Info Teknologi » Hubungan Morfologi Daun Dua Varietas Kedelai dan dengan Ketahanan terhadap Kutu Kebul

alfi_tk_1

Kutu kebul (Bemisia tabaci Gennadius) merupakan salah satu hama penting yang menyerang daun kedalai. Morfologi daun seperti bentuk daun, ketebalan daun, kerapatan stomata, kerapatan trikoma dan panjang trikoma berperan dalam menentukan ketahanan kedelai terhadap kutu kebul. Penelitian untuk menguji ketahanan dua varietas kedelai yaitu Anjasmoro dan Tanggamus terhadap kutu kebul telah dilakukan di Kebun Percobaan Muneng, Probolinggo, pada Musim Hujan tahun 2012. Populasi kutu kebul dipertanaman pada MH tahun 2012 relatif rendah berkisar antara 20 dan 54 ekor. Meskipun populasi kutu kebul yang meyerang varietas Anjasmoro dan Tanggamus tidak berbeda nyata namun kerusakan daun kedelai yang dicerminkan oleh intensitas serangan kutu kebul pada varietas Anjasmoro lebih tinggi dibanding Tanggamus (Gambar 1). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya perbedaan pada gen ketahanan antara kedua varietas dan kandungan asam amino esensial serta zat-zat kimia yang terdapat pada daun yang mempengaruhi tanggapan tanaman terutama daun terhadap serangan kutu kebul. Untuk itu diperlukan analisis kandungan kimia pada daun.
Gambar 1. Populasi dan intensitas serangan kutu kebul, MH I 2012, KP. Muneng, Probolinggo. Varietas Anjasmoro merupakan kedelai yang rentan terhadap kutu kebul. Pada serangan yang sangat parah, kutu kebul menyebabkan kerusakan daun mencapai 80% dan hanya mampu menghasilkan biji 0,15 t/ha dari potensi hasil 2,03-2,25 t/ha (Inayati dan Marwoto 2012). Tanggamus merupakan varietas kedelai toleran lahan kering masam dengan hasil rata-rata 1,22 t/ha dengan intensias serangan yang relatif rendah. Pengamatan terhadap morfologi daun yang dilakukan di Laboratorium Biologi, Universitas Brawijaya menunjukkan adanya perbedaan morfologi daun kedelai varietas Anjasmoro dengan Tanggamus seperti terlihat pada Tabel 1.

Ketebalan daun kedelai varietas Anjasmoro lebih besar dibanding Tanggamus. Ketebalan daun berhubungan dengan kedalaman floem yang merupakan sasaran dari kutu kebul. Kerapatan stomata pada varietas Anjasmoro dan Tanggamus tidak berbedanyata. Serangan kutu kebul dapat meningkatkan resistensi stomata dalam hal pertukaran gas, menghambat transpirasi dan laju fotosintesis serta mempengaruhi isi klorofil pada daun tomat ( Inbar & Gerling 2008). Daun dengan kerapatan stomata yang tinggi berpotensi mengalami penurunan hasil yang lebih besar pada kondisi serangan kutu kebul yang parah karena embun madu yang dihasilkan kutu kebul akan mengganggu proses transirasi dan laju fotosintesis pada tanaman. Pengamatan terhadap kerapatan trikoma meunjukkan kerapatan trikoma pada varietas Anjasmoro lebih rendah dibanding Tanggamus. Kerapatan trikoma berhubangan negatif dengan ketertarikan kutu kebul untuk meletakkan telurnya pada daun namun berhubungan positif dengan jumlah serangga hama yang terperangkap (Oriani & Vendrmim 2010). Kerapatan trikoma dilaporkan berkorelasi positif dengan kepadatan populasi hama namun pada daun dengan trikoma yang terlalu rapat yaitu 467-847 trikoma per cm2 pada kapas terjadi penurunan populasi kutu kebul (Naveed & Anjum 2011).

Gambar 2. (a) Kerapatan trikoma pada kedelai varietas Tanggamus, (b) Kerapatan trikoma pada kedelai varietas Anjasmoro, Bar
Preferensi kutu kebul untuk meletakkan telur dan tinggal kemungkinan dipengaruhi baik oleh karakter fisik maupun kimia pada daun (Mansaray & Sundufu 2007, Khan et al. 2011). Trikoma yang rapat menyebabkan nimfa sulit untuk berpindah dari posisinya saat menetas sehingga hanya terdistribusi secara vertikal pada permukaan daun dan telur banyak ditemukan pada daun yang tua. Pengamatan yang dilakukan terhadap jumlah telur, nimfa dan kutu kebul dewasa yang terdapat dipermukaan bawah daun pada 42 dan 49 HST menunjukkan pada varietas Anjasmoro yang mempunyai kerapatan trikoma relatif lebih rendah dan Tanggamus yang mempunyai kerapatan trikoma lebih tinggi tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Hanya ditemukan 2 telur, 1 nimfa dan 1 kutu kebul dewasa pada varietas Anjasmoro dan 1 telur, 6 nimfa dan 1 dewasa pada varietas Tanggamus. Trikoma penting sebagai sarana kolonisasi hama, membantu serangga hama untuk tetap berada dipermukaan daun, dan melindungi dari sapuan angin. Hasil pengamatan menunjukkan panjang trikoma variertas Anjasmoro yaitu 534,3 mm lebih besar dibanding Tanggamus (368,5 mm). Hal ini menunjukkan daun kedelai varietas Anjasmoro berpeluang lebih besar dbanding Tanggamus sebagai tempat yang sesuai untuk kutu kebul. Secara morfologi ternyata ketahanan varietas Tanggamus dan kerentanan varietas Anjasmoro dipengaruhi terutama oleh kerapatan trikoma, ketebalan daun dan panjang trikoma. Alfi Inayati, Disarikan dari Makalah Seminar Nasional Hasil Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbi, 2012, berjudul Hubungan Anatara Karakteristik Morfologi Daun Varieas Kedelai dengan Ketahanan Terhadap Kutu Kebul.