Info Teknologi » GH Tgm/Anjs-750 dan GH Sib/Grob-137, Calon VUB Kedelai Toleran Jenuh Air

gh

Agroekosistem utama produksi kedelai di Indonesia adalah lahan sawah. Pertanaman kedelai musim kemarau (MK) pada lahan sawah sering dihadapkan dengan curah hujan yang tinggi di akhir musim hujan, sehingga sering menimbulkan genangan (kondisi jenuh air). Selain itu, perubahan iklim global telah menyebabkan peningkatan kejadian iklim ekstrim, terutama kekeringan dan kelebihan air/kelembaban tanah yang tinggi. Kondisi tanah jenuh air menurunkan hasil kedelai di lahan sawah setelah padi sebesar 20−75%, tergantung dari varietas, lama genangan, dan periode tumbuh kedelai. Kelebihan air di lapangan yang menyebabkan genangan umumnya sukar dikelola sehingga perlu diupayakan varietas kedelai toleran jenuh air. Disamping itu, informasi mengenai varietas kedelai toleran kondisi tanah jenuh air relatif terbatas. Tersedianya varietas unggul kedelai toleran kondisi tanah jenuh air dapat mencegah kehilangan hasil biji 15−25% dan memiliki arti penting guna mempercepat peningkatan produksi kedelai di dalam negeri dalam upaya mengurangi impor yang semakin meningkat. Hingga saat ini, di Indonesia belum tersedia varietas unggul kedelai yang khusus dilepas untuk tujuan toleran kondisi tanah jenuh air. Namun terdapat varietas unggul lama yang berindikasi toleran terhadap kondisi tanah jenuh air yaitu varietas Kawi (dilepas tahun 1998). Varietas Kawi berukuran biji kecil (10 g/100 biji) dan memiliki umur masak dalam (88 hari). Varietas tersebut perlu diperbaiki dalam hal ukuran biji dan umur masaknya menjadi genjah (<80 hari). Mengingat tantangan perubahan iklim global, maka perakitan varietas unggul kedelai toleran jenuh air perlu dilakukan secara berkelanjutan. Perakitan varietas kedelai toleran kondisi tanah jenuh air telah dilakukan di Balitkabi sejak tahun 2005. Proses seleksi dilakukan secara bertahap di lingkungan seleksi yang sesuai yaitu kedelai ditanam pada kondisi jenuh air dengan Teknik Budidaya Jenuh Air (TBJA). Teknik budidaya jenuh air dilakukan dengan cara menanam benih kedelai pada bedengan selebar 1,6 m dengan jarak tanam antar baris 40 cm dan dalam baris 15 cm, dua tanaman per lubang. Kondisi jenuh dibuat melalui penggenangan pada saluran drainase dengan cara mengatur tinggi permukaan air di dalam saluran drainase 3−5 cm di bawah permukaan tanah. Penggenang dilakukan pada saat tanaman kedelai berumur 14 hari (fase V2) hingga fase polong masak fisiologis (75 hst). Untuk mengetahui ketinggian air tanah di dalam plot percobaan dan saluran drainase, dilakukan dengan cara mengecek tinggi permukaan air dari permukaan tanah pada saluran drainase dan tinggi air di dalam pipa paralon/PVC (diameter 5 cm dan panjang pipa paralon 50 cm) yang dipasang di tengah-tengah plot percobaan hingga fase masak (Gambar 1). Detail gambar pipa paralon/PVC pengontrol muka air disajikan pada Gambar 2.

Hasil uji adaptasi tahun 2011 menunjukkan bahwa terdapat dua galur harapan (GH) yang diunggulkan sebagai calon varietas unggul toleran jenuh air yaitu GH Tgm/Anjs-750 (hasil persilangan tunggal antara varietas unggul Tanggamus dengan Anjasmoro) dan GH Sib/Grob-137 (hasil persilangan tunggal antara varietas unggul Sibayak dengan Grobogan). GH Tgm/Anjs-750 memiliki potensi hasil 2,87 t/ha, berumur genjah (79 hari), dan berukuran biji sedang (12,9 g/100 biji), tinggi tanaman 52,7 cm, jumlah cabang 3,1 dan jumlah polong isi 36,0 polong/tanaman dalam kondisi tercekam jenuh air mulai umur 14 hari hingga fase masak (Gambar 3 dan 4). GH Sib/Grob-137 memiliki potensi hasil 2,75 t/ha, berumur genjah (79 hari), dan berukuran biji besar (14,8 g/100 biji). tinggi tanaman 52,3 cm, jumlah cabang 3,0 dan jumlah polong isi 38,1 polong/tanaman dalam kondisi tercekam jenuh air mulai umur 14 hari hingga fase masak (Gambar 3 dan 4). GH Tgm/Anjs-750 dan GH Sib/Grob-137 memiliki ukuran biji yang lebih besar (12,9−14,8 g/100 biji ) (Gambar 5) dan umur masak lebih genjah (79 hari) dibanding varietas unggul Kawi. Dengan demikian, GH Tgm/Anjs-750 dan GH Sib/Grob-137 mampu menjawab risiko kelebihan air pada kedelai yang ditanam di akhir musim kemarau dan mengantisipi adanya perubahan ilklim global, sekaligus untuk mengupayakan peningkatan produktivitas dan mempercepat swasembada kedelai.

Suhartina