sebesar 0,46 artinya daya saing kedelai terhadap jagung rendah. Upaya utama untuk swasembada kedelai adalah berapa tingkat hasil dan harga supaya menjadi bersaing.

Tabel 2. Analisis daya saing kedelai terhadap jagung pada lahan sawah di daerah Pasuruan, Jawa Timur. 2012.

Berdasarkan Tabel 2 dapat dicermati bahwa (1) Apabila hasil jagung hibrida sebesar 10 t/ha dan harganya Rp2.400/kg dan harga kedelai berkisar antara Rp7.000–8.000/kg, maka hasil kedelai supaya berdaya saing harus antara 2,6–3 t/ha, (2) Apabila hasil kedelai yang digunakan dapat mencapai 1,8–2,75 t/ha, maka harga kedelai supaya berdaya saing terhadap jagung harus berkisar antara Rp7.533–11.508 kg/ha. Hal tersebut memiliki makna bahwa kebijak­an pengembanan kedelai di lahan sawah untuk mendukung swasembada adalah (1) Peng­guna­an varietas unggul kedelai dengan tingkat hasil 2,5–3 t/ha. Kebutuhan benih untuk areal tanam 1,5 juta ha adalah 75 juta kg. Dengan harga benih (ES) sekitar Rp12.000/g, maka kebutuhan bantuan benih unggul adalah Rp0,9 Trilyun. Artinya dana bantuan benih tersebut senilai 0,04% APBN, dan (2) harga (subsidi output), artinya pemerintah (via Bulog) membeli kedelai petani dengan harga kedelai yang berdaya saing yaitu antara Rp7.550–11.500 dan dijual ke industri tahu dan tempe dengan harga pasar. Selisih harga tersebut merupakan besarnya subsidi output yang diterima Bulog. Misalkan harga kedelai berdaya saing adalah Rp11.500/kg, sedang­kan harga di pasar Rp8.000/kg, maka besarnya subsidi output adalah sebesar Rp3.500/kg. Jadi apabila kebutuhan kedelai sebesar 2,2 juta t, maka besarnya total subsidi yang dikeluarkan pemerintah adalah sebesar Rp7,7 Trilyun (2,2 juta ton x Rp. 3.500) atau setara dengan 0,4% APBN 2015 (Asumsi APBN 2015= Rp2.039,5 T), sehingga dana yang dikeluarkan pemerintah supaya petani kembali ber­gairah menanam kedelai (swasembada kedelai terwujud) adalah sekitar 0,44% APBN (Kebijakan 1, bantuan benih unggul = 0,04% APBN; dan kebijakan 2, subsidi output= 0,4% APBN). Hasil analisis ini menjelaskan bahwa titik ungkit keberhasilan swasembada kedelai sebenarnya adalah menggugah kembali kegairahan petani untuk mau menanam kedelai, yang tergantung daya saing kedelai. Faktor determinannya adalah tingkat hasil (t/ha), dan tingkat harga (Rp/kg) kedelai yang berdaya saing. Dengan demikian kebijakan utama yang diambil adalah meramu kedua faktor determinan tersebut dalam satu kesatuan kebijakan yang utuh, dampaknya swasembada kedelai terwujud.

Dr. Heriyanto