Info Teknologi ยป Efektivitas dan Infektivitas Rhizobium pada Kedelai Hitam

didiksucah

Kedelai hitam merupakan salah satu varietas kedelai yang mempunyai banyak kelebihan, baik dari segi kesehatan maupun ekonomis. Kandungan antosianin, isoflavon, dan mineral Fe kedelai hitam lebih tinggi dibanding kedelai kuning. Kecap manis dengan bahan baku kedelai hitam berbiji besar mempunyai kandungan protein lebih tinggi dibanding kedelai berbiji kecil. Saat ini, rata-rata produktivitas kedelai nasional masih sekitar 1,3 t/ha, jauh di bawah rata-rata produksi varietas unggul. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan teknologi budidaya yang kurang optimal, di antaranya adalah masih kurangnya ketersediaan pupuk hayati Rhizobium yang efektif. Rhizobium adalah bakteri penambat N simbiotik yang dapat mencukupi hampir seluruh kebutuhan N tanaman kedelai. Rhizobium yang sesuai dengan tanaman kedelai akan membentuk nodul atau bintil akar yang menghasilkan N. Dengan demikian Rhizobium merupakan mesin penghasil nitrogen yang secara alami bisa hidup berdampingan dengan tanaman kedelai. Infektivitas dan efektivitas Rhizobium ditentukan oleh jenis tanaman dan kesesuaian genetik antara tanaman dan Rhizobium. Tanaman kedelai dapat bersimbiosis dengan Rhizobium untuk menambat N2 dari udara dan memasok 60% dari total N yang dibutuhkan tanaman.

Kompatibilitas Rhizobium dengan tanaman kedelai diindikasikan oleh tingkat infektivitas dan efektivitasnya dalam menyumbang unsur N. Penelitian untuk membandingkan pengaruh sumbangan unsur N dari Rhizobium terhadap pertumbuhan tanaman dibandingkan dengan pengaruh N dari perlakuan pupuk Urea telah dilakukan. Rhizobium yang digunakan berasal dari inokulan komersial produksi Balai Penelitian Tanah Bogor. Unsur N pada perlakuan didapatkan dengan menambahkan pupuk Urea ke dalam larutan hara tanpa N komposisi Brunt.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Varietas Detam 1, bintil akar pada tanaman yang diinokulasi lebih banyak dibanding perlakuan lainnya, sedangkan pada Detam 2, hanya perlakuan inokulasi yang membentuk bintil akar (Gambar 1 dan Gambar 2). Fenomena ini menunjukkan bahwa Rhizobium memiliki tingkat infektivitas yang sama pada kedua varietas. Infektivitas merupakan kemampuan bakteri Rhizobium dalam membentuk bintil akar.


Pada umur 35 HST, tinggi tanaman yang diinokulasi Rhizobium (29,5 cm) lebih rendah dibanding perlakuan N 50, 100, dan 150 ppm (32,2, 33,6 dan 33,4 cm) dan lebih tinggi dibanding kontrol (26,1 cm) (Gambar 3). Varietas Detam 1 mempunyai tinggi tanaman (32,0 cm) lebih tinggi dibanding Varietas Detam 2 (29,9 cm). Kenyataan ini mengindikasikan bahwa inokulasi Rhizobium dapat meningkatkan tinggi tanaman pada kedua varietas, namun masih belum mampu menyaingi pemberian N 50, 100, dan 150 ppm. Kadar klorofil daun umur 35 HST dari varietas Detam 1 yang diinokulasi Rhizobium (24,0) tidak berbeda nyata dengan N 50, 100, dan 150 ppm (24,5, 24,6 dan 26,1) namun nyata lebih tinggi dibanding kontrol (18,4). Varietas Detam 2 yang diinokulasi mempunyai kadar klorofil daun 24,8 dan tidak berbeda nyata dengan N 50 dan 100 ppm (25,0 dan 26,7), akan tetapi lebih tinggi dibanding kontrol (19,1) dan lebih rendah dibanding N 150 ppm (Gambar 3). Fenomena ini mengindikasikan bahwa inokulasi dapat meningkatkan kadar klorofil daun hingga sebanding dengan pemberian N 150 ppm (Varietas Detam 1) dan 100 ppm (Varietas Detam 2). Rhizobium lebih efektif meningkatkan kadar klorofil daun pada Varietas Detam 1 dibanding Detam 2. Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa Varietas Detam 2 kurang responsif jika diberi N di atas 100 ppm.

Perlakuan inokulasi pada Varietas Detam 1 menghasilkan bobot kering brangkasan (1,3 g) tidak berbeda nyata dengan N 50 dan N 150 ppm (1,6 g dan 1,5 g) tetapi nyata lebih tinggi dibanding kontrol (1,0 g) dan lebih rendah dibanding N 100 ppm yaitu 1,8 g. Bobot kering brangkasan Varietas Detam 2 yang diinokulasi (1,1 g) sebanding dengan kontrol (0,9 g) dan N 150 ppm (1,1 g) tetapi nyata lebih rendah dibanding N 50 dan 100 ppm (1,4 g dan 1,4 g) (Gambar 4 dan 5). Inokulasi pada Varietas Detam 1 dapat meningkatkan bobot kering brangkasan lebih tinggi dibanding Varietas Detam 2. Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa Rhizobium lebih efektif menambat N pada Varietas Detam 1 dibanding Detam 2. Penurunan bobot kering brangkasan akan terjadi jika penambahan N di atas 100 ppm (Detam 1) dan 50 ppm (Detam 2). Kenyataan ini menunjukkan batas maksimal pemberian N pada masing-masing varietas.


Genotipe tanaman kacang-kacangan dan strain Rhizobium dapat dikatakan kompatibel apabila mempunyai tingkat infektivitas dan efektivitas yang tinggi. Penampilan tanaman pada umur 35 HST dapat dilihat pada Gambar 5. Varietas Detam 1 terlihat mempunyai pertumbuhan yang lebih baik dibanding kontrol dan sebanding dengan pemberian N 50, 100, dan 150 ppm, sedangkan varietas Detam 2 hampir sama dengan kontrol dan cenderung lebih jelek di banding semua level N.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedelai hitam Varietas Detam 1 dan Detam 2 mempunyai tingkat kesesuaian yang tinggi terhadap bakteri penambat N Rhizobium. Bakteri penambat N Rhizobium mampu menginfeksi kedua varietas tersebut dengan baik, namun demikian Varietas Detam 1 berindikasi lebih efektif dibanding Varietas Detam 2.

Didik Sucahyono