Info Teknologi » Hama Tungau Puru (Eriophyes gastrotrichus) pada Ubijalar

Puru (gall) menjadi salah satu masalah dalam budidaya ubijalar. Puru dilaporkan menyebabkan kehilangan hasil sebesar 11,4%, namun informasi lain termasuk status hama puru pada ubijalar di Indonesia masih terbatas. Gejala serangan dicirikan dengan terbentuknya puru (gall) pada daun, tangkai daun, dan batang (Gambar). Awalnya, puru berwarna hijau muda, tetapi setelah itu puru tersebut berubah menjadi warna cokelat. Pada kondisi serangan berat, daun-daun ubijalar menjadi keriting sehingga penampilannya seolah-olah sudah tidak berbentuk daun lagi.


Gambar. Gejala serangan hama tungau puru Penyebab gejala puru adalah tungau Eriophyes gastrotrichus. E. gastrotrichus dideskripsikan pertama kali oleh Nelepa (1918) dari koleksi ubijalar di Jawa. Tungau puru tersebut termasuk Klas: Arachnida, Ordo: Acarina, Famili: Eriophyiidae. Tungau puru berukuran sangat kecil dengan badan seperti cacing berukuran panjang antara 148−160 µm dan tebal 46 µm, sehingga sulit dilihat tanpa menggunakan kaca pembesar. Siklus hidup hama ini berupa telur, larva, nimfa, dan imago. Beberapa tungau dari beberapa stadia yang berbeda dapat hidup di dalam puru sehingga sulit dikendalikan. Hama tungau E. gastrotrichus berkembang pesat pertama kali di Filipina dan Papua New Gini, dan saat ini tungau telah menyebar di beberapa daerah baik di Jawa Timur maupun Jawa Tengah. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa hampir semua klon atau varietas ubi jalar yang ditanam dapat terserang tungau puru dengan tingkat keparahan yang berbeda (Indiati, 2011). Upaya pengendalian tungau puru dalam budidaya antara lain (1) menggunakan bahan tanam (stek) yang bebas puru, (2) pengendalian secara mekanis dengan memotong bagian tanaman yang terserang puru, (3) menjaga kebersihan lahan, dan (4) meminimalisir pertumbuhan gulma karena gulma dapat berperan sebagai inang.
KPS