Info Teknologi » DETAP 1, VUB Kedelai Tahan Pecah Polong

Budidaya kedelai di daerah tropis, termasuk Indonesia, yang bercirikan suhu tinggi dan kelembaban tinggi, tidak hanya terkendala oleh tekanan hama penyakit, namun juga berisiko mengalami kehilangan hasil akibat terjadinya pecah polong (pod shattering). Penundaan panen juga berpeluang menyebabkan polong pecah. Pecah polong secara langsung akan menurunkan produksi kedelai melalui kehilangan hasil yang dapat mencapai 30–100%. Besarnya kehilangan hasil akibat pecah polong ditentukan oleh waktu panen, kondisi lingkungan, dan ketahanan varietas kedelai.

Balitkabi sejak tahun 2009 telah memulai proses perakitan varietas kedelai tahan pecah polong, melalui persilangan antara G511H dengan Varietas Anjasmoro. G511H/Anjasmoro-1-2 merupakan galur harapan yang terpilih dari berbagai tahap seleksi dan telah diusulkan kepada Tim Penilai dan Pelepas Varietas Tanaman Pangan untuk dinilai kelayakannya dilepas sebagai varietas unggul.

Uji adaptasi terhadap tujuh galur harapan dan dua varietas pembanding (Anjasmoro dan Grobogan) yang dilakukan di delapan sentra produksi kedelai di Jawa Timur, Bali dan NTB pada tahun 2015, G511H/Anjasmoro-1-2 memberikan rata-rata hasil 2,70 t/ha (rentang 2,40–3,39 t/ha) lebih tinggi dibandingkan hasil Varietas Anjasmoro (2,47 t/ha) maupun Grobogan (2,45 t/ha) (Gambar 1).

Hasil biji dari sembilan genotipe kedelai (sandi genotipe seperti pada Tabel 1)

Hasil biji dari sembilan genotipe kedelai (sandi genotipe seperti pada Tabel 1)

Uji ketahanan terhadap pecah polong dengan menggunakan metode oven terhadap seluruh genotipe uji adaptasi, memperlihatkan bahwa pada suhu oven sebesar 30°C, semua genotipe yang diuji masih berkriteria tahan terhadap pecah polong dengan kisaran pecah polong dari 0 hingga 5%. Pola yang sama juga terjadi pada suhu 40°C dan 50°C. Pada suhu maksimum pengujian yakni 60°C, maka antar genotipe yang diuji memiliki respon ketahanan terhadap pecah polong yang beragam (Tabel 1, Gambar 2).

Tabel 1. Persentase pecah polong dari sembilan genotipe kedelai pada berbagai level suhu. 2016

Tabel 1. Persentase pecah polong dari sembilan genotipe kedelai pada berbagai level suhu. 2016

Gambar 2. Pecah polong G511H/Anjasmoro-1-2

Gambar 2. Pecah polong G511H/Anjasmoro-1-2

Karakteristik agronomis dari G511H/Anjasmoro-1-2 adalah berumur genjah (78 hari) dan ukuran bijinya tergolong besar (15,37 g/100 biji). Galur tersebut juga tahan terhadap hama pengisap polong dan agak tahan terhadap penggerek polong.

Hasil sidang TP2V tanggal 24 Agustus 2016 memutuskan bahwa galur harapan G 511 H/Anjasmoro-1-2 dengan karakteristik tahan terhadap pecah polong, disetujui untuk dilepas menjadi varietas unggul baru kedelai dengan nama DETAP 1.

Gambar 3. Bentuk tanaman dan biji.

Gambar 3. Bentuk tanaman dan biji.

Ayda Krisnawati