Info Teknologi » Efektivitas Biopestisida untuk Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

1.Efektivitas Biopestisida Nabati

Salah satu pelopor penelitian mengenai bahan nabati di Indonesia adalah Balai Peneltian Tanaman Obat dan Aromatik di Bogor. Pada tahun 1992 ditemukan bahwa minyak cengkeh dapat menekan perkembangan patogen terbawa tanah antara lain Fusarium oxysporum, dan Rhizoctonia solani (Tombe et al., 1992). Selain itu, tepung dan minyak bunga cengkeh juga dapat menghambat pertumbuhan cendawan Phytophtora capsici, P. palmivora, P. lignosus, dan Sclerotium rolfsii (Manohara et al., 1993). Efektivitas biopestisida bervariasi tergantung dari jenis dan takaran. Penggunaan biopestisida diharapkan mempunyai efektivitas lebih dari 50%.

Peneliti India melaporkan tanaman yang efektif menekan pertumbuhan berbagai species cendawan Aspergillus adalah Acacia nilotica, Achras zapota, Datura stramonium, Emblica officinalis, Eucalyptus globules, Lawsonia inermis, Mimusops elengi, Peltophorum pterocarpum, Polyalthia longifolia, Prosopis juliflora, Punica granatum, and Syzygium cumini.

Biji tanaman lerak juga berpotensi digunakan sebagai pestisida nabati. Kandungan bahan aktif lerak yaitu senyawa saponin, alkaloid, steroid, dan triperten masing-masing sebesar 12%, 1%, 0,036 %, dan 0,029% (Tommy 2009). Selain itu ekstrak buah lerak juga berfungsi sebagai surfaktan nabati dan perekat (Chandra et al. 2012).

Campuran minyak cengkeh dan ekstrak biji mimba dengan perbandingan 6 : 4 merupakan campuran efektif untuk pengendalian penyakit karat pada kedelai, karena dapat menekan intensitas penyakit karat hingga 45%, polong isi meningkat sebesar 37%, dan mencegah kehilangan hasil sebesar 20% (Sumartini 2014).

Ekstrak biji mimba, selain digunakan untuk membunuh serangga hama, juga sering digunakan sebagai penghambat perkembangan penyakit tanaman. Sebagai contoh adalah pada tanaman wijen (sesame). Ekstrak ini digunakan untuk menghambat perkembangan penyakit pascapanen yang disebabkan oleh cendawan Monilia fructicola, Penicillium expansum, Trichothesium roseum, Alternaria alternate (Wang et al. 2010). Selain itu, ekstrak biji mimba dapat menghambat perkembangan cendawan Aspergillus flavus penghasil aflatoksin (Krishnamurthy dan Shashikala 2006). Biji kacang tanah dapat terinfeksi oleh Aspergillus niger yang merupakan cendawan terbawa benih. Pertumbuhan dan perkembangan cendawan tersebut dapat dihambat oleh ektrak Lauros nobilis, Dianthus cariophillum, Juniperus oxycedrus, dan Coluten arborescens (Erturk 2006).

Biji Mimba.

Biji Mimba.

Balitkabi telah meneliti berbagai macam pestisida nabati dengan berbagai senyawa aktif dan pengaruhnya pada penghambatan patogen/hama (Tabel 1).

sumartini1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.Efektivitas Biopestisida Hayati

Pengendalian penyakit dengan menggunakan cendawan antagonis sudah lama diketahui. Hasil penelitian Balitkabi menunjukkan bahwa cendawan B. bassiana bersifat ovisidal karena toksik terhadap telur kepik hijau. Cendawan B. bassiana mampu menginfeksi telur kepik hijau, baik telur yang baru diletakkan maupun telur umur enam hari. Akibat infeksi tersebut, telur yang tidak menetas mencapai 96%. Semakin muda umur telur kepik hijau, semakin rentan terhadap B. bassiana. Telur kepik hijau yang terinfeksi B. bassiana menjadi terlambat menetas selama tiga hari. Cendawan B. bassiana juga toksik terhadap semua stadia nimfa kepik hijau, terutama nimfa I dan II dengan mortalitas berkisar 69−96%. Nimfa III, IV, V dan imago kepik hijau lebih toleran terhadap B. bassiana dibandingkan nimfa I dan II. Untuk menekan perkembangan populasi kepik hijau maka dianjurkan aplikasi menggunakan cendawan B. bassiana pada stadia telur atau nimfa stadia awal (Prayogo 2013).

sumartini2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biopestisida hayati dan nabati ternyata mampu bersinergi. Hal ini dibuktikan oleh hasil penelitian Prayoga (2011), bahwa kombinasi insektisida nabati serbuk daun pacar cina (Aglaia odorata), serbuk biji srikaya (Annona squamosa), dan serbuk biji jarak (Jatropha curcas) dengan cendawan entomopatogen Lecanicillium lecanii mampu meningkatkan efikasi pengendalian telur kepik coklat dibandingkan dengan aplikasi secara tunggal. Kombinasi insektisida serbuk biji srikaya (Annona squamosa) maupun serbuk biji jarak (Jatropha curcas) yang dikombinasikan dengan L. lecanii lebih efektif dibandingkan dengan kombinasi insektisida serbuk daun Aglaia dengan L. lecanii dalam mengendalikan telur kepik coklat. Dosis insektisida nabati 50 g/l merupakan dosis yang tepat untuk dikombinasikan dengan L. lecanii dalam mengendalikan telur kepik coklat.

Hasil-hasil penelitian kompatibilitas beragam jenis pestisida (nabati, hayati, dan sintetis) menunjukkan potensi yang cukup baik untuk mengoptimalkan penggunaannya sekaligus meminimalkan penggunaan pestisida kimia (Supriadi 2013). Mekanisme sinergisme dan antagonisme perlu dipahami secara detail. Perusahaan pestisida diharapkan dapat menginformasikan sifat sinergisme produk yang dibuat bila ada.

Penggunaan biopestisida membutuhkan dukungan berbagai pihak supaya bisa digunakan oleh petani secara rutin, sehingga menguntungkan petani sebagai pengguna dan lingkungan bebas dari pencemaran yang berasal dari pestisida kimiawi.

 

Sumartini