Info Teknologi » Detam 3 Prida dan Detam 4 Prida: Kedelai Hitam Berumur Genjah

detam_3-prida

Di Indonesia peruntukan utama kedelai berkulit biji hitam (kedelai hitam) adalah untuk bahan baku kecap. Di negara lain seperti di Cina, Taiwan, Korea, Jepang, kedelai hitam telah digunakan menjadi beraneka ragam olahan pangan; seperti burger, es krim dan sebagainya. Penggunaan kedelai hitam untuk bahan baku kecap tidak hanya meningkatkan kualitas warna kecap menjadi coklat hitam, juga meningkatkan nilai gizi terutama protein. Di samping itu, pada kedelai hitam telah teridentifikasi enam senyawa antioksidan yaitu flavonol, isoflavon, anthosianin, proanthosianidin, tokoferol, dan asam polikarbosilik, yang berfungsi sebagai agen antitumor dan senyawa pencegah penyakit kardiovaskular. Selama 94 tahun (1918–2012), pemerintah Indonesia telah melepas 73 varietas unggul kedelai, tujuh di antaranya adalah varietas kedelai hitam (Tabel 1). Varietas Otau, No. 27, dan Merapi dilepas pada periode awal kegiatan pemuliaan di Indonesia. Pada tahun 2008, dilepas kembali dua varietas kedelai hitam yakni Detam 1 dan Detam 2. Tujuh varietas kedelai hitam tersebut memiliki umur masak sedang hingga dalam, belum ada yang berumur genjah.

Berdasarkan keputusan Menteri Pertanian Nomor 4385/Kpts/SR.120/6/2013 tanggal 17 Juni 2013 dilepas kedelai hitam Detam 3 Prida; serta Nomor 4386/Kpts/SR.120/6/2013 tanggal 17 Juni 2013 dilepas kedelai hitam Detam 4 Prida. Kedua varietas tersebut merupakan karya peneliti Badan Litbang Pertanian, yang sebagian siklus perakitannya dilakukan kerjasama dengan Kementerian Riset dan Teknologi melalui Program Insentif Riset Dasar tahun 2010 dan 2011. Detam merupakan akronim dari kedelai hitam; Prida merupakan kepanjangan dari Program Insentif Riset Dasar. Detam 3 Prida merupakan hasil seleksi dari persilangan antara galur W9837 dengan varietas Cikuray. Potensi hasil bijinya tinggi, hingga 3,15 t/ha (rata-rata 2,88 t/ha), berumur genjah (75 hari), ukuran bijinya 11,8 g/100 biji dan agak toleran kekeringan. Sedangkan Detam 4 Prida diseleksi dari persilangan antara galur W9837 dengan galur 100H-236 dengan potensi hasil bijinya mencapai 2,89 t/ha (rata-rata 2,54 t/ha), umur masakanya 76 hari, ukuran bijinya 11 g/100 biji, toleran kekeringan pada fase reproduktif, berumur genjah, agak tahan hama pengisap polong dan juga agak tahan terhadap penyakit karat daun.

Sifat fisikokimia dari Detam 3 Prida dan Detam 4 Prida sepadan dengan Mallika, khususnya kadar protein kecap dan rendemen kecap yang dihasilkan (Tabel 2). Nilai tertinggi diperoleh pada kecap yang diolah dari varietas Detam 1 dan Detam 3 Prida, sedangkan kecap dari Mallika memiliki kadar protein terendah. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh perbedaan kadar protein bahan bakunya yang berbeda antargalur kedelai. Warna atau tingkat kecerahan kecap (L*) berbeda nyata antargenotipe kedelai dengan nilai paling cerah diperoleh pada Detam 1 (Tabel 2). Semakin tinggi nilai L*, berarti semakin pucat warna kecap dan semakin kurang disukai. Warna paling gelap tampak pada kecap dari galur Cikuray x W9837-181, namun tidak berbeda nyata dengan Detam 4 Prida maupun Detam 3 Prida.

Sifat sensoris kecap dari Detam 3 Prida dan Detam 4 Prida memiliki total skor kesukaan tinggi dibandingkan genotipe lainnya, sedangkan Detam 1 dan Mallika berkriteria agak disukai warnanya (Tabel 3). Detam 3 Prida dan Detam 4 Prida dapat dikembangkan sebagai salah satu alternatif mengatasi perubahan iklim, khususnya kekeringan, yang dapat dikurangi kerugian hasil bijinya melalui varietas kedelai berumur genjah, dan atau kedelai berumur genjah serta toleran kekeringan, khususnya pada periode terkritis yakni fase reproduktif.

Tim Peneliti : Muchlish Adie, Gatut Wahyu AS, Ayda Krisnawati, Erliana Ginting, danAbdullah Taufiq