Info Teknologi ยป Galur-Galur Kedelai Toleran terhadap Hama Kutu Kebul (Bemisia tabaci)

kk

Kutu kebul merupakan salah satu hama utama pada tanaman kedelai di Indonesia. Kehilangan hasil akibat serangan kutu kebul dapat mencapai 80% bahkan dapat mengalami gagal panen. Salah satu cara untuk menanggulangi serangan kutu kebul adalah menggunakan varietas tahan. Di Indonesia, belum ada varietas yang dirilis khusus untuk ketahanan terhadap kutu kebul. Hanya ada satu varietas, yaitu Tengger, yang teridentifikasi cukup tahan terhadap hama tersebut. Hasil evaluasi ketahanan galur kedelai terhadap hama kutu kebul menunjukkan terdapat perbedaan intensitas kerusakan daun di antara 20 genotipe kedelai yang diuji. Intensitas kerusakan daun pada pengujian di rumah kaca lebih tinggi jika dibandingkan pada pengujian di lapangan. Pada pengujian di rumah kaca, intensitas kerusakan daun berkisar antara 35,2โ€“76,6%, sedangkan pada pengujian di lapangan berkisar antara 5,7โ€“17,3%. Terdapat tiga genotipe tergolong tahan dan 9 genotipe tergolong agak tahan. Berdasarkan pengujian di lapangan, terdapat dua genotipe tergolong tahan dan 10 genotipe tergolong agak tahan. Dari hasil dua pengujian ini, 9 genotipe yang diduga memiliki ketahanan terhadap kutu kebul yaitu G100H/9305//IAC-100-271, IAC 100/Burangrang-54, IAC 100/Kaba-6, IAC 100/Kaba-8, IAC 100/Kaba-14, Malabar/IAC-100-85, Kaba/IAC 100//Burangrang-60, Kaba/IAC-100//Burangrang-63, dan Tanggamus. Besarnya penurunan hasil dari 20 genotipe kedelai yang diuji berkisar antara 2,6โˆ’65,2%. Genotipe yang memiliki penurunan hasil di bawah 10% ditunjukkan oleh galur IAC 100/Burangrang-54 dan IAC 100/Kaba-14 (Gambar 1). Kedua galur tersebut diduga memiliki ketahanan terhadap kutu kebul. Berdasarkan pengamatan intensitas kerusakan daun, kedua galur tersebut tergolong kedelai dengan kategori agak tahan.


Gambar 1. Galur kedelai tahan kutu kebul IAC 100/Burangrang-54 (kiri) danIAC 100/Kaba-14 (kanan).Selain dari dua genotipe tersebut, juga diperoleh dua genotipe masing-masing dengan penurunan hasil di bawah 20% dan 30%. Genotipe dengan penurunan hasil di bawah 20% yaitu Kaba/IAC-100//Burangrang-63 dan Tanggamus, sementara genotipe dengan penurunan hasil di bawah 30% yaitu G100H/9305//IAC-100-271 dan IAC 100/Kaba-8. Keempat genotipe tersebut juga diduga memiliki ketahanan terhadap kutu kebul, karena berdasarkan hasil pengamatan intensitas kerusakan daun, keempat galur tersebut tergolong kedelai dengan kategori agak tahan sampai tahan.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap intensitas kerusakan daun yang terjadi di rumah kaca dan kebun percobaan, serta dikaitkan dengan persentase penurunan hasil antara petakan yang diberi perlakuan insektisida dengan petakan yang tanpa aplikasi insektisida, maka pada penelitian ini diperoleh enam genotipe yang terdiri dari lima galur dan satu varietas yang diduga memiliki ketahanan terhadap kutu kebul. Keenam genotipe tersebut yaitu IAC 100/Burangrang-54, IAC 100/Kaba-14, Kaba/IAC-100//Burangrang-63, G100H/9305//IAC-100-271, IAC 100/Kaba-8, dan Tanggamus.


Gambar 2. Perbedaan pertumbuhan varietas kedelai tahan kutu kebul Tanggamus (tahan) (kiri) dan Anjasmoro (rentan) (kanan).

AS